Minggu, 16 Februari 2014

Menyikapi Bonus Demografi

                     Menyikapi Bonus Demografi

Abraham Fanggidae  ;   Widyaiswara Utama Pusdiklat Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial, Jakarta
KORAN JAKARTA,  15 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                      
Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, memaparkan berdasarkan hasil dari proyeksi penduduk antara 2010 dan 2035, Indonesia sudah memasuki periode bonus demografi (BD). 

Indonesia sebenarnya sudah memasuki periode BD sejak 2012, ketika rasio kebergantungan di bawah 50 persen.  Pada 2010, rasio kebergantungan di Indonesia sudah mencapai 50,5, dan setiap 100 pekerja menanggung 50,5 penduduk nonproduktif. Usia nonproduktif di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun. 

BD dikaitkan dengan usia kerja  Indonesia kini memasuki masa penduduk usia produktifnya terus meningkat BD harus dipersiapkan melalui investasi di bidang kesehatan, pendidikan, tenaga kerja, kependudukan, keluarga berencana, dan ekonomi. 

Ini merupakan dampak jangka panjang program KB nasional sejak tahun 1970-an  Substansi BD, pertambahan penduduk akan bermanfaat bagi negeri  Apabila rata-rata kualitas penduduk meningkat, sumber daya alam (SDA) akan digali dan diolah demi kesejahteraan bangsa.  

Di Tangan Sendiri

Pada titik ini, harapan Indonesia ke depan berada dalam tangan bangsa sendiri, bukan seperti sekarang masih diintervensi, dipengaruhi, bahkan didikte bangsa lain yang bermodal dan berteknologi canggih. 

Modal dan teknologi diperlukan dari luar, tetapi tentu saja harus berdampak positip untuk menyejahterakan seluruh bangsa bergantung pada kualitas SDM. 
Manusia merupakan titik sentral pembangunan, tetapi juga sebagai subjek  Tiada faktor produksi yang lebih utama dan penting ketimbang SDM bangsa sendiri yang kritis kreatif, dan produktif yang menjamin mereduksi kebergantungan penduduk usia muda pada kaum dewasa seperti sekarang. 

Apalagi bila penduduk usia kerja memiliki pengetahuan dan keterampilan tinggi, makin banyak anggota keluarga bekerja dan memperoleh penghasilan sehingga sejahtera.  
Pemerintah bertanggung jawab menyiapkan SDM berkualitas  Ini bukan pekerjaan ringan, memerlukan proses pendidikan dan latihan generasi muda sejak dari rumah  Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama membentuk karakter dan moral SDM  Negara dan masyarakat menyediakan pendidikan berkualitas.  

Realita di lapangan memperlihatkan proses kebangkitan dan kemajuan pendidikan makin maju, hanya belum merata, sehingga transfer teknologi berjalan pincang  Contoh, penguasaan teknologi canggih masih jauh dari jangkauan generasi muda di perdesaan. 

Disparitas pengenalan, pengetahuan, dan penguasaan iptek generasi muda perdesaan dan perkotaan besar  Kesenjangan ini harus segera ditutupi  BD memberi tambahan penduduk secara keseluruhan baik di perdesaan maupun perkotaan  Idealnya, semua generasi menikmati kemajuan iptek.  

Output pendidikan harus sejalan dengan permintaan lapangan pekerjaan agar terserap  Dukungan dana memajukan sektor pendidikan bertambah siginifikan karena pemerintah berkomitmen memajukan pendidikan formal  Penggelontoran anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN seharusnya memampukan pemerataan proses pendidikan dan penguasaan iptek.  

Tak boleh ada anak ditinggalkan dalam program wajib belajar 12 tahun  Semua anak berhak memperoleh pendidikan berkualitas  Indonesia berpenduduk kelima terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Rusia  Peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM/HDI), Indonesia jauh tertinggal, 121 dari 187 negara, juga dari empat negara lain yang terbesar populasinya  IPM rendah berroduktivitas minim, sehingga perekonomian jauh tertinggal.  

IPM Jepang, Jerman, Inggris, serta negara-negara Skandinavia, berperingkat di bawah 50 dari 187 negara  Padahal, negara-negara tersebut relatif "miskin" sumber daya alam  Mereka berpenduduk di bawah 100 juta–150 juta  Australia berpenduduk kurang dari 25 juta jiwa  Mereka maju karena penduduknya berkualitas. 

Kualitas rendah berdampak SDM yang memasuki usia kerja dan produktif tidak terserap lapangan pekerjaan  Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tahun 2010 ada 4,2 juta pencari kerja, sementara lowongan yang tersedia hanya 2,3 juta, terisi 1,6 juta.  

Indonesia masih kekurangan sekitar 700 ribu tenaga terampil  Tetapi pada saat sama, ratusan ribu penduduk usia kerja lulusan sekolah menengah menganggur  Inilah anomali ketenagakerjaan dan tanpa solusi memadai  Emil Salim cemas karena penduduk usia produktif tidak berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar