Kekerasan dalam Label
Librisida
Munawir Aziz ; Alumnus Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada,
Direktur
Riset the North Coast Center (NCC) STAI Mathali'ul Falah Pati
|
SUARA
MERDEKA, 12 Februari 2014
|
INDONESIA masih belum aman dari
aksi kekerasan atas nama agama. Kabar menyedihkan datang dari Surabaya. Pada
Jumat (7/2/14), sekelompok orang yang mengatasnamakan anggota ormas Islam
mengepung gedung Perpustakaan C20 Surabaya.
Mereka menghentikan agenda
bedah buku karya Harry A Poeze, Tan
Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (edisi 4, Penerbit Obor).
Pelarangan diskusi buku juga terjadi pada pertengahan 2012 ketika Irshad
Manji mengunjungi Indonesia untuk membahas karyanya di Gedung Salihara
Jakarta dan Yayasan LKiS Yogyakarta.
Sekelompok orang atas nama
ormas Islam menghentikan paksa diskusi buku Manji di kantor LKiS Yogyakarta.
Tragedi yang terjadi di Perpustakaan C2O merupakan kisah pembantaian buku.
Kisah-kisah mengenai librisida merupakan catatan hitam dalam rangkaian
peradaban manusia.
Fernando Baez dalam A Universal History of the Destruction of
Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (2008) menyebut tentang
librisida sebagai noktah peradaban.
Baez melacak muasal pembantaian
buku dalam sejarah umat manusia, yang didorong oleh nalar kuasa dan
vandalisme. Sejarah pembantaian buku dalam peradaban bangsa Sumeria terjadi
pada 4100-3300 SM. Ketika kekuasaan Saddam Husein runtuh dan situasi politik
kacau, buku juga dibantai oleh tangan-tangan yang merusak pengetahuan.
Lebih dari 1 juta buku di National Library of Bagdad, dibakar
dan dilenyapkan pada kisaran 9-10 April 2003. Senarai kisah pembantaian buku
juga melingkupi historiografi Indonesia.
Kisah pelarangan buku senapas
dengan kolonisasi pengetahuan dan aksi aktivis kemerdekaan. Buku karya Mas
Marco Kartodikromo, Student Hidjo, menjadi salah satu buku yang dibantai oleh
rezim kolonial Belanda di negeri ini.
Selanjutnya, setelah
kemerdekaan diproklamasikan, pembantaian buku juga tak berhenti. Buku-buku
karya Pramoedya Ananta Toer diasingkan dari pembaca, dijarah, dibakar dan
dikubur oleh kekuasaan Orde Baru. Akibatnya, puluhan karya sastra Pram hilang
tak berbekas.
Fobia Komunisme
Aksi pembantaian buku sering didasari
oleh nalar kuasa dan pertarungan ideologi. Hal ini yang juga menjadi alasan
pembatalan diskusi buku di Perpustakaan C2O Surabaya. Salah satu pimpinan
ormas Islam itu mengungkapkan bahwa agenda bedah buku tersebut tidak boleh
dilaksanakan mengingat Tan Malaka adalah tokoh PKI yang harus dihilangkan
dari negeri ini.
Tentu alasan ini menjadi aneh
ketika menautkan Tan Malaka dan sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI).
Padahal Tan Malaka sejatinya adalah muslim yang bergerak untuk memperjuangkan
revolusi Indonesia.
Dalam sejarahnya, Tan Malaka
justru tersingkir dari narasi besar komunisme dan perjuangan politik di
Indonesia. Kontribusinya dalam membantu proses kemerdekaan tidak bisa
dianggap enteng. Dialah tokoh penting dalam gerakan revolusi pada paruh pertama
abad XX. Dalam karyanya, Islam dalam Tinjauan Madilog, Tan Malaka menyebut
tentang pentingnya Islam sebagai fondasi gerakan dan cara pandang.
Pengalaman masa kecilnya,
ketika belajar mengenai Islam, menjadi ”nyawa” buku dan inspirasi ide-idenya
pada kemudian hari. Pengalaman personal mendalami Islam, merupakan modal
utama mimpinya untuk menyandingkan nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip
pemikiran besar dunia. Tentu saja, menautkan Tan Malaka sebagai tokoh PKI
semata, menjadi timpang.
Sebetulnya, dalam konteks ini
yang muncul adalah fobia komunisme. Nalar di balik fobia komunisme adalah
kampanye politik yang didengungkan rezim Orde Baru.
Lebih dari tiga dasawarsa,
pemerintahan Soeharto menciptakan versi peristiwa 30 September 1965, sebagai
misi politik dan pengetahuan. Sejarah kabur atas tragedi 1965 membentuk opini
negatif tentang peran PKI dan komunisme. Konstruksi pengetahuan dengan motif
kekuasaan menjadikan publikasi tentang peristiwa 1965 tidak seimbang, baik
melalui buku, poster maupun film.
Akhirnya, warga negeri ini
memiliki memori yang samar-samar tentang PKI dan komunisme. Kerangka sejarah
itulah yang menjadi tulang punggung kehadiran fobia terhadap komunisme dan
PKI. Terminologi komunis selanjutnya menjadi stempel untuk melarang dan menyerang
ideologi atas nama kekuasaan.
Pelarangan diskusi buku karya
Harry A Poeze di Perpustakaan C20 Surabaya, bergerak pada nalar kacau tentang
komunisme. Sudah seharusnya kita kembali membaca PKI dan komunisme dalam
narasi lebih jernih. Fobia komunisme harus diganti dengan analisis sejarah
pengetahuan yang lebih proporsional.
Pembantaian buku sejatinya
menjadi tragedi peradaban, dan fobia komunisme juga bagian dari kisah tragis
tersebut. Harus ada ruang untuk persemaian diskusi buku dan pengembangan
pengetahuan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar