Kamis, 13 Februari 2014

Kekerasan dalam Label Librisida

                 Kekerasan dalam Label Librisida

 Munawir Aziz   ;   Alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
Direktur Riset the North Coast Center (NCC) STAI Mathali'ul Falah Pati
SUARA MERDEKA,  12 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
INDONESIA masih belum aman dari aksi kekerasan atas nama agama. Kabar menyedihkan datang dari Surabaya. Pada Jumat (7/2/14), sekelompok orang yang mengatasnamakan anggota ormas Islam mengepung gedung Perpustakaan C20 Surabaya.

Mereka menghentikan agenda bedah buku karya Harry A Poeze, Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (edisi 4, Penerbit Obor). Pelarangan diskusi buku juga terjadi pada pertengahan 2012 ketika Irshad Manji mengunjungi Indonesia untuk membahas karyanya di Gedung Salihara Jakarta dan Yayasan LKiS Yogyakarta.

Sekelompok orang atas nama ormas Islam menghentikan paksa diskusi buku Manji di kantor LKiS Yogyakarta. Tragedi yang terjadi di Perpustakaan C2O merupakan kisah pembantaian buku. Kisah-kisah mengenai librisida merupakan catatan hitam dalam rangkaian peradaban manusia.

Fernando Baez dalam A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (2008) menyebut tentang librisida sebagai noktah peradaban.

Baez melacak muasal pembantaian buku dalam sejarah umat manusia, yang didorong oleh nalar kuasa dan vandalisme. Sejarah pembantaian buku dalam peradaban bangsa Sumeria terjadi pada 4100-3300 SM. Ketika kekuasaan Saddam Husein runtuh dan situasi politik kacau, buku juga dibantai oleh tangan-tangan yang merusak pengetahuan.

Lebih dari 1 juta buku di National Library of Bagdad, dibakar dan dilenyapkan pada kisaran 9-10 April 2003. Senarai kisah pembantaian buku juga melingkupi historiografi Indonesia.

Kisah pelarangan buku senapas dengan kolonisasi pengetahuan dan aksi aktivis kemerdekaan. Buku karya Mas Marco Kartodikromo, Student Hidjo, menjadi salah satu buku yang dibantai oleh rezim kolonial Belanda di negeri ini.

Selanjutnya, setelah kemerdekaan diproklamasikan, pembantaian buku juga tak berhenti. Buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer diasingkan dari pembaca, dijarah, dibakar dan dikubur oleh kekuasaan Orde Baru. Akibatnya, puluhan karya sastra Pram hilang tak berbekas.

Fobia Komunisme

Aksi pembantaian buku sering didasari oleh nalar kuasa dan pertarungan ideologi. Hal ini yang juga menjadi alasan pembatalan diskusi buku di Perpustakaan C2O Surabaya. Salah satu pimpinan ormas Islam itu mengungkapkan bahwa agenda bedah buku tersebut tidak boleh dilaksanakan mengingat Tan Malaka adalah tokoh PKI yang harus dihilangkan dari negeri ini.

Tentu alasan ini menjadi aneh ketika menautkan Tan Malaka dan sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal Tan Malaka sejatinya adalah muslim yang bergerak untuk memperjuangkan revolusi Indonesia.

Dalam sejarahnya, Tan Malaka justru tersingkir dari narasi besar komunisme dan perjuangan politik di Indonesia. Kontribusinya dalam membantu proses kemerdekaan tidak bisa dianggap enteng. Dialah tokoh penting dalam gerakan revolusi pada paruh pertama abad XX. Dalam karyanya, Islam dalam Tinjauan Madilog, Tan Malaka menyebut tentang pentingnya Islam sebagai fondasi gerakan dan cara pandang.

Pengalaman masa kecilnya, ketika belajar mengenai Islam, menjadi ”nyawa” buku dan inspirasi ide-idenya pada kemudian hari. Pengalaman personal mendalami Islam, merupakan modal utama mimpinya untuk menyandingkan nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip pemikiran besar dunia. Tentu saja, menautkan Tan Malaka sebagai tokoh PKI semata, menjadi timpang.

Sebetulnya, dalam konteks ini yang muncul adalah fobia komunisme. Nalar di balik fobia komunisme adalah kampanye politik yang didengungkan rezim Orde Baru.
Lebih dari tiga dasawarsa, pemerintahan Soeharto menciptakan versi peristiwa 30 September 1965, sebagai misi politik dan pengetahuan. Sejarah kabur atas tragedi 1965 membentuk opini negatif tentang peran PKI dan komunisme. Konstruksi pengetahuan dengan motif kekuasaan menjadikan publikasi tentang peristiwa 1965 tidak seimbang, baik melalui buku, poster maupun film.

Akhirnya, warga negeri ini memiliki memori yang samar-samar tentang PKI dan komunisme. Kerangka sejarah itulah yang menjadi tulang punggung kehadiran fobia terhadap komunisme dan PKI. Terminologi komunis selanjutnya menjadi stempel untuk melarang dan menyerang ideologi atas nama kekuasaan.

Pelarangan diskusi buku karya Harry A Poeze di Perpustakaan C20 Surabaya, bergerak pada nalar kacau tentang komunisme. Sudah seharusnya kita kembali membaca PKI dan komunisme dalam narasi lebih jernih. Fobia komunisme harus diganti dengan analisis sejarah pengetahuan yang lebih proporsional.

Pembantaian buku sejatinya menjadi tragedi peradaban, dan fobia komunisme juga bagian dari kisah tragis tersebut. Harus ada ruang untuk persemaian diskusi buku dan pengembangan pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar