Implementasi
Kurikulum 2013
Kebijakan
Multisasaran (2)
Musliar
Karim ; Wakil Mendikbud Bidang Pendidikan
|
MEDIA
INDONESIA, 17 Februari 2014
|
“Orang bijak mengatakan ketika pintu
kelas ditutup, peserta didik sepenuhnya ada di tangan sang guru. Kita harus
memastikan di dalam ruang kelas dengan pintu tertutup tersebut, peserta didik
memperoleh yang terbaik.”
KEBIJAKAN terakhir
ialah penyebaran petugas peman tauan independen untuk mengevaluasi kesesuaian
antara pelaksanaan kurikulum di lapangan dan rancangan kurikulum. Pemahaman
pemangku-kepentingan terhadap kandungan dan fisik buku serta pelatihan,
pendampingan, dan pemahaman guru ditangkap melalui wawancara dan pantauan
langsung di lapangan.
Hasilnya dipergunakan
sebagai umpan balik untuk memperbaiki kekurangan implementasi. Semuanya itu
dilakukan demi memastikan peserta didik memperoleh yang terbaik sebagaimana
diidamkan dalam perumusan kurikulum 2013.
Optimalisasi kreativitas
Usaha memberikan yang
terbaik bagi peserta didik, melalui kebijakan buku dan guru, selama ini tidak
diterima dengan tangan terbuka dan apresiasi tinggi. Masih ada saja yang
berpikiran lain, dan melihatnya dari sudut pandang berbeda, yaitu kreativitas
guru. Secara ekstrem ada yang menuduhkan kurikulum 2013 ialah kemunduran
besar karena mengembalikan konsep pembelajaran menjadi sentralistis tanpa
memberi kebebasan bagi guru untuk berkreasi dalam melaksanakan pembelajaran.
Bantahan terhadap
tuduhan semacam itu sebenarnya jelas dari konsep kurikulum 2013 itu sendiri,
rumusan kompetensi lulusan, dan rumusan proses pembelajarannya. Kurikulum
2013 menekankan pada pembelajaran berbasis aktivitas dengan mengajak siswa
untuk aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian,
pembelajarannya melalui pendekatan transdisipliner yang mengaitkan konteks
dan kandungan (content) pembelajaran.
Tuntutan kontekstual itu mengharuskan guru untuk menyesuaikan kandungan
pembelajaran yang ada di buku dengan konteks lingkungan tempat pembelajaran
tersebut dilaksanakan. Kreativitas guru justru dituntut untuk melakukan
penyesuaian kontekstual semacam ini.
Pembelajaran menurut
kurikulum 2013 juga menuntut guru menyiapkan bukan hanya model pembelajaran
normal atau standar seperti yang ada pada buku teks pelajaran, melainkan juga
model pembelajaran remedial bagi peserta didik yang masih belum memahami
kandungan pembelajaran tertentu. Pada titik ini juga diperlukan kreativitas
guru untuk dapat menjelaskan kandungan yang sama dengan cara berbeda. Bagi
peserta didik yang terlalu cepat, perlu dipersiapkan kandungan pembelajaran
pengayaan yang menantang mereka untuk memahami kandungan yang lebih luas dan
lebih dalam. Sekali lagi kreativitas guru justru dituntut untuk membuat
variasi pembelajaran sesuai dengan konteks peserta didiknya.
Selain itu, kompetensi
lulusan jenjang SMP/sederajat menuntut peserta didik memahami apa yang dipelajari
di sekolah dan dari sumber lain sejenis. Bagi jenjang pendidikan menengah
(SMA/SMK/ sederajat), kompetensi lulusan menuntut peserta didik mampu
mengembangkan yang dipelajari di sekolah dan dari sumber lain dengan sudut
pandang berbeda. Sumber lain yang dimaksud di sini bukan terbatas pada buku,
melainkan bisa berbentuk media cetak lainnya, media elektronik, bahkan
langsung dari lingkungan sosial dan alam sekitar. Guru dituntut untuk mampu
mengarahkan peserta didik mencari sumber lain untuk memperkuat pemahamannya.
Kreativitas guru
sangat diperlukan dalam menyusun komposisi pembelajaran yang tepat, demi
memaksimalkan kompetensi peserta didik. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang
disusun guru harus memasukkan semua tuntutan di atas; konteks lingkung an
sekitar, konteks kesiapan peserta didik, dan integrasi sumber lain, sehingga
model pembelajaran akan berbeda dari rombongan belajar yang satu dengan
rombongan belajar yang lain, sesuai dengan kreativitas guru dan kebutuhan
peserta didik.
Orang bijak mengatakan
ketika pintu kelas ditutup, peserta didik sepenuhnya ada di tangan sang guru.
Kita harus memastikan di dalam ruang kelas dengan pintu tertutup tersebut,
peserta didik memperoleh yang terbaik. Kreativitas guru diperlukan untuk
memahami situasi dan kondisi kelas dan menyusun apa yang disampaikan di depan
kelas, agar relevan dengan apa yang dialami/dilihat/ dirasakan peserta didik
pada saat di luar kelas, relevan dengan kemampuan peserta didik dalam
mencerna kandungan pembelajaran, dan relevan dengan tuntutan kompetensi
peserta didik dalam men jalani kehidupan yang lebih baik setelah lulus nanti.
Meminimalkan beban
Kreativitas semacam
itu ialah yang paling sulit bagi guru dan yang paling bermanfaat bagi peserta
didik. Harus dipastikan guru memiliki waktu cukup untuk berkreasi karena
waktu untuk kegiatan kreatif ialah sisa waktu setelah tersita oleh kegiatan
rutin. Mengingat daya kreativitas berbanding lurus dengan waktu yang tersedia
untuk merenung dan memikir, beban berpikir guru dalam pelaksanaan
pembelajaran harus diminimalkan.
Penyediaan buku teks,
buku pedoman guru, pelatihan terarah, dan pendampingan ialah usaha-usaha yang
dilakukan untuk meminimalkan beban guru dalam pelaksanaan pembelajaran
berbasis kurikulum 2013. Dengan demikian, kreativitas guru dapat
dioptimalkan.
Kebijakan implementasi
kurikulum 2013 bertujuan memaksimalkan perolehan peserta didik dari proses
pembelajaran melalui meminimalkan penyimpangan pemahaman (efektivitas). Kebijakan
yang sama juga sekaligus meminimalkan beban guru dalam beradaptasi terhadap
kurikulum baru dan dalam memahami kandungan kurikulum 2013 (efisiensi).
Pada saat yang
bersamaan, kebijakan itu mengoptimalkan potensi guru untuk kreatif pada arah
yang tepat demi memaksimalkan perolehan peserta didik. Sungguh suatu
kebijakan publik yang ideal. Semoga
tulisan itu bermanfaat bagi kita dalam memahami kurikulum 2013 lebih baik. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar