Sabtu, 01 November 2014

Sulitnya Mencari dan Menemukan Guru Bangsa

Sulitnya Mencari dan Menemukan Guru Bangsa

Ahmad Baedowi  ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 27 Oktober 2014
                                                
                                                                                                                       


“I am a teacher who favors the permanent struggle against every form of bigotry and against the economic domination of individuals and social classes.I am a teacher who rejects the present system of capitalism, responsible for the aberration of misery in the midst of plenty. I am a teacher full of the spirit of hope, in spite of all the signs to the contrary.“(Paulo Freire: Pedagogy of Freedom, 1998)

KUTIPAN dari Freire di atas seolah mene gaskan posisi guru itu teramat penting secara spiritual, tidak hanya terbatas pada ruang kelas.Guru dalam pandangan Freire harus memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap tatanan sosial sehingga dia bisa membebaskan para siswanya dari pandangan yang sempit dan gelap. Kata guru juga seolah ingin menegaskan arti sesungguhnya tentang keteladanan dan keikhlasan, sesuatu yang sangat sumir dan hampir tak terlihat dari perilaku para tokoh bangsa akhir-akhir ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru memang diartikan dengan beragam makna, dari yang sempit hingga luas.Secara sempit, guru ialah seseorang yang berprofesi mengajar. Jika mengajar dimaknai secara luas, makna `guru' juga dapat disimpulkan memiliki arti seseorang atau sesuatu yang dijadikan pedoman. Tampaknya `guru bangsa' mengacu kepada makna tersebut, yaitu seseorang yang bisa dijadikan pedoman atau teladan dalam hidup berbangsa. Pertanyaannya, siapa sosok yang patut kita jadikan guru bangsa saat ini jika kita tak menemukan keteladanan di dalamnya?

Para penguasa bangsa hari ini ialah para politikus yang berasal dari beragam partai politik yang jauh dari menunjukkan keteladanan dalam kehidupan berbangsa. Mereka seolah tak memiliki padanan moral ketika secara kasatmata rela mempertontonkan kerasukan dalam mengejar kekuasaan. Jelas sekali para siswa kita sedang memperoleh keteladanan yang buruk dari para politikus tentang makna kekuasaan yang mengedepankan nilai-nilai keserakahan dan dendam.

Jika kita masih memercayai makna guru sebagai sesuatu yang sangat mulia, kebutuhan untuk menemukan sosok guru bangsa ialah imperatif. Guru bangsa yang kita maksudkan tentunya tak terlepas dari makna yang mulia, yaitu yang mampu memberi teladan pada kebaikan akan hajat hidup orang banyak. Guru bangsa yang kita idamkan hari ini ialah orang dengan kemampuan spiritual luar biasa yang dapat memberikan harapan akan kehidupan yang lebih baik dan mengantarkan orang lain menuju kesuksesan secara duniawi dan ukhrowi.

Sulitnya menemukan guru bangsa juga berkorelasi positif terhadap proses pendidikan yang sudah kita lalui selama lebih kurang empat dekade. Saya curiga jangan-jangan tujuan pendidikan kita selama ini menjadi salah satu alasan sulitnya menemukan orang yang memiliki jiwa keteladanan yang luar biasa. Jika kita survei secara kasar, hampir setiap siswa yang ditanya soal kesuksesan selalu mengatakan hal-hal yang bersifat kebendaan. Hal itu tak aneh karena sistem pendidikan di negara kita terlalu berorientasi kepada hasil yang bersifat fisik. Ijazah atau kelulusan, kesempatan dalam bekerja, memperoleh kedudukan, ialah di antara fakta-fakta yang ada di sebagian besar kepala siswa kita.

Pendidikan yang berorientasi pada hasil hampir dapat dipastikan akan menciptakan manusia-manusia yang pasif dan kering secara spiritual. Mereka bisa memperoleh kesuksesan, tetapi sangat boleh jadi tak memperoleh kebahagiaan secara hakiki. Kebahagiaan hakiki hanya akan diperoleh setiap anak jika proses belajarmengajar dimaknai dan dijalankan sebagai eksplorasi atas nilai-nilai kehidupan yang mulia.

Dengan mengikuti logika Maslow, pendidikan yang berorientasi kepada hasil sesungguhnya hanya akan memperoleh kepuasan tingkat fisiologis semata, tetapi akan sulit untuk memperoleh kasih sayang dan rasa memiliki yang tinggi terhadap kehidupan ini. Penghargaan yang tinggi terhadap kehidupan hanya bisa diperoleh dengan memberikan siswa sebanyak mungkin pengalaman berinteraksi secara langsung kepada lingkungan sosial tempat mereka berada.

Menurut teori fisiologi, semua tindakan manusia itu berasal dari usaha yang memenuhi kepuasan dan kebutuhan organik atau kebutuhan fisik semata. Padahal, kebutuhan siswa tak hanya soal materi semata, tetapi juga berkaitan dengan pengembangan rasa yang sangat bersifat personal. Proses pendidikan kita yang terlalu menekankan perkembangan kognitif jelas berbuah panjang hingga saat ini. Orientasi kepada hasil yang ditandai dengan nilai ujian seakan harga mati dan selalu tak berbanding lurus dengan pengembangan kapasitas emosi siswa. Akibatnya anak-anak memiliki bias pikir dan bias rasa yang tak seimbang, dan itu menyebabkan perilaku aneh dan menyimpang kerap kita temukan di kalangan anakanak sekolah, seperti kasus kekerasan.

Ketidakseimbangan

Proses pendidikan yang tak seimbang antara pikir dan rasa inilah salah satu ujung petaka kemanusiaan di Indonesia.Adagium tradisi dan budaya yang kerap menyebut masyarakat Indonesia hidup hormat-menghormati seakan pupus oleh begitu banyaknya penyimpangan perilaku tak berke adaban seperti tawuran, dan yang lebih parah dinodai pula dengan prasangka atas nama agama dan suku bangsa.

Jelas sistem pendidikan kita memerlukan road-map baru dalam menggagas tema karakter santun, ramah, dan saling menghargai. Mungkin baik untuk menimbang komposisi kurikulum pendidikan kita yang lebih berorientasi kognitif ke arah yang ramah afektif dan psikomotorik. Dalam praktiknya, antara mata ajar sains, sosial sains, humaniora, dan seni-budaya harus proporsional diajarkan, baik dari aspek durasi maupun substansi. Kurangnya mata ajar humaniora dan seni-budaya di sekolah, menurut beberapa temuan riset, rentan menjadikan anakanak berperilaku menyimpang di tengah masyarakat.

Profesor Antonio Damasio (2006) menyebutkan hari ini pada sistem pendidikan hampir di seluruh belahan dunia tumbuh pembedaan yang sangat signifikan antara proses pembelajaran yang berorientasi kognitif dan emosional. Penyelaman empati dan rasa tak memperoleh porsi yang jelas dalam struktur pendidikan kita sehingga anak-anak kita cenderung dididik untuk menjadi semacam robot yang minim rasa. Dalam pandangan Damasio, durasi dan substansi pendidikan seni-budaya dan humaniora seharusnya diseimbangkan untuk dan dalam rangka menumbuhkan elan vital kemanusiaan manusia, yaitu emosi dan spiritualitas yang menyatu dalam pikir dan perilaku. Minimnya durasi dan substansi proses pembelajaran yang mengasah rasa inilah yang salah satunya menyebabkan menurunnya moralitas masyarakat modern.

Menyeimbangkan pikir dan rasa dalam praktik pasti akan menumbuhkan sifat menghargai satu dengan yang lain, dan kondisi itu sejalan dengan fakta betapa majemuknya masyarakat Indonesia.

Hans-Peter Becker dalam Unleash the Secret of Education and Learn How to Raise a Happy Child (2012) menemukan hal menarik bagaimana kita dapat menuntut anak meraih kesuksesan secara seimbang, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Caranya, biarkan anak belajar sambil mendengarkan musik atau jadikan aktivitas menyanyi menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar-mengajar yang terjadi setiap hari, baik di ruang kelas, sekolah, rumah, atau di mana saja ketika anak ingin belajar.Kombinasi pikir dan rasa yang efektif akan melahirkan arti dan nilai (meaning and value) yang berkelanjutan dalam perilaku siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar