Kamis, 13 November 2014

Pendidikan (Tanpa) Beretika

Pendidikan (Tanpa) Beretika

Arifandi Pakih Sati  ;  Studi Pascasarjana Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga
HALUAN, 12 November 2014
                                                
                                                                                                                       


‘Manusia itu tidak akan menjadi ma­nusia yang hakiki, kecuali dengan pen­didikan.” Itulah kata Mu­hammad Abduh.

Tidak ada yang memungkiri bahwa pendidikan itu penting untuk membentuk manusia, termasuk di Indonesia ini. Masalahnya, dari ta­hun ke tahun, produk yang dihasilkan oleh pendidikan Indonesia, masih perlu diper­tanyakan. Anda tentu masih ingat dengan kasus bully yang terjadi di sekolah dasar di Sumatera Barat. Anda tentu tidak akan lupa de­ngan tawuran-tawuran yang dila­kukan oleh para pelajar di Jakar­ta dan berbagai dae­rah lainnya.

Kemudian, Anda juga mung­­­kin pernah menyaksikan sebuah photo yang beredar luas di dunia maya, dimana guru sedang mengajar di depan kelas (sepertinya se­ting­kat SMA), ke­mu­­dian para mu­ridnya asyik dengan kegia­tannya masing-ma­sing. Ada yang tiduran, ada yang main smar­t­phone, dan ada yang leyeh-leyeh, tanpa mem­perhatikan sama sekali pe­nyampaian gurunya.

Dan belum lama ini, ter­sebar berita di dunia maya di ber­­bagai media on­line tentang beberapa anak perempuan berjilbab yang pesta miras dan merokok di dalam angkot, yang di bagian bela­kang angle photonya ada tu­lisan tauhid (laa ilaha illallah). Jika­lau diruntut lebih jauh, tentu masalah dan kasus produk pendidikan Indonesia ini, lebih banyak lagi.

Pendidikan yang berjalan di negeri ini belum mampu membuat anak-anaknya menja­di manusia dalam artian yang sebenarnya, yang mengenal ilmu dengan baik namun dengan etika yang tinggi. Malahan, semakin “bergengsi” nama kurikulum yang dia­jarkan, anak-anaknya semakin kehilangan etikanya.

Guru yang dalam kese­hariannya dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa, tidak lagi mendapatkan peng­hormatan selayaknya dari para muridnya. Bahkan, kerapkali diremehkan dan diacuhkannya, layaknya pembantu yang dibayar tiap bulannya oleh majikannya. Mereka tidak lagi memposisikan guru itu sebagai insan yang mulia, yang layak mendapatkan segala bentuk penghormatan karena ilmu yang dimilikinya.

Jikalau diflash back ke zaman dahulu, ditengah keter­batasan sarana-sarana pen­didikan, orang-orang tetap memposisikan guru dengan posisi yang terhormat. Jikalau bertemu, disapa. Jikalau sakit, dibezuk. Bahkan, jikalau ia marah, maka para murid akan menerimanya dan tidak berani membantahnya.

Sekarang, justru sebaliknya, jikalau seorang murid bertemu dengan gurunya di jalan, maka ia mengabaikannya saja seolah-olah tidak kenal. Bahkan, tidak ada lagi rasa segan kepada gurunya. Jikalau ada rokok, maka ia akan mengeluarkannya dan sengaja menya­lakannya di hadapan kedua mata gurunya. Jikalau anak ini dinasehati atau diberikan sedikit “pelajaran”, maka Hak Azazi Manusia (HAM) akan lansung dijadikan tameng.

Membentuk Manusia Indonesia Beretika

Kata Muhammad Quthb, pendidikan adalah Fann Tasykil al-Insan (seni membentuk manusia). Yah, ia adalah seni bagaimana membentuk ma­nusia yang baik dan beretika, berilmu namun beradab.

Dalam konteks ke In­donesiaan, gagalnya pendidikan etika ini, saya rasa bisa dilihat dilihat dari dua sisi:

Pertama, Penga­jarnya. Saya tidak meragui ada guru yang ikhlas men­didik anak-anaknya, dan kenyataannya guru seperti inilah yang berhasil membuat anak mu­ridnya menjadi sosok yang sukses di masa depan. Na­mun, ada juga guru yang mengajar itu hanya untuk mengejar materi belaka. Baginya, yang penting pela­jaran tersampaikan, dite­rima atau tidak diserahkan kepada para muridnya. 
Tidak ada ketulusan agar para muridnya menjadi manusia yang sukses dan beretika. Ia hanya men­transfer ilmu (Transfer of Knowledge) namun tidak mentransfer etika dan kepri­badian (transfer of personality).

Kesejahteraan guru itu penting, dan ini adalah tugas pemerintah untuk memperha­tikannya. Namun, jangan sampai masalah ini merusak ketul­usan seorang guru men­­­­ja­­­­lan­kan kewajibannya kepada para muridnya.

Kedua, Lingkungan. Kata Ibn Khaldun, “ar-Rajulu Ibn Biatihi (seseorang itu anak lingkungannya). Lingkungan yang didiami oleh seorang anak harus diperhatikan dengan baik. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak beretika, walaupun gurunya sudah berca­pek-lelah mengajarkan etika, maka ia tidak akan mampu be­retika dengan baik. Namun, jikalau ling­kungannya baik, walaupun gurunya tidak begitu baik me­ngajarkan etika, maka ia tetap akan tampil dengan etika yang mulia.

Media juga harus diper­hatikan. Di za­man yang serba cang­gih ini, berbagai tontonan dan video tidak layak, ba­nyak ditonton oleh anak-anak yang belum layak untuk me­non­tonnya. Tayangan-tayangan itu bu­kannya mendidik para penon­tonnya menjadi sosok yang lebih baik, baik dari segi ilmu maupun dari segi etika, malah mem­buatnya sema­kin buruk.

Jikalau Anda meng­­hidupkan te­levisi, ke­mudian Anda men­dapati tayangan kekerasan dan se­jenisnya yang tidak layak diton­ton, maka matikan saja. Anda tidak usah menon­tonnya. Jangan merusak pikiran kelua­rga Anda dan anak-anak Anda dengan ton­tonan seperti itu.

Inilah yang harus di­re­nungkan dalam kehidupan berbangsa.  Generasi muda harus diselamatkan. Mereka adalah asset masa depan bangsa. Jikalau mereka tum­buh dengan keadaan yang tidak mengenal etika, maka lama-kelamaan bangsa ini akan berubah menjadi bangsa yang “bejat”. Ya, bangsa yang “bejat”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar