Metafora
Burung Garuda Istana Negara Putu Fajar Arcana ; Wartawan
Kompas |
KOMPAS,
14 April
2021
Nyoman Nuarta tak bisa lepas dari sosok
penting I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978) dan Ida Bagus Tugur (1926-2020).
Kedua pendahulunya itu adalah para seniman sejati dengan karya-karya ikonik
berupa patung, lukisan, dan bangunan. Lempad dan Tugur lebih dikenal sebagai
seorang undagi (seniman) ketimbang seorang arsitek. Secara kebetulan, keduanya
tidak memiliki pendidikan formal kearsitekturan. Jika Tugur seorang guru seni
rupa dan dosen luar biasa arsitektur di Universitas Udayana, Lempad hanyalah
seorang pengabdi Tuhan yang buta huruf. Meski beda pendidikannya seperti bumi dan
langit, keduanya diakui dunia sebagai seniman dan arsitek paling mumpuni
dalam sejarah Bali. Belakangan Lempad memang lebih dikenal sebagai pelukis
dengan karya-karyanya yang sederhana sehingga sering kali digolongkan sebagai
drawing. Karya-karya arsitekturnya bertebaran. Salah satu karyanya berupa bangunan di Puri
Ubud serta beberapa pura, termasuk Pura Samuan Tiga di Bedulu, Gianyar, yang
monumental, di mana ia terlibat turut merancangnya. Pura ini tak hanya menjadi monumen nyata
berupa bangunan tetapi juga monumen nilai, di mana sekte-sekte Hindu
dipersatukan dengan terbentuknya istilah Desa Pakraman sekitar tahun 1001
Masehi, saat pemerintahan Raja Udayana. Sementara Ida Bagus Tugur meninggalkan
bangunan-bangunan ikonik, seperti Art Centre Denpasar, Monumen Bajra Sandhi,
Kantor Gubernur Bali, serta Kantor DPRD Bali. Bangunan-bangunan penting itu, kini menjadi
penanda bergeraknya peradaban Bali yang mewadahi berbagai kepentingan di
dalamnya sesuai perubahan zaman. Gedung DPRD atau Monumen Bajra Sandhi
bukanlah tempat suci sebagaimana pura, melainkan ruang tempat aktivitas
politik dan kebudayaan modern bersilang rupa. Ada proses transformasi pada
pola-pola ruangan, nilai, dan aturan-aturan tradisional yang menuju pada
pemanfaatan secara modern. Kedua seniman ini pula yang mengilhami para
arsitek berikutnya untuk mengembangkan apa yang kemudian disebut sebagai
style Bali. Seluruh hotel yang dibangun di Bali harus mengikuti Peraturan
Daerah Provinsi Bali No 5 Tahun 2005, yang antara lain mensyaratkan adanya
corak dan karakter bangunan tradisional Bali. Rupa-rupanya, pola-pola ruang, bentuk, dan
ornamentasi sebagaimana telah dilakukan oleh Lempad dan Tugur menjadi acuan
pengembangan arsitektur berikutnya. Penggunaan paras dan bata merah, misalnya,
seolah menjadi ciri yang memberi karakter sebuah bangunan disebut ”style
Bali”. Meskipun esensi yang disebut style Bali adalah penggunaan pola-pola
ruang sebagaimana tertuang dalam ajaran Asta Kosala Kosali. Setidaknya,
ruang-ruang dibagi ke dalam tingkatan utama, madya, dan nista (utama, tengah,
dan bawah). Sementara, karya-karya dua dimensi yang
dihasilkan Lempad, oleh pemikir kebudayaan Perancis Jean Couteau, disebut
sebagai pencapaian yang setara dengan pergerakan pemikiran-pemikiran yang
melekat pada karya-karya surealistik Joan Miro atau kubisme Pablo Picasso. Secara kebetulan, mereka hidup sezaman
dengan corak dan pendalaman nilai secara berbeda. ”Inilah para seniman dan
pemikir yang menandai abad ke-20,” kata Jean Couteau. Boleh jadi penghayatan kehidupan ketiganya berbeda-beda.
Pada awal abad ke-20, Miro dan Picasso benar-benar menghayati kehidupan
sebagai seorang seniman, sedangkan Lempad seorang yang berjuang demi
kehidupan spiritual. Ia menjalani laku kesenimanan sebagai jalan keimanan. Oleh sebab itulah, ia merancang banyak
bangunan seperti pura atau bade (usungan jenazah dalam upacara ngaben)
lengkap dengan lembunya. Karya-karya seninya, termasuk karya-karya
arsitekturnya, menjadi semacam ibadah untuk memuliakan Tuhan. Sesungguhnya sebagian besar karya dua dimensinya,
yang berupa drawing dan bersumber dari mitologi lokal, adalah ajaran-ajaran
tentang hidup. Sebut saja karyanya yang paling populer, seperti seri ”Men
Brayut”; seorang perempuan dengan banyak anak, yang menjalani penderitaan
selama hidupnya, sebelum akhirnya menemukan ”surga” di tangan anak bungsunya. Nyoman Nuarta hadir sebagai seniman
multitalenta, sebagaimana Lempad dan Tugur. Oleh karena mendapatkan
pendidikan seni modern di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia tidak hanya
berkarya atas dasar rasa estetis belaka, tetapi juga menggunakan sains dan
teknologi sebagai bagian dari ekspresinya. Tahun 1975, ia menjadi salah satu motor
penting dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), yang memandang
formalisme terhadap seni merupakan pengekangan terhadap hakikat ekspresi.
Pembatasan secara rigid terhadap bidang-bidang ekspresi kesenian, termasuk di
dalamnya seni tiga dimensi, hanya akan memiskinkan kehidupan kesenimanan. ”Pada akhirnya juga akan membuat seni jadi
kikuk dengan dirinya sendiri,” kata Nyoman Nuarta, akhir pekan lalu di
Bandung. Dalam pemahaman di dunia Timur, tidak
pernah dikenal istilah ”seni” dan ”seniman”. Sebutan paling umum terhadap
seseorang yang melakoni kehidupan kesenian adalah undagi. Sering kali seorang
undagi adalah juga pematung, ahli bangunan, pelukis, ahli sastra, sekaligus
seorang pemuka agama dan balian (dukun). Sekadar menyebut, Mpu Kuturan yang datang
dari Majapahit menuju Bali saat diperintah oleh Raja Udayana, adalah seorang
ahli agama, yang menjadi inisiator mempersatukan sekte-sekte Hindu di Bali
pada abad ke-11. Ia juga seorang ahli bangunan yang merancang awal Pura
Samuan Tiga di Bedulu, Gianyar. Dalam logika yang dipenuhi oleh hamparan
sejarah itulah, Nyoman Nuarta memperoleh cermin besar tentang laku kesenimanan.
Ketika ia merancang patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Ungasan, Bali,
misalnya, konsep pertama-tama yang ia letakkan adalah bagaimana menciptakan
ikon baru, yang menjadi daya tarik peradaban kontemporer, tanpa kehilangan
pijakan kepada akar kultur. Selama ini, katanya, kebudayaan dan kemudian
pariwisata hampir selalu bertolak dari tinggalan masa lalu. ”Kita hanya hidup dari peninggalan, yang
telah dikonsep dan dibangun oleh para leluhur. Lalu kita telah berbuat apa
untuk masa depan bangsa?” katanya. Konsepsi ini kemudian membawanya
membuka-buka lembar sejarah sampai kemudian menemukan Garuda Wisnu, sebagai
perwujudan mulia yang menjaga keseimbangan alam semesta. Bangsa kita, katanya, masih membutuhkan
simbol-simbol ikonik, yang kemudian mewadahi berbagai kepentingan, dari
urusan kultural, kepercayaan, sampai dunia pariwisata. ”Siapa yang menduga berbagai peninggalan
arkeologis, seperti pura, candi, masjid, yang dikonsepkan untuk beribadah,
sekarang menjadi destinasi wisata paling populer di dunia,” ujar Nuarta. GWK berbeda. Ia dibangun dengan kesadaran
baru. Meski mengambil ikonografi Garuda Wisnu, ia bukanlah tempat ibadah,
apalagi tempat suci. GWK adalah simbol pencapaian perpaduan antara seni,
sains, dan teknologi modern. Nyoman Nuarta menemukan teknik pembesaran
dengan menggunakan skala terhadap bentuk yang tidak beraturan. Prinsip teknik
pembuatan dengan pembesaran berdasarkan skala ini merumuskan: jika sebuah
bentuk bebas diiris horizontal ataupun vertikal dalam jarak tetap, kemudian
garis-garis luar tersebut diperbesar berdasarkan skala, dan kemudian disusun
kembali sesuai koordinat tetap, maka akan terbentuk pembesaran menyeluruh
dengan skala yang dikehendaki. ”Ini rumus mengapa GWK bisa diperbesar
tanpa mengalami deformasi bentuk, pasti presisif, bahkan sampai pembesaran 20
kali,” kata Nuarta. Teknik pembesaran sudah terbukti berhasil
melahirkan karya besar dengan berbagai pertimbangan teknologi agar tahan
sampai 100 tahun. Setelah melalui berbagai uji di terowongan angin, getaran
gempa, serta paparan sinar matahari, GWK kokoh berdiri sebagai monumen
kontemporer bagi bangsa Indonesia. Seluruh pencapaian cita rasa estetis,
sains, dan teknologi itulah yang mendasari desain Istana Negara berwujud
burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) yang baru di Kabupaten Penajam Paser
Utara, Kalimatan Timur. Nyoman pertama-tama menggunakan pendekatan
estetis-simbolik, yang diharapkan menjadi metafora yang tepat untuk
merumuskan keindonesiaan. Sebagai negara yang mengadaptasi demokrasi modern,
ia harus menemukan simbol-simbol yang tepat untuk mewadahi pencapaian
peradaban terkini. Nyoman Nuarta, seperti katanya, tidak mau
lagi jatuh ke dalam eksotisme ornamentasi ”kelokalan” yang bisa menjerat
kembali bangsa Indonesia dalam konflik identitas. ”Kalau saya pakai Bali, Jawa, Minang,
Toraja, Papua, atau Kalimatan, misalnya, saya khawatir kita mundur ke
belakang. Bahwa persatuan itu sudah diwadahi dalam falsafah Bhinneka Tunggal
Ika, dan itu ada pada burung Garuda,” katanya. Ia paham benar bahwa pandangan ini akan
dinilai terlalu politis dan dianggap menjauh dari potensi kultural Indonesia.
”Bukankah kita katanya mengikuti perkembangan peradaban seturut dengan era
digital? Nah, konsepsi tentang burung Garuda itu sangat kontemporer, yang
tidak bisa dicapai oleh bangsa lain dengan keberagaman suku bangsa, agama,
dan etnisnya,” ujar Nuarta. Burung Garuda pada desain Istana Negara
yang telah menjadi pemenang sayembara desain yang diselenggarakan oleh
Kementerian Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun lalu, memang
tidak sama dengan Garuda Wisnu. Garuda yang dikendarai Dewa Wisnu dalam GWK
adalah burung mitologis yang melambangkan kekuatan, ketekunan, kesetiaan,
serta bakti terhadap negara. Sementara burung Garuda dalam desain Istana
Negara, tak lain adalah metafor modern yang mewadahi keberagaman bangsa
Indonesia. Pesan di dalamnya, sama-sama tentang inspirasi terhadap kesetiaan,
kekuatan, dan keseimbangan dalam kehidupan. ”Saya tidak mengerti mengapa seni selalu
dipisah-pisahkan justru ketika kita secara spesifik mendalami pengetahuan
tentang seni,” kata seniman kelahiran Tabanan, Bali, ini. Sebagaimana juga pada diri Lempad dan
Tugur, seni dalam diri Nyoman Nuarta berkelindan dengan pengetahuan dan
kemudian teknologi modern. Tanpa mengenal teknologi, tentu bangunan ikonik
seperti Monumen Bajra Sandhi di depan Kantor Gubernur Bali tidak mungkin
berdiri kokoh dengan bentuk dan ketinggian yang menakjubkan. Bagaimana mungkin Puri Ubud berdiri megah
dan berwibawa tanpa teknologi yang dikuasai oleh Lempad. Demikian pula GWK
dan nanti Istana Negara di Penajam Paser Utara akan berdiri sebagai simbol
pencapaian peradaban bangsa Indonesia. Peradaban tak hanya bisa diukur dari
seberapa peduli kita terhadap tren arsitektur yang berkembang di dunia, tetapi
juga pada cara kita ”menjinakkan” kearifan lokal, lalu meleburnya dengan
sistem kebudayaan, politik, dan ekonomi kontemporer. Nuarta sangat yakin bahwa Istana Negara
yang baru nanti akan menjadi salah satu ikon penting dalam pergerakan dunia
politik, kebudayaan, dan ekonomi dunia. Dalam waktu singkat, ia akan menjadi
daya tarik ikonik bagi dunia pariwisata di sekitarnya. Memang sejak dahulu, itulah logika dasar
mengapa Nyoman Nuarta selalu merancang desain sebuah patung dan gedung,
dilengkapi dengan penataaan lanskap di sekitarnya, supaya kita semua
berduyun-duyun saling menjepretkan kamera telepon genggam, sebagai
dokumentasi dan kenangan selama kita hidup. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar