Selasa, 11 April 2017

Kejutan Jumat Pagi Trump

Kejutan Jumat Pagi Trump
Trias Kuncahyono  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 08 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Penyair Romawi, Quintus Horatius Flaccus (65-8 SM), dikenal sebagai Horace, pernah menulis puisi begini: carpe diem, quam minimum credula postero. Jika diterjemahkan secara bebas, frasa tersebut berarti 'petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok'.

Apakah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membaca puisi Horatius itu atau tidak, tetapi baginya keputusan untuk menyerang pangkalan militer Suriah adalah momen carpe diem. Ia tidak mau membuang waktu, segera bertindak, selagi kesempatan itu ada.

Maka, sekitar satu jam setelah makan malam dengan tamunya, Presiden China Xi Jinping-sambil membahas "kebandelan" Korea Utara yang terus melakukan uji coba nuklir-di kelab Mar-a-Largo, Florida, Trump memerintahkan penyerangan terhadap pangkalan udara Suriah, Shayrat, di Provinsi Homs. Jumat pagi (waktu Suriah) itu, 59 peluru kendali serang daratan Tomahawk (TLAMs) meluncur dari kapal perusak USS Porter dan USS Ross yang berada di Laut Mediterania Timur.

Inilah keputusan tegas yang diambil Trump, kurang dari tiga bulan setelah berkuasa. Ia memerintahkan intervensi militer di Timur Tengah, sebuah tindakan yang sangat berbeda dengan apa yang berulang kali dikatakan semasa kampanye presiden- tidak akan menjadi presiden intervensionis-dan mengecam malapetaka akibat kebijakan pendahulunya, Presiden Barack Obama.

Serangan militer seperti itulah yang beberapa tahun dipertimbangkan oleh Obama untuk dilakukan, setelah pasukan Presiden Bashar al-Assad menggunakan gas saraf dalam operasi militernya, 2013. Diberitakan saat itu, lebih dari 1.000 orang tewas.

Ketika itulah Obama mempertimbangkan akan "menghukum" Assad karena tindakannya telah melewati "garis merah". Persiapan militer sudah dilakukan, tetapi tidak pernah ada serangan sampai masa jabatannya selesai. Kini, serangan militer terhadap Suriah itulah yang dilakukan Trump.

Serangan militer tersebut secara dramatik menegaskan keterlibatan langsung militer AS di Suriah. Hal ini, secara teori, berisiko memunculkan konfrontasi AS dengan Rusia dan Iran yang mendukung Assad.

Kepentingan nasional

Trump menyatakan, tindakannya tersebut dalam konteks "kepentingan keamanan nasional vital" AS. Ia juga menyerukan "semua bangsa beradab untuk bergabung dengan AS guna mengakhiri pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah." Ajakan Trump itu mengingatkan pada pernyataan George Bush saat mengawali invasi ke Irak (2001): "You are either with us or against us" . Inilah perang yang mengakhiri pemerintahan Presiden Irak Saddam Hussein yang dituduh memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan itu tidak terbukti, tetapi Saddam telanjur disingkirkan.

Kini, apakah nasib Assad akan seperti Saddam, setelah jatuhnya korban jiwa demikian banyak? Belum lama ini Gedung Putih menyatakan, penyingkiran Assad adalah tidak realistis (Assad didukung oleh Rusia dan Iran). Namun, Kamis pagi, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan, AS dan negara-negara lain mempertimbangkan penyingkiran Assad dari kekuasaan, tetapi ia tidak mengatakan caranya bagaimana. Kebijakan itu berbeda dengan Obama yang ingin mengakhiri kekuasaan Assad meski tidak diwujudkan.

Rasanya, serangan militer tidak akan serta-merta sampai pada kesimpulan seperti itu, mengingat Assad selama ini dilindungi Rusia dan Putin adalah sahabat Trump. Ini alasan yang paling sederhana. Apalagi, reaksi Rusia terhadap aksi militer AS juga bisa dikatakan "normatif" dengan menyatakan, "agresi terhadap negara berdaulat, melanggar norma-norma internasional."

Yang pasti, serangan militer itu adalah reward politik bagi Trump yang selama ini kebijakannya selalu membuat orang, rakyatnya, dan negara lain bingung. Boleh jadi serangan militer itu juga "bisa" menjadi sarana untuk mendorong Assad pergi ke meja perundingan guna mengakhiri perang yang sudah menelan ratusan ribu jiwa rakyatnya.