Selasa, 11 April 2017

Trump Menghukum Rezim Suriah

Trump Menghukum Rezim Suriah
Smith Alhadar  ;   Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education
                                              MEDIA INDONESIA, 08 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA 4 April, di luar dugaan siapa pun, warga sipil di Kota Khan Sheikhun, Suriah, jadi sasaran serangan senjata kimia. Serangan keji menggunakan gas beracun sarin itu menewaskan 86 orang, termasuk puluhan anak dan perempuan. Saat ditemukan dan dievakuasi, mereka rata-rata mengalami kejang-kejang, menggelepar, dan dari mulut mereka keluar busa. Dunia pun mengecam tindakan itu, termasuk Rusia dan Iran, yang merupakan pendukung Presiden Bashar al-Assad.

Tanpa banyak bicara, AS menghukum rezim Assad dengan meluncurkan 60 unit rudal tomahawk ke Bandara Shayrat, Homs, untuk menghancurkan landasan pacu, menara kontrol, depot senjata, dan pesawat tempur.

AS yakin senjata kimia itu diluncurkan dari jet-jet tempur pemerintah Suriah yang terbang dari Bandara Shayrat. Inilah pertama kalinya AS menyerang rezim Assad sejak perang saudara meletus di Suriah pada 2011.

Namun, benarkah rezim Suriah pelaku serangan senjata kimia ke Khan Shaikhun? Apa motifnya?

AS dan sekutunya memastikan pelakunya adalah rezim Assad. Toh, rezim ini pernah menggunakannya di Gouta, Suriah Timur, pada 2013. Lagi pula, pada saat kejadian itu jet-jet tempur pemerintah Suriah sedang melakukan serangan ke Khan Sheikhun.

Karena itu, AS yang merasa serangan itu telah melewati garis merah merasa harus menghukum negara yang mengganggu norma-norma hukum dan ketertiban internasional.

Rusia menentang keras tindakan sepihak AS ini karena berpendapat pelakunya bukan rezim Assad. Senjata kimia itu sedang berada di gudang milik kelompok oposisi yang terkena serangan udara pasukan pemerintah Suriah.

Memang tidak mudah memastikan pelakunya adalah rezim Assad.

Pertama, pemerintah Suriah dan Rusia sedang menerapkan perang jangka panjang di Provinsi Idlib tempat Kota Khan Sheikhun berada.
Serangan udara pemerintah Suriah dan Rusia bertujuan melemahkan kelompok oposisi secara perlahan sebelum dilakukan serangan darat pada waktunya nanti.

Dengan kata lain, ini bukan perang hidup-mati yang memaksa pihak yang berperang menggunakan senjata apa saja demi mempertahankan hidup.

Kedua, setelah insiden Gouta, pemerintah Suriah menandatangani Konvensi Senjata Kimia yang diikuti penyerahan seluruh stok senjata kimia miliknya kepada PBB untuk menghindari serangan AS.

PBB pun menyatakan tidak ada lagi senjata kimia yang disembunyikan pemerintah Suriah.

Ketiga, pada akhir Maret pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan akan memfokuskan diri pada perang melawan Islamic State (IS) dan Al-Qaeda, serta tidak lagi fokus pada pemakzulan Assad.

Maka penggunaan senjata kimia merupakan tindakan bodoh yang hanya merugikan Assad sendiri.

Tindakan itu juga memojokkan Rusia dan Iran, dua negara yang selama ini mati-matian mendukung Assad.

Keempat, AS tidak hanya memerangi IS, tapi juga Jabhat Fath al-Syam (dulu Front al-Nusra, Al-Qaeda cabang Suriah), serta afiliasinya, yaitu Jabhat Ahrar al-Syam dan Jabhat Tahrir al-Syam. Ketiganya merupakan kelompok oposisi terbesar dan terkuat di Idlib sehingga niat AS menyerang mereka akan sangat menguntungkan rezim Assad.

Sebaliknya, serangan senjata kimia di Khan Sheikhun telah membuat Trump berubah pikiran terhadap Assad.

Jadi, bisa jadi pelakunya adalah kelompok oposisi, khususnya tiga kelompok oposisi di atas, guna membuyarkan rencana Trump berkerja sama dengan Rusia dan rezim Assad untuk menyerang mereka.

Namun, asumsi ini menimbulkan pertanyaan: kalau kelompok oposisi memiliki senjata kimia, mengapa senjata itu tidak digunakan menyerang pasukan pemerintah dan justru digunakan untuk menyerang warganya sendiri?

Pertanyaan lain, kalau bukan rezim Assad pelakunya, mengapa Rusia menentang draf resolusi DK PBB yang dibuat AS, Inggris, dan Prancis yang menuntut dilakukan investigasi menyeluruh atas insiden itu oleh PBB?

Kalau pelakunya adalah rezim Suriah, mungkin motifnya adalah sebagai berikut.

Rezim Assad sengaja menciptakan kehebohan untuk mengalihkan perhatian internasional dari upaya mobilisasi pasukan ke Suriah Timur.

Sebagaimana diketahui, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan AS sedang mengepung Raqqa, ibu kota de facto IS di Suriah.

Kota lain di Suriah Timur adalah Deir az-Zour, terletak di selatan Raqqa, yang masih diduduki IS.

Setelah Raqqa, SDF dengan bantuan serangan udara AS akan bergerak ke Deir az-Zour.

Rezim Assad khawatir Raqqa dan Deir az-Zour jatuh ke tangan AS yang kemudian membentuk wilayah federal Suriah Timur setelah etnik Kurdi membentuk wilayah federal di Suriah Timur Laut.

Maka pasukan Suriah dikerahkan ke Raqqa dan Deir az-Zour untuk ikut ambil bagian dalam pembebasan dua kota itu sehingga rezim Assad ikut menentukan nasib kedua kota strategis yang sangat penting bagi Damaskus. Raqqa merupakan lumbung gandum dan Deir az-Zour adalah kota minyak sehingga keduanya penting bagi ekonomi rezim Assad.

Memang AS belum pernah membuat komitmen mendukung pembentukan negara federasi Suriah. Namun, bisa jadi solusi perang saudara Suriah hanya bisa dilakukan dengan menciptakan federasi berdasarkan garis etnik dan mazhab. Etnik Kurdi akan membentuk wilayah federal di timur laut, Arab Sunni di wilayah timur, Alawiyah di utara dan barat laut, dan Druz di selatan. Hal ini sudah lama menjadi keprihatinan rezim Suriah yang hendak mempertahankan negara kesatuan Republik Arab Suriah.

Apa pun, insiden Khan Sheikhun seharusnya dicarikan dulu alasan logisnya. AS tidak perlu tergesa-gesa melancarkan serangan sepihak terhadap rezim Assad, yang membantah keras sebagai pelaku serangan Khan Sheikhun.

Serangan AS itu bisa menjadi kendala bagi kerja sama AS-Rusia dalam memerangi IS dan Al-Qaeda di Suriah. Lebih jauh, serangan itu bisa melemahkan upaya perdamaian antara rezim Assad dan oposisi.

Toh, tindakan AS disambut gembira pihak oposisi dan dikecam rezim Assad, Iran, dan Rusia.

Semoga saja peristiwa ini tidak bereskalasi menjadi konflik yang lebih luas, yang melibatkan Rusia dan AS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar