Selasa, 11 April 2017

Prananda, Puan, atau yang Lain?

Prananda, Puan, atau yang Lain?
Budiarto Shambazy  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 08 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang mengernyitkan dahi. Dalam pidato peresmian Kantor DPP Banteng Muda di Jakarta, Kamis (30/4), Megawati yang baru saja genap berusia 70 tahun mengungkapkan keinginan pensiun dari dunia politik. Dengan kata lain, Megawati membuka kemungkinan mengundurkan diri dari jabatan ketua umum partai sebelum kongres yang dijadwalkan tahun 2020.

Barangkali pernyataan itu cuma pelampiasan dari kegundahan sesaat, sekadar ingin mengetes pasar politik. Namun, bisa juga hal serius karena Megawati sudah terlada Pemilu 2014. Ia gagal menjadi presiden dalam pemilihan di MPR 1999, menggantikan Abdurrahman Wahid sebagai presiden 2001-2004, dan dua kali mencalonkan diri sebagai presiden, yaitu pada 2004 dan 2009.

Pasang-surut, naik-turun, dan suka-duka politik telah ia lalui dalam waktu panjang. Wajar jika tiba-tiba ia merasa jenuh sekalipun jalan terjal perjuangan masih menghadang. Betul atau tidak ia akan mengundurkan diri, baik dengan tiba-tiba maupun di kongres 2020, ini jadi sinyal bagi semua pengurus PDI-P untuk mengantisipasinya.

Namun, rasanya mustahil Megawati mengundurkan diri karena ia akan menunggu kongres tahun 2020. Lagi pula PDI-P sampai detik ini adem ayem saja, belum dilanda ”konflik internal” antara hidup dan mati sampai mengganggu partai. Apalagi, Megawati sebagai ketua umum periode 2010-2015 terbilang sukses memenangi Pemilu 2014 dan, khususnya, Pilpres 2014 yang diadakan secara langsung sejak 2004.

Bayangkan, setelah 10 tahun jadi oposisi, PDI-P memenangi Pemilu 2014 walau masih jauh di bawah target 27 persen suara. Kader partai, Joko Widodo, terpilih sebagai presiden. Dalam masa keemasan PDI-P ini, Megawati dipandang sebagai tokoh politik paling berpengaruh di republik ini.

Megawati mustahil mengundurkan diri karena akar rumput tidak akan bergerak membangkang atau patuh selain pada saat kongres saja. Telah terbukti pada empat kali kongres, Megawati terpilih secara aklamasi. Suka atau tidak, akar rumput tetap meyakini warisan Soekarnoisme masih terpatri pada sosok putri tertuanya itu.

Terlepas dari ”cerita-cerita sukses” tersebut, kondisi kekinian PDI-P tidaklah imun dari berbagai masalah yang dapat menyuramkan masa depan partai. Setelah Taufiq Kiemas tutup usia 8 Juni 2013, hilang sudah sosok politisi/aktivis ulung yang pragmatis sekaligus kompromistis, yang, seperti peselancar, piawai meniti buih. Dalam sepak bola, Taufiq Kiemas ibarat playmaker yang mengotaki pertandingan.

Betul Megawati memang lebih leluasa menjalankan roda day-to-day politics. Namun, juga ada kerugian besar karena ketiadaan sang suami yang terbiasa berperan sebagai the devil’s advocate. Para pengurus DPP cenderung sungkan kepada Megawati, hanya satu-dua yang nyaris seusia dia yang ”berani bicara”, misalnya Emir Moeis.

Rasa sungkan terhadap Megawati terbilang wajar karena hubungan yang bersifat patron-client (bapak-anak buah) berhubung perbedaan usia yang cukup jauh. Namun, kelemahan ini cukup tertutupi oleh fakta bahwa tak sedikit kader di luar trah yang mumpuni, seperti Sekjen Hasto Kristiyanto dan Wasekjen Utut Adianto. Belum lagi yang berkiprah di birokrasi, seperti Mendagri Tjahjo Kumolo dan Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta.

Bahwa trah Soekarno yang harus melanjutkan kepemimpinan partai, itu mungkin benar. Di lain pihak, estafet kepemimpinan dinasti partai politik di dunia ini, termasuk di Indonesia, memang cukup kompleks. Sebagian pemilih yang pejah gesang nderek Gusti mengharapkan semacam hasil ”fotokopi” yang mendekati sosok tulen Soekarno pada anak ataupun cucunya.

Padahal, mustahil mengharapkan kedatangan ”Soekarno baru” dari trah tersebut. Politik kita makin hari makin membumi dan makin mudah dikelola, antara lain dengan menyesuaikan diri dengan selera pasar/pemilih. Dalam konteks itu, mungkin tidak sulit memasarkan produk dinasti, seperti Puan Maharani dan Prananda Prabowo.

Masalahnya, mereka mungkin belum maksimal memanfaatkan peluang untuk muncul. Megawati adalah orang yang sungkan berbicara secara terbuka dalam soal ini, lebih suka membimbing dari belakang sembari mengamati dari kejauhan. Ia mungkin juga masih menjaga perasaan kader-kader lain karena politik dinasti kadang masih dipandang dengan sinis.

PDI-P, seperti halnya partai lain, merupakan korporasi (bukan lagi sekadar partai politik) yang sudah berjalan sesuai lajur ideologi, program, dan aksi nyata. Cepat atau lambat, masalah regenerasi kepemimpinan merupakan keniscayaan yang harus diantisipasi. Apakah Puan atau Prananda yang disiapkan PDI-P untuk menggantikan ibu mereka atau barangkali kader ideologis lainnya, itu akan jadi debat menarik untuk diikuti secara saksama.