Sabtu, 08 April 2017

Kalabahi

Kalabahi
Trias Kuncahyono  ;  Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 02 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Suatu sore, di tepi Teluk Mutiara. Air laut begitu tenang. Permukaannya bagaikan meja. Rata. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah keindahan. Keindahan laut di Teluk Mutiara, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Warna air laut berlapis-lapis, dari biru muda ke biru tua, dari putih hingga hijau. Di kejauhan terlihat ujung laut bertemu kaki langit yang pelan-pelan menghitam. Mendung. Sebentar lagi hujan. Tetapi, langit yang mendung tidak mengurangi keindahan Teluk Mutiara.

Hilir mudik perahu-perahu kecil membawa para pelancong luar negeri kembali ke Pulau Alor setelah menikmati pasir putih dan keindahan bawah laut di sekitar Pulau Kepa di Teluk Mutiara. Pulau Kepa tak jauh letaknya, sekitar 200 meter dari pantai Pulau Alor. Sembilan wisatawan asing, laki-perempuan, anak-anak dan orangtua, turun dari perahu kecil di bibir pantai Pulau Alor sambil menebar senyum dan mengacungkan jempol tangannya. "Great," kata salah seorang perempuan, singkat.

Langit semakin hitam. Mendung membentuk gumpalan-gumpalan. Dan, tiba-tiba langit tak mampu lagi menahan air yang ditanggungnya: hujan turun. Tetapi, hujan pun tak mampu menyingkirkan keindahan Teluk Mutiara, halaman depan Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Halaman belakang Kalabahi, bukit-bukit hijau yang menjulang tinggi, menggapai langit. Indah.

Keindahan mengandung pengertian ide kebaikan. Plato, seorang filsuf Yunani (lahir 428/427 SM di Athena, Yunani, dan meninggal 348/347 SM di Athena), misalnya, menyebut watak yang indah dan hukum yang indah.

Filsuf Yunani lainnya, Aristoteles (lahir pada tahun 384 SM di Stageira, Yunani Utara, dan meninggal pada 322 SM) merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan dengan meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan sebagainya. Kata Aristoteles, "Kita tidak menginginkan kegunaan dan kepastian, kecuali demi keindahan, tetapi keindahan ini bersatu padu dengan akal manusia." Plato bahkan memandang keindahan di muka bumi ini sebagai imitasi tak sempurna dari keindahan mutlak.

Filsuf di zaman yang lain, Immanuel Kant (1724-1804), dari Jerman, antara lain mengatakan, keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentu. Thomas Aquinas (1225-1274) menyodorkan rumusan lain tentang keindahan. Kata Aquinas, "Keindahan berkaitan dengan pengetahuan; sesuatu dinyatakan indah jika sesuatu itu menyenangkan mata sang pengamat." Artinya, pengalaman keindahan muncul apabila terdapat pengetahuan dan pengalaman di dalam diri manusia.

Apa pun definisinya, keindahan tetapkan keindahan. Karena, alam raya ini diciptakan indah adanya. Keindahan itulah yang ada di hadapan Kalabahi ketika di tempat-tempat lain bagian dunia ini-juga termasuk bagian Indonesia-keindahan sudah rusak, atau bahkan sudah hilang.

Tentang potensi kehancuran alam, dunia global dikatakan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si (Terpujilah Engkau), 18 Juni 2015. Polusi, perubahan iklim, dan budaya buang sampah sembarangan muncul sebagai ulah manusia. Sumber daya pun makin menipis. Paus Fransiskus berbicara tentang eksploitasi sebagai aktivitas manusia yang tak terkendali. Eksploitasi planet sudah melebihi batas maksimal, padahal kita belum memecahkan masalah kemiskinan. Hal ini disebabkan oleh kemajuan ilmiah, pertumbuhan ekonomi, perkembangan kemampuan teknis, dan penyebaran arus informasi.

Semua itu telah menghancurkan keindahan alam. Karena itu, Fransiskus menganjurkan pandangan ekologi integral: bumi adalah rumah bersama yang harus dibangun atas dasar kasih sayang. Umat manusia masih memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam membangun rumah kita bersama.

"Rumah bersama" Indonesia ini pun semakin lama semakin tidak indah karena kasih sayang yang menjadi dasar pembangunan bumi yang indah mulai menipis. Bahkan, ada yang sudah hilang. Kebencian telah mengalahkan kasih sayang, seperti yang banyak terjadi di negara-negara yang dilanda peperangan. Tengoklah apa yang terjadi di sejumlah negara di Timur Tengah, di Afrika, bahkan di Eropa, dan juga di Amerika. Tidak hanya alamnya yang rusak, tetapi demikian juga manusianya.

Pemahaman "rumah kita bersama" Indonesia pun semakin lama terasa semakin tipis. Kerap kali, sekarang ini, terdengar teriakan "rumahku, rumah kami", bukan "rumahmu, bukan rumah kita". Akankah terjadi, pada suatu masa, bahwa "banyak anggota keluarga rumah kita" akan meninggalkan "rumah kita bersama", seperti para pengungsi dari Suriah, Nigeria, Myanmar, Afganistan, Libya, dan negara-negara yang masih dikuasai nafsu kebencian dan peperangan karena merasa sudah aman di rumah mereka?

Tetapi, kebencian itu tidak ada di Kalabahi. Kalabahi, yang berarti pohon kesambi (Schleichera Oleosa. L) dalam bahasa Alor, memang indah. Di sana ada kedamaian, di sana ada ketenteraman, dan di sana ada persaudaraan sehingga ikan lumba-lumba pun tak jarang berarakan masuk dan menari-nari di Teluk Mutiara, seperti sore itu.

"Di sini tenang, Pak. Alamnya damai. Masyarakatnya saling menghormati, ikatan persaudaraannya kuat," ujar Carol, pengemudi mobil yang mengantar kami. Lelaki asal Lembata, yang sudah 17 tahun hidup di Kalabahi, mengatakan, "Saya hanya melihat tindakan-tindakan yang merusak perdamaian dan persaudaraan di televisi. Itu pun terjadi di wilayah lain negeri ini, tidak di tempat ini," kata lelaki beranting pada kedua telinganya dan bertato di lengan kirinya.

"Tak seorang pun dilahirkan untuk membenci orang lain, karena warna kulit, karena latar belakang, karena agamanya. Orang harus belajar membenci dan jika mereka dapat belajar membenci, mereka dapat diajari untuk mencintai. Karena cinta, datang secara lebih natural ke hati manusia dibandingkan dengan kebencian." Begitu kata Nelson Mandela (1918-2013). Dan, begitu semestinya.