Sabtu, 08 April 2017

Manusia

Manusia
Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 02 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada suatu hari saya bertanya kepada teman yang seorang pramugari, apakah ia tak takut dengan turbulensi. Karena saya ini takutnya setengah mati dan tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melayang-layang tanpa ketakutan. "Oh... enggak, Mas. Saya paling takut sama penumpang. Orang itu bisa begitu menakutkan."

Galak dan menakutkan

Pembicaraan itu kemudian berlanjut dengan agenda memberi penjelasan detail apa yang dimaksud dengan takut dengan penumpang alias manusia. Saya tak perlu menjelaskan ceritanya, tetapi harus saya akui selesai mendengar penjelasannya itu, saya tak pernah membayangkan bahwa yang namanya manusia itu bisa sesadis itu.

Salah satu staf saya, gadis milenial, tinggi, cantik, dan manis, pada suatu sore mengatakan begini. "Aku ini galak, Mas. Tetapi di rumah, ibu dan kakakku lebih galak lagi. Aku yang galak ini aja kalah, Mas." Saya tertawa terbahak, kemudian saya jadi teringat cerita teman saya yang pramugari itu.

Kedua cerita ini yang menjadi pencetus kepala saya bertanya seperti biasa. Mengapa ada manusia bisa menjadi begitu baiknya, sabarnya, tetapi ada yang bisa menjadi begitu menakutkan bagi sesamanya? Pada hari Minggu ini, saya akan memilih untuk bertanya-tanya soal manusia yang bisa menakutkan ketimbang memilih yang baik seperti malaikat.

Apakah orang yang mampu menakutkan orang lain, yang bisa menjadi begitu galaknya kepada sesama, memang pada dasarnya diciptakan untuk tujuan itu? Atau apakah seseorang bisa menjadi demikian menakutkan dan galaknya karena sejujurnya itu hanya sebagai bentuk pertahanan dari rasa takutnya sendiri?

Rasa takut kalau ia tidak dianggap berwibawa, misalnya. Atau apakah sifat-sifat yang demikian itu akibat dari sebuah perjalanan hidup yang menyakitkan sehingga ia terbentuk menjadi demikian?

Menakutkan atau galak adalah predikat yang diberikan orang lain karena pengalaman orang lain tersebut dengan yang menakutkan dan galak itu. Namun, apakah orang yang menakutkan dan galaknya luar biasa itu menyadari kalau mereka itu menakutkan dan galak? Kalau tak disadari, mungkin yaa. mau diapakan lagi.

Namun, kalau dipikir-pikir, apakah mungkin mereka tak menyadarinya? Kalau ternyata mereka menyadari bahwa mereka itu menakutkan dan galak, mengapa mereka tak memiliki keinginan untuk menjadi orang yang tidak menakutkan dan yang tidak galak?

Siapa tahu

Apakah mereka takut untuk menjadi orang baik dan menyenangkan karena perilaku yang demikian itu dianggap rentan untuk dijajah dan diinjak-injak? Apakah tabiat menakutkan dan galak itu dipersepsi sama dengan sebuah bentuk kejantanan, keberanian, kewibawaan, sebuah perilaku yang menunjukkan seseorang itu adalah pemimpin, sebuah perilaku yang tegas?

Apakah mereka tak lelah menjadi galak dan menakutkan sama seperti tak lelahnya orang berbuat baik dan sabar? Apakah ternyata melihat orang bisa ketakutan itu sebuah bentuk kepuasan tersendiri? Seperti orang yang memiliki kecenderungan sado-masochism?

Apakah berbuat baik, sabar, menyenangkan sesama, tidak galak, tidak menakutkan itu sebuah perilaku yang kurang jantan? Kurang ada wibawanya? Apakah berbuat baik itu sebuah perilaku yang menunjukkan sebuah kelemahan dan akan memberi peluang orang lain dengan mudah menjajah atau menginjak-injak?

Apalagi dunia ini katanya kejam, tidak bersahabat, persaingannya pun supertajam. Apakah dunia yang semacam itu harus dihadapi dengan sebuah solusi menjadi sosok yang menakutkan sesamanya agar monopoli bisa dilakukan?

Dan kalau sudah bisa memonopoli, maka hidup menjadi tenang karena tak ada lagi yang mengancam? Apakah kemudian rasa menguasai timbul dan itu super menyenangkan sehingga dengan demikian keinginan berbuat tidak menakutkan dan tidak galak itu tidak lagi perlu dipikirkan, karena belum tentu hal itu bisa memberi kepuasan. Begitukah?

Nah, kalau sekarang saya bertanya kepada Anda yang termasuk kategori menakutkan dan galak, apakah Anda masih memiliki keinginan untuk berbuat baik dan sabar? Nah, di tengah keadaan yang beginilah, nurani saya paling cepat menyambar untuk mengambil kesempatan
"Mas, jangan yang galak dan menakutkan aja dong yang ditanya gitu. Gak adil. Masak mereka aja yang ditanya punya keinginan berbuat baik dan sabar. Coba tanya sama yang baik dan sabar, apakah mereka sesungguhnya punya keinginan untuk berbuat galak dan menakutkan?

Mereka memang menakutkan dan galak, tetapi hati manusia siapa yang tahu. Siapa coba yang tahu dalam hatinya orang yang baik dan sabar. Siapa tahu mereka kadang iri sama kita kok kita ini bisa menakutkan dan galak. Ya, kan, Mas?"