Selasa, 20 Januari 2015

Belajar Perbedaan

Belajar Perbedaan

Nihayatul Wafiroh  ;   Anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Daerah Pemilihan Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo
KORAN TEMPO,  19 Januari 2015

                                                                                                                       


Saya akhirnya punya teman Kristen," ujar saudara sepupu saya. Ternyata memiliki kawan dari kalangan berbeda jadi kebanggaan tersendiri untuk beberapa orang, terlebih bagi orang yang tidak pernah keluar dari lingkaran yang dia miliki selama ini. Mungkin kegirangan yang sama juga ada pada mahasiswa Dr Rosida Sari dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry setelah ikut ceramah di gereja Protestan di Indonesia bagian barat di Banda Aceh.

Berangkat dari pengalamannya belajar di Flinders University, Adelaide, Australia, Sari mengajak mahasiswa mengunjungi gereja dan berdiskusi dengan pastor soal relasi antara laki-laki dan perempuan dalam Kristen.

Mengapa aktivitas Rosnida Sari menjadi isu yang hangat?

Banyak orang Aceh menentang terobosan Sari. Ketakutannya, ada mahasiswa yang pindah agama, dari Islam menjadi Kristen, jadi "murtad". Sari bahkan mendapat ancaman akan dibunuh, bahkan tempat mengajarnya diancam akan dibakar. Menteri Agama Lukman Saifuddin, lewat akun Twitter, menulis bahwa Sari "harus dilindungi."

Sari juga pernah menjadi fellow Muslim Exchange Program Indonesia-Australia. Ini menjadi jendela untuk Sari akan pentingnya pengalaman melihat perbedaan dalam kehidupan nyata. Sari ingin membekali anak didiknya agar mengerti pluralisme. Dasarnya, pluralisme dan toleransi, yang kuat dalam diri seseorang, menjadi hal penting karena gesekan-gesekan atas nama agama mulai sering terjadi di Indonesia, termasuk di Aceh. Ini bahaya bila tak diatasi lewat pendidikan.

Saya punya pengalaman serupa saat menempuh pendidikan master di Universitas Hawaii Manoa di Kepulauan Oahu, Amerika Serikat. Saya ambil mata kuliah "Gender and Religion". Salah satu tugas kuliah adalah menulis laporan lima kegiatan keagamaan. Saya pun mendatangi acara keagamaan: gereja, candi, acara Yahudi, Baha'i, dan tentu masjid.

Bila sebagian orang Aceh khawatir seseorang akan goyah imannya dengan mendatangi gereja, lalu bagaimana nasib ratusan muslim yang selama ini salat Jumat di lantai bawah gereja tua St. Paul di pusat kota Boston?

Di Boston saya merasakan nikmatnya beribadah dalam balutan toleransi keberagamaan yang tulus. Semua orang datang dengan niat bersih untuk sujud kepada Allah. Mereka tak memikirkan di mana mereka beribadah. Mereka tak juga dibaluti kebencian terhadap agama lain.

Saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Teman-teman sekelas saya ada kiai, pendeta, orang Ahmadiyah, dari Indonesia, Singapura, dan Filipina. Setiap kali masuk kelas, kami biasa baca Al-Quran, Injil, dan lainnya. Kami pernah mengikuti ibadah di vihara, pura, gereja, maupun masjid. Tak ada satu pun yang merasa terganggu keimanannya.

Pembelajaran ini memperkaya saya. Saya semakin percaya bahwa agama yang saya anut ini adalah yang terbaik bagi saya. Bila belajar pluralisme dan toleransi akan menambah keimanan dan membuka mata akan pentingnya menghormati perbedaan, kenapa mendatangi gereja di Banda Aceh harus disalahkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar