Selasa, 12 Februari 2013

Imlek dan Harmoni Sosial


Imlek dan Harmoni Sosial
Heri Priyatmoko ;   Kolumnis Solo Tempo Doeloe, Mahasiswa Program Pascasarjana Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM
SUARA MERDEKA, 11 Februari 2013



Tahun Baru Imlek 2564 baru saja dirayakan oleh etnis Tionghoa, tak terkecuali di kota Solo. Momentum pergantian Tahun Baru China dalam beberapa tahun terakhir ini di Kota Bengawan dimaknai sebagai ruang unjuk kebudayaan leluhur. Lewat kesadaran kultural, etnis Tionghoa menampilkan ragam tradisi gunungan yang sedikit banyak dipengaruhi kebudayaan lokal.

Imlek Gunungan Grebeg Sudiro merupakan bagian dari potret harmoni sosial, yang hendak menghapus citra pri dan nonpri yang mengganggu. Ia ibarat panggung untuk menguatkan ikatan persaudaraan masyarakat kota yang majemuk. Tak salah bila event itu dimasukkan dalam kalender wisata.

Jauh hari sebelum tanggal 10 Februari 2013, warga China di Solo sibuk menyiapkan segala ubarampe, dari kue keranjang hingga angpau. Ekspresi kebebasan dan kegembiraan tergambar dalam wajah mereka. Publik tahu bahwa Solo menyimpan sejarah kelam kehidupan etnis Tionghoa yang beberapa kali menjadi korban konflik.

Terekam sejarah pahit yang tak mudah dihapus dalam memori kolektif. Konflik yang mencederai relasi sosial lintas etnis. Pertama; konflik sosial etnis pribumi dan nonpribumi di kampung batik Laweyan tahun 1911. Akar masalahnya adalah persaingan kepentingan bisnis antara kongsi (perkumpulan pedagang) Jawa dan China hingga menyebabkan terbentuknya Sarekat Dagang Islam pada 1905, dirintis oleh H Samanhudi.

Sumber konflik berkisar pada penyediaan bahan primer dalam usaha kerajinan batik yang dimonopoli salah satu pihak. Namun, menjelang pecah kerusuhan, beredar desas-desus yang memanaskan keadaan. Ketimpangan ekonomi sebagai dampak kebijakan kolonial turut memanaskan situasi.

Kedua; etnis Tionghoa menjadi korban kerusuhan tahun 1980. Pada 19 November 1980 di Jalan Oerip Soemohardjo terjadi serempetan antara sepeda yang dikendarai orang pribumi dan pejalan kaki dari etnis Tionghoa. Persoalan sepele itu memicu konflik besar yang mengangkat simbol pri dan nonpri.

Konsep Lokal

Massa membakar toko-toko milik etnis Tionghoa. Aksi kekerasan meluas dan menciptakan solidaritas konflik antara kelompok pribumi dalam wacana in group versus kelompok Tionghoa yang diposisikan sebagai out group. Semangat anti-China cepat meluas dalam ukuran jam hingga terjadi letupan kekerasan.

Dari insiden itu, hasil riset Soedarmono dkk (1999) menyebut masyarakat Solo terjangkit penyakit yang masuk dalam kategori kranjingan. Kerusuhan seperti wabah penyakit sosial yang endemis dan patologis meluas ke kawasan pinggiran kota. Selanjutnya, konflik melebar ke kota-kota lain.

Ketiga; tanggal14-15 Mei 1998 Surakarta kembali membara. Momentum itu terjadi berbarengan dengan tuntutan turunnya rezim Orde Baru. Muncul penafsiran dari beberapa pakar bahwa peristiwa 1998 sudah dirancang jauh hari.

Solo menjadi bagian konflik yang inheren dengan rekayasa turunnya rezim Soeharto, karena paham represif militeristik sangat dirasakan oleh warga Solo. Hal ini bisa dipahami lantaran sejak peristiwa G30S Surakarta dipimpin kepala daerah dari militer.

Deretan peristiwa itu membekas di hati para sahabat Tionghoa. Melalui Imlek, mereka melakukan pemulihan psikologis, selain hendak menunjukkan mereka bagian dari masyarakat kota yang juga punya hak seperti etnis pribumi. Sebetulnya ada harmoni sosial yang penting dihadirkan sebagai bukti kemerekatan hubungan dua etnis itu, yaitu konsep lokal: ampyang.

Ampyang adalah makanan ringan terbuat dari gula jawa dan kacang china. Ampyang merupakan simbolisasi dari perkawinan campur antara etnis Tiong-hoa dan Jawa pada level akar rumput. Perkawinan adalah perekat ampuh pembauran untuk menghapus citra pri dan nonpri, serta menjadikan orang Tionghoa beridentitas Jawa.

Perayaan Imlek Gunungan Grebeg Sudiro dan ampyang adalah alat jitu untuk merajut harmoni sosial di Surakarta, mungkin juga di kota-kota lain di Nusantara. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar