Senin, 26 Februari 2018

Teror Kiai dan Politik Kecemasan

Teror Kiai dan Politik Kecemasan
Munawir Aziz  ;   Peneliti, wakil sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
                                                    JAWA POS, 23 Februari 2018



                                                           
SERANGAN dan teror kepada kiai-kiai pesantren yang bertubi-tubi menjadi penanda penting bagaimana politik kecemasan menjadi formula untuk meresahkan publik. Rangkaian serangan kepada kiai-kiai pesantren serta beberapa pemuka agama seolah bukan sesuatu yang acak.

Akan tetapi, serangan yang terencana dan memiliki pola. Meski belum bisa dipastikan secara sahih, merujuk pada data forensik kepolisian, publik sudah merasa cemas dengan rangkaian serangan dan teror kepada pemuka agama. Rangkaian serangan ini terakumulasi dalam kontestasi di ’’tahun politik’’, menjelang pilkada serentak pada 2018 dan pemilihan presiden pada 2019.

Awalnya, serangan ’’orang gila’’ menghajar pengasuh pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Pada Sabtu (27 Januari 2018) lalu, Kiai Umar Basyri diserang orang tak dikenal, yang dianggap gila, pada sekitar pukul 05.30 WIB. Ketika diserang, Kiai Umar sedang melangsungkan wirid setelah ibadah salat Subuh. Akibat penyerangan ini, Kiai Umar terluka parah dan dirawat di rumah sakit selama berhari-hari.
Teror kepada keluarga kiai dan pesantren juga terjadi di Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, pada Senin malam (19/2). Teror terhadap kiai pesantren ini, meski tidak menimbulkan korban jiwa, menimbulkan kecemasan yang bergelombang. Vibrasi kecemasan ini menyeret komunitas-komunitas pesantren, pada situasi yang terguncang, menimbulkan kepanikan. Informasi penyerangan terhadap kiai dan keluarga pesantren dengan cepat menyebar ke berbagai komunitas pesantren di negeri ini.
Serangan dan teror juga menyasar pemuka agama di beberapa daerah. Pada Minggu (11/2) seorang pemuda dengan membawa parang menyerang umat gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Jogjakarta. Penyerangan ini mengakibatkan empat orang terluka: seorang pastor, seorang jemaat gereja, pengurus gereja, dan seorang polisi. Pada rangkaian peristiwa sebelumnya, Biksu Mulyanto di Legok, Tangerang, dipersekusi karena melangsungkan ibadah di rumahnya.
Dari rangkaian serangan dan teror, ’’orang gila’’ menjadi tertuduh dan subjek yang diformalkan. Pelaku teror dinisbatkan kepada orang gila, hingga prosesi pengadilan dan antisipasi keamanan menjadi absurd. Dari narasi kekerasan ini, serangan acak dan terjadi di beberapa daerah, sangat aneh jika dilakukan oleh ’’orang gila’’, sebagai tertuduh maupun subjek.
Serangan terhadap kiai pesantren dan pemuka agama, dalam analisis penulis, untuk mencipta kecemasan di ruang publik. Politik kecemasan ini, pada jangkauan yang lebih jauh, menjadi tahapan pemanasan untuk politik adu domba serta kerusuhan masal. Targetnya apa? Untuk mencipta kegaduhan dan turbulensi kepemimpinan di panggung politik. Situasi chaos ini terjadi pada tahun-tahun politik: 1965 dan 1998.
Teror naga hijau
Lalu, mengapa kiai-kiai pesantren dan pemuka agama menjadi sasaran tembak? Apa makna bagi komunitas pesantren dan warga Indonesia secara lebih luas? Dalam catatan sejarah kolektif komunitas pesantren, ’’operasi naga hijau’’ menjadi ingatan teror yang menghantui.
Operasi naga hijau merupakan istilah yang dilontarkan Kiai Abdurrahman Wahid untuk menyebut serangan dan teror terhadap kiai-kiai pesantren pada tahun 1996. Peristiwa kekerasan ini merupakan rentetan dari tragedi di Tasikmalaya pada 26 Desember 1996. Kerusuhan ini dipicu oleh penganiayaan terhadap tiga ustad Pondok Pesantren Condong yang dilakukan oleh oknum polisi di Tasikmalaya. Akibat penganiayaan ini, meletuslah kerusuhan di kawasan itu: bangunan toko, polsek, rumah ibadah, fasilitas umum, rusak karena amuk massa.
Peristiwa Muktamar Cipasung menjadi latar belakang bagi lanskap sosial-politik bagi warga nahdliyin dan Islam Indonesia. Muktamar Ke-29 Nahdlatul Ulama di Cipasung, pada 1994, merupakan muktamar yang dramatis, ketika Abu Hasan yang didukung oleh Orde Baru berhadapan dengan Kiai Abdurrahman Wahid. Ketika itu, Gus Dur tampil sebagai pemenang dengan segenap peristiwa yang runyam dan panas. Rezim Orde Baru ingin menyetir Nahdlatul Ulama dan kiai-kiai melalui komando Abu Hasan, yang kemudian gagal pada proses muktamar. Peristiwa ini menjadi latar belakang dari rangkaian kekerasan, teror, dan kerusuhan di beberapa kawasan.
Kerusuhan juga terjadi di beberapa kantong warga nahdliyin, terutama di Situbondo dan Surabaya, Jawa Timur. Di Situbondo, kerusuhan dipicu oleh vonis pengadilan terhadap pihak yang dianggap menghina Islam dan kiai. Rupaya, vonis ini tidak memuaskan publik, hingga merembet menjadi kerusuhan yang meluas. Kerusuhan meletus, beberapa rumah ibadah dan fasilitas publik terbakar. Masyarakat cemas, situasi siaga, dan timbul kecurigaan di antara warga: operasi ninja, dukun santet, dan semacamnya.
Tepat pada jantung kecemasan itulah yang menjadi target dari rangkaian operasi kekerasan. Kekerasan dan serangan teror terhadap kiai dan pemuka agama kemudian menjadi rangkaian informasi sekaligus disinformasi, yang beredar secara sporadis. Kecemasan publik inilah yang menjadi target dari serangan dan teror yang terjadi belakang ini. Untuk itu, tabayun dan silaturahmi menjadi antisipasi gerakan, untuk menghadang isu-isu kekerasan sebelum bergeser menjadi kekacauan publik yang lebih luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar