Kamis, 01 Juni 2017

Puasa dan Pancasila

Puasa dan Pancasila
Andi Faisal Bakti  ;   Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila; Pengurus Pusat ICMI
                                                    KORAN SINDO, 31 Mei 2017



                                                           
Ramadan kembali menyapa. Ramadan kali ini hadir berdekatan dengan hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni.  Di kalangan umat muslim, Ramadan diyakini sebagai bulan di mana rahmat dan berkah melimpah. Di bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa guna mencapai tujuan mulia , yakni mencapai derajat takwa kepada Allah. Dengan berpuasa, ada dua dimensi yang dapat terjalin. Pertama, dimensi vertikal, yaitu pengabdian manusia kepada Sang Maha Pencipta (al-Khaliq). Kedua, dimensi horizontal, yakni hubungan yang terbangun dengan baik antara sesama ciptaan Tuhan (makhluk).

Lima Prinsip Pancasila

Di dalam konteks kehidupan kebangsaan, puasa merupakan ritus yang selaras dengan falsafah Pancasila, karena di dalamnya tak lepas dari aspek teologis dan humanitas. Lebih jauh, puasa dapat menjadi katalisator pembelajaran dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila . Jika dikaitkan dengan spirit Ramadan, sesungguhnya antara puasa dan Pancasila mempunyai keterhubungan. Kohesivitas ini setidaknya tertuang ke dalam lima prinsip Pancasila.

Per ta m a, puasa merupakan pancaran dari keinsafan ma nu - sia di dalam menjalankan ajaran Tuhan. Pancasila meng amanat - kan kepada manusia Indonesia agar memegang teguh agama dan melaksanakan a jarannya secara sadar dan penuh ke - ikhlasan. Adanya laku ke iman - an ini menandakan telah ter - bukanya jiwa manusia Panca - silais. Dari situ tampak bahwa sesungguhnya laku keimanan melalui ibadah puasa ialah pengukuhan kesadaran yang dalam akan kehadiran Tuhan.

Kesadaran inilah yang me - landasi ketakwaan dan mem - bimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Terlebih lag i puasa merupakan ibadah yang khusus antara Tuhan dan hamba-Nya, yang tidak termasuki oleh sikap pamrih. Seorang yang menahan dirinya sebulan penuh puasa tid ak meng harapkan apaapa kecuali rida A llah se - hing ga se se orang yang ber - puasa akan me rasa malu kepada Allah untuk me - langgar larang an-larang - an-Nya. Ia malu jika me - lakukan tindakan seperti ko rupsi, mem bunuh, me - mer kosa, me nipu, meng - hasut, mem fit nah, dan praktik-praktik keji lain - nya.

Kedua, puasa mencer - min kan hubungan ke - manusiaan yang egaliter. Ketika berpuasa, kita tidak sekadar merasakan rasa lapar dan dahaga, namun juga turut me - nyelami menjadi orang yang benar-benar papa. Dengan demikian, puasa bukan sekadar ritus menahan haus dan lapar semata. Tetapi, lebih dari itu, ia hadir untuk mem - bentuk manusia yang peka terhadap realitas sosial. Nurcholish Madjid (1993) pernah mencatat bahwa etika sosi al yang paling utama dalam ajaran agama, yaitu egalitarian - i sme, paham yang berupaya menempatkan manusia pad a posisi yang setara. Ia tidak boleh dibedakan dalam harkat dan martabatnya.

Terlebih lagi da - lam alam demokrasi yang sudah sangat terbuka seperti saat ini hendaknya penind asan manu - sia dalam bentuk yang tradisio - nal maupun modern harus di - hilangkan. Di samping itu, menebarkan cinta kasih kepad a sesama umat manusia adalah sebuah tindakan yang bernilai kemanusiaan ting gi karena setiap manusia mendambakan kedamaian di dalam hidupnya. Ketiga, puasa dapat meman - car kan rasa persatuan dan ke - satuan bangsa. Hal ini misalnya dapat kita saksikan dan rasakan saat adanya momen sahur dan berbuka puasa bersama yang dilakukan, baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, kelom - pok masyarakat, maupun pada tingkat kelembagaan.

Memang tak dapat dimung - kiri bahwa dengan beragamnya pembelahan sosial yang sangat plural di masyarakat, rentan ter jadinya konf lik. Namun, hal itu tidak akan menjadi runcing manakala yang dicar i ad alah simpul persamaan dan bukan perbedaan sehingga satu sama lain saling mengenal dan dapat menjaring persatuan nasional. Realitas kekinian yang men - j adi ujian bangsa ini seperti ada - n ya uj aran kebencian, per - musuhan, aksi kekerasan, dan gesekan sesama anak bangsa setelah pilkada dan pemilu, d alam momentum Ramadan ini sepatutnya di akhiri.

Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika Indonesia harus pecah dan runtuh hanya karena masalahmasalah politik temporer. Sejarawan terkemuka Kunto wijoyo di dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam (1997) pernah meng ungkap - kan, agar persatuan dapat ter - cipta, Pancasila harus di - masya rakatkan se bagai common deno minator (rujukan bersama) ti d ak hanya untuk Islam, namun semua agama, ras, suku, dan kelomp o k ke pen - ting an.

Semua agama perlu menatap Pancasila se bagai suatu objektivi - kasi ajaran agama seba - gai rujukan ber sama. Keempat, puasa dapat meng hadirkan nilai-nilai kebijak sana an yang bisa diimplemen tasikan dalam menangani per - soalan-persoalan ma - sya rakat dan ke bang sa - an. Jika selama ini rea - litas sosial-politik ba - nyak dis esaki oleh ke - gaduhan sikap egosen - tri sme, puasa d apat men jadi alar m untuk me nyeles ai kannya de - ngan cara-cara ber a dab berdasarkan musyawarah.

Demok rasi per mu - sya wa rat a n yang ber sifat egaliter dan inklusif kerap kali terping gir kan oleh pengadopsian nilainilai demokrasi liberal, yang membuat banyak pihak tidak memiliki akses di dalam proses pengambilan ke - putusan, se hingga hasil yang di - lahirkan sering kali tak pari - purna. Maka dari itu, peran elite di sini penting untuk menjadi teladan bagi masyarakat dalam mem beri jalan keluar (solusi) ke tim bang debat kusir yang bersifat retoris-artifisial. Kelima, puasa dapat menjadi pancaran keadilan sosial. Hal ini tercermin d ari adanya ritus me - nunaikan zakat fitrah di bulan puasa dan Ramadan.

Sikap filan - tropis ini merupakan peng - ejawantahan nilai-nilai Panca - sila yang mencerminkan ke adil - an dan kesejahteraan. Zakat fitrah sebenarnya merupakan bentuk peringatan simbolik tentang kewajiban bag i anggota masyarakat untuk berbag i kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, dalam hal ini fakir miskin (duafa). Dari seg i jumlah dan jenis - nya sendiri, zakat fitrah mung - kin tidaklah begitu berarti bag i kalangan yang ekonominya ber - kecukupan. Tetapi, lebih dar i itu, yang lebih asasi dari zakat fitrah adalah lambang keadilan dan solidaritas sosial.

Dalam bahasa lain, zakat fitrah adalah lambang tanggung jawab kema - syarakatan kita yang dituai dar i proses ibadah puasa. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, sila kelima Pancasila perihal keadilan sosial kerap kali dilupakan sebagai pedom an dalam pembangunan sosialekonomi nasional. Akibatnya, kesenjangan sosial-ekonomi se - makin lebar. Puasa hen dak nya mampu menumbuhkan rasa soli daritas dan empati ki ta ke - pada masyarakat yang ku rang beruntung.

Tidakkah kita ingat, ketika bangsa ini sedang berjuang melawan penindasan dan penjajahan pada masa lalu, solidaritaslah yang mampu menjadi obat mujarab bagi terbuka luasnya gerbang kemerdekaan. Akhirnya, Ramadan dan ritus puasa hendaknya tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tapi lebih dari itu, dapat menjadi momen refleksi untuk memperkuat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Sebagai bangsa yang besar, kita hendaknya memiliki jiwa yang besar, terutama dalam menghadapi persoalan kebangsaan. Untuk itu, mari kita secara konsisten terus menyemai keteladanan perilaku, baik dalam kehidupan seharihari maupun kehidupan kebangsaan sesuai dengan nilainilai luhur Pancasila.


(Mohon maaf, karena proses edit belum diselesaikan )