Jumat, 09 Juni 2017

May Be Thatcher

May Be Thatcher
Muhammad Takdir ;  Alumnus Geneva Centre for Security Policy (GCSP), Swiss
                                                   KORAN SINDO, 08 Juni 2017



                                                           
Judul tulisan di atas sangat multi-interpretatif secara linguistik. Tetapi, hal itu sekadar untuk mengingatkan bahwa Theresa May yang akan dihadapi Jeremy Corbyn pada pemilihan umum 8 Juni 2017 bukanlah wanita lemah sebagaimana diyakini selama ini setelah May menerima tongkat kepemimpinan dari David Cameron.

Seperti kata koran-koran Amerika dan Jerman, May adalah ”the British Angela Merkel”, mengandaikannya dengan Kanselir Jerman yang dikenal keras dan tough. Mengapa harus jauh-jauh, boleh jadi Theresa May reinkarnasi legenda mantan PM Inggris yang lain, Margaret Thatcher. Perdana Menteri Inggris Theresa May harus memanfaatkan seminggu terakhir ini untuk dapat mengalahkan Jeremy Corbyn, kandidat Partai Buruh yang jadi lawan politiknya.

Se jumlah analis memperkirakan bahwa pemilu Inggris yang akan digelar pekan ini akan ber langsung ketat meskipun secara keseluruhan masih in favour pada keunggulan Theresa May. Saat ini, tracking polls memang memperlihatkan angka-angka yangtidakmenggem birakanbagi May, pemimpin partai penguasa, Konservatif. Perbedaan dukungan pada kedua partai utama antara Konservatif dan Buruh kian kecil.

Dalam polling yang terakhir dilakukan Harian The Telegraph, keunggulan sementara May menurun dari 17.8 poin menjadi di bawah 10 poin sejak pemilu diputuskan untuk dipercepat pada pertengahan April 2017. May sedikit terbantu oleh insiden bom teroris di Kota Manchester akhir Mei 2017 yang memperlambat surge dukungan bagi Jeremy Corbyn. PM Theresa May terlihat memberi respons cepat terhadap insiden tersebut.

Konferensi persnya di depan Kantor PM Downing Street 10 menyiratkan sosok kuat May seperti Thatcher ketika menyatakan bahwa tindakan pengecut pelaku akan dibalas dengan sikap berani oleh penduduk Kota Manchester. May kemudian me nun jukkan kepeduliannya dengan mengun jungi kota itu seperti George Bush menda tangi reruntuhan Twin Tower saat serangan 11 September dan me lakukan pertemuan dengan Wali Kota Man chester Andy Burnham.

Ketika terpilih menggantikan David Cameron menyusul hasil Brexit yang pahit bagi Partai Konser vatif pada Juni 2016, May menjadi wanita kedua setelah Margaret Thatcher yang menjabat PM dalam sejarah Inggris. May seketika dibandingkan dengan Thatcher, legenda wanita Inggris yang me mimpin negara itu pada tahun 1979 sd 1990 dan dijuluki ”the Iron lady”. Terlalu dini memang membandingkan May dan Thatcher meng ingat mantan Mendagri dibawah PM Cameron itu belum cukup setahun men jabat PM.

Namun, dengan tan tangan yang kini di hadapi Inggris, May bisa men jelma menjadi Thatcher versi baru progresifkonservatif. Kemampuan May memelihara kapitalisasi politiknya selama enam tahun dalam urusan home affairs cukup membuktikan bahwa ia lawan yang terlalu tangguh bagi Corbyn. Cukup untuk dicatat, posisi kekuasaan di Kementerian Dalam Negeri selalu menjadi ”political grave yard ” akibat kegagalan maupun skandal bagi banyak politisi Inggris yang menjadi pendahulunya dalam portofolio tersebut.

May bertahan sebagai Mendagri paling lama pada jabatan itu dalam sejarah pemerintahan Inggris sepanjang kurun waktu hampir seabad. Banyak orang melihat kesamaan May dan Thatcher sebagai dua politisi yang memulai per jalanan karier politiknya dengan status veteran Partai Konservatif yang berpengalaman. Walaupun sejujurnya, pengalaman May pada saat menduduki jabatan PM dinilai jauh lebih panjang daripada Thatcher mengingat tugas pemerintahannya di Kemendagri Inggris.

Dalam polling data yang dirilis YouGov Mei 2017, faktor ”inexperience ” masing-masing memperoleh hasil polling yang rendah (9/2). Sebaliknya pada bagian indeks kemampuan, baik May dan Thatcher memperoleh persentase penilaian yang sama meyakinkan sebagai ”capable leader ” (40/39). Satu hal yang membuat May diperkirakan mampu bertahan dari gempuran lawan-lawan politiknya dari Partai Buruh adalah orientasinya tentang masa depan Inggris pasca-Brexit yang tidak bergeser dari prinsip ”free market over socialism”.

Ini juga merupakan argumen Thatcher ketika meng hadapi paralized Partai Buruh sebagai partai berkuasa yang membuat Inggris sedemikian terpuruk pada akhir dekade 1970-an sehingga terpaksa dengan rasa malu tinggi harus meminta bant uan pinjaman IMF. Sarkas - memasa depan Inggris ke tika itu bahkan dapat dibaca dari sindir anUniSoviet yang menyatakan tidak ingin meningkatkan perdagangannya dengan Inggris karena ke terpurukannya.

”Your goods are unreliable, you’re always on strike, and you never deliver ” tuding Kremlin. Inggris sebelum Thatcher adalah negara yang pesimistis, depresif, serta selalu merasa mudah terkalahkan. London kehilangan kepercayaan diri dan confidence karena reputasi mereka rusak oleh kelompokkelompok buruh yang terus menggerogoti kebesaran the Great Britain. Semua kegiatan ekonomi seolah berhenti akibat imunitas perlawanan kelompok buruh terhadap ekspansi kapitalisme global yang saat itu demikian diacuhkan oleh Partai Buruh.

Dengan memberikan komparasi May dan Thatcher menjelang pemungutan suara di Inggris, kita menjadi percaya bahwa ulasan tentang wanita, kekuasaan, dan ”women in power” adalah realitas yang tidak dapat lagi kita sembunyikan di tengah dominasi politik maskulin yang semakin kehilangan aura di Inggris.

Pasca-Thatcher, figur pria yang mendominasi Downing Street 10 dari John Major, Gordon Brown, Tony Blair, hingga David Cameron adalah penguasa maskulin yang kerap mewariskan Inggris ber bagai persoalan di pengujung masa pemerintahan mereka. Terakhir, David Cameron mem berikan shocking supprise yang pahit bagi masa depan Inggris di Eropa, Brexit! Sebaliknya, Thatcher ketika meninggalkan panggung kekuasaan telah mewariskan Inggris yang optimistis, victorious, aktif, dan determinasi tinggi dalam semua urusan yang melibatkan Inggris Raya.

Theresa May punya kesempatan untuk mem buka kembali pathway yang ditinggalkan Thatcher, tetapi dirinya harus lebih dahulu memenangkan pertarungan dengan Jeremy Corbyn secara meyakinkan pada pemilu 8 Juni 2017 ini serta membuktikan bahwa ia dapat atau akan seperti Margaret Thatcher.