Kamis, 01 Juni 2017

Kemelut Industri Gula

Kemelut Industri Gula
JA Noertjahyo  ;   Wartawan Senior;  Pengamat Industri Gula
                                                          KOMPAS, 31 Mei 2017



                                                           
Dua laporan tentang industri gula di Kompas, Senin (15/5), menyiratkan sengkarut industri gula yang semakin ruwet dan parah. Nasib petani tebu rupanya tidak pernah beranjak dari keterpurukannya.

Tahun 1983 Kompas memuat serial tulisan "Kemelut Industri Gula". Pada bagian pertama, tulisan berjudul "Ada Tangis di Balik Gemerlapnya PG" (Kompas, 7 November 1983). Kini, setelah hampir 34 tahun tulisan itu dimuat, ternyata "Derita Petani Tebu Kian Parah".

 Penutup tulisan tahun 1983 itu berbunyi: "Kemelut industri gula sudah cukup runyam dan lama berjalan. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, impor gula bisa membengkak dan rencana berswasembada akan tetap impian kosong".

Puluhan tahun

Tahun 1987, Kompas menurunkan lagi serial "Simfoni Industri Gula" dengan tiga tulisan berjudul "Terjebak di Tanahnya Sendiri", "Keberhasilan Itu Meminta Korban", dan "Pergunjingan Terus Berlangsung".

Selanjutnya ada tulisan  "Industri Gula Nasional: Dibiarkan Mati ataukah Dipertahankan" (Wayan R Susila, 10 November 2001), dan "Nyawa Pabrik Gula Digantungkan di Tangan Petani" (Andreas Maryoto, Kompas, 29 Mei 2002). Dalam buku Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani (JA Noertjahyo, Penerbit Buku Kompas, 2005) pun dimuat sebuah bab berjudul "Manisnya Gula, Pahitnya Petani".

Selain memaparkan kondisi pergulaan kita, hampir semua tulisan itu juga memberikan masukan tentang cara-cara yang bisa ditempuh untuk memperbaiki industri gula.

Pemerintah melalui Departemen Pertanian memang sudah berbuat banyak untuk membenahi industri  gula. Namun, dengan memperhatikan kenyataan yang ada pada saat ini,  berbagai pertanyaan muncul.

 Laporan wartawan Kompas, 15 Mei, di antaranya berbunyi: "Saat ini, petani yang memanen lebih awal, seperti di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hanya mendapat 500-600 kuintal per hektar dari biasanya 700 kuintal per hektar. Rendemen hanya 5,5 persen, jauh dari kondisi ideal di atas 7,5 persen." Hablur gulanya pun hanya sekitar 33 kilogram/hektar. Sungguh memprihatinkan.

Dibandingkan data-data beberapa dekade perjalanan industri gula, kenyataan itu memang memilukan. Seperti  produksi tebu/ rendemen 1930 (130,6/14,76), 1940 (137,8/12,79, 1950 (88,3/ 10,59), 1960 (82,3/10,89), 1970 (96,4/9,06), 1980 (72,8/9,00), dan 1990 (76,9/7,55). Praktis produktivitas lahan dan tingkat rendemen rata-rata kurang dari separuh dengan kecenderungan terus merosot.

Dari ladang

Produktivitas lahan dan tingkat rendemen ditentukan mulai dari ladang. Waktu dan cara menggarap lahan harus benar dan tepat. Demikian juga waktu tanam, memupuk, mengairi, klenthek, sampai saat tebang pada kematangan puncak. Kualitas bibit dan kesuburan lahan juga sangat menentukan.

Menurut John Vermeer, dulu Kepala Bagian Tanaman PNP XX/Gula, menanam tebu perlu disiplin ketat pada semua tahapan. Ini dia buktikan saat meningkatkan produktivitas pabrik gula (PG) di Madiun dan sekitarnya pada 1975. Dokumen perusahaan menyebutkan, produksi hablur per hektarnya, PG Kanigoro 151,9 kuintal, PG Sudhono 150,8 kuintal, PG Pagottan 150,3 kuintal, dan PG Purwodadi 135,6 kuintal. Karena itu, empat PG di Madiun dan sekitarnya yang bernaung di bawah PNP XX berturut-turut menduduki tempat teratas dalam keunggulan produksi di antara PG-PG seluruh Indonesia (Kompas, 26 Juni 1983).

Atas prestasinya yang gemilang, John Vermeer menerima penghargaan dari Menteri Pertanian Prof H Thoyib Hadiwidjaja.

John Vermeer juga mengingatkan, cara menebang tebu pangkalnya harus mbuntut tikus dan  kotorannya (pelepah daun, tanah, dan lain lain) harus dibersihkan. Tebu harus segera diangkut dan dalam waktu 24 jam tebu sudah masuk penggilingan. Jika lebih dari 24 jam, kandungan gula tebu mulai berfermentasi dan menurunkan tingkat rendemen.

Tanaman tebu sebaiknya hanya dikepras maksimal dua kali. Lebih dari dua kali kandungan gulanya sudah jauh merosot. Jika kita perhatikan, saat ini banyak petani yang mengepras sampai empat kali atau lebih.

Perlakuan saat tanam sampai tebang juga asal-asalan, bahkan banyak yang baru masuk penggilingan setelah tiga hari (atau lebih) dari saat tebang. Di beberapa PG terlihat antrean truk pemuat tebu berderet-deret, ada yang harus menginap lebih dari semalam untuk masuk ke mesin penggilingan. Akibatnya, rendemen turun. Semakin lama antre semakin besar rendemen turun.

Bibit dan pupuk

Sudah puluhan tahun petani kesulitan mendapatkan bibit varietas tebu unggul. Akibatnya, banyak petani yang menanam bibit seadanya dengan panenan yang kurang baik. Karena itu, salah satu rekomendasi Rakernas APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) di P3GI Pasuruan 12-13 Mei 2017, adalah terpenuhinya bibit tebu varietas unggul yang selama ini tidak mudah didapat (Kompas, 16 Mei 2017).

Rekomendasi lain tentang perbaikan permodalan, infrastruktur pengairan, kuota impor, serta revitalisasi pabrik gula, dan tanaman tebu. "Itu tanggung jawab negara," ujar HM Arum Sabil, Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat APTRI.

Jika disimak, semua rekomendasi merupakan persoalan lama yang dihadapi dan belum pernah ada penyelesaian yang tepat.

Kondisi yang berlarut ini, secara implisit tersirat dalam judul berita Kompas, 17 Mei 2017, halaman 22: "Revitalisasi Industri Pabrik Gula Mendesak", dengan intro: "Tidak ada jalan lain mengembalikan kejayaan petani tebu dan industri gula nasional selain merealisasikan program revitalisasi yang sudah digagas lebih dari 40 tahun. Diperlukan sinergi yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam industri pergulaan nasional dan mengesampingkan ego sektoral."

Selama itu, apa yang kita lakukan? Semoga kita-terutama mereka yang terlibat dalam industri gula-mencapai kesadaran penuh dan bangkit untuk berbuat secara tepat. Biarlah gula terasa manis untuk semua pihak.