Kamis, 08 Juni 2017

Karangan Bunga, Lilin, dan Facebook Anak SMA

Karangan Bunga, Lilin, dan Facebook Anak SMA
Rahmat Petuguran  ;   Penulis buku Politik Bahasa Penguasa;
Mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang;
Tiap Selasa malam mengasuh kelas penulisan di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)
                                                     DETIKNEWS, 07 Juni 2017



                                                           
Suatu saat bangsa ini akan terbelah karena perdebatan: apakah air mengalir ke atas atau ke bawah. Pernah membayangkan bahwa perdebatan "tingkat tinggi" semacam itu akan terjadi? Bukan cuma akan terjadi, tapi jadi perdebatan nasional yang melibatkan jutaan orang!

Berkaca pada masa lalu, kegilaan semacam itu sangat mungkin terjadi. Lebih-lebih kalau framing debatnya dikaitkan dengan identitas dan keyakinan, debat itu pasti bakal riuh seperti obral kolor murah di depan pabrik konveksi pada jam pulang kerja.

Kelompok pertama akan berargumentasi bahwa air mengalir bagian lebih rendah. Argumentasi itu bertumpu pada sifat fisika air yang selalu menyesuaikan bentuk wadahnya. Pada saat yang sama, air merupakan objek yang tertarik oleh gaya gravitasi.

Kelompok kedua akan berargumentasi bahwa konsep atas dan bawah kita selama ini keliru. Landasannya adalah bentuk bumi yang bulat dan mengambang di jagat raya. Yang dianggap bawah oleh penduduk bumi selama ini, ternyata adalah atas.

Perdebatan "berkualitas" semacam itu tiba-tiba akan menghiasi laman jutaan pengguna medsos. Awalnya cuma dilakukan oleh para lajang pengangguran atau blogger pencari klik berbayar. Tapi, karena dibumbui keyakinan dan identitas, para akademisi mulai turun gunung dan terlibat. Perdebatan itu pun menasional.

Kekonyolan itu sangat mungkin terjadi karena sudah ada formulanya. Berulang kali formula terbukti manjur. Hal-hal remeh-temeh digoreng demikian rupa sehingga bisa jadi isu nasional yang menguras energi banyak orang. Lihatlah perdebatan mengenai karangan bunga, lilin, hingga status Facebook anak SMA. Sesuatu yang amat lokal dan personal tiba-tiba mengudara, seperti urusan kebangsaan yang amat penting.

Empat Tahap

Formula itu bisa dirinci dalam empat tahapan; publikasi, rekontekstualisasi, simbolisasi, dan ideologisasi. Pada tahap publikasi, terjadi persebaran informasi yang cepat. Peristiwa yang privat, berskala lokal, dikabarkan dengan massif melalui berbagai media sehingga diketahui banyak orang. Dia hadir begitu saja dalam genggaman banyak orang, di ruang-ruang yang amat privat.

Pintu rumah kita bisa tertutup hingga tetangga yang mau main mengurungkan niatnya. Tapi, sejauh terhubung dengan internet, kabar dari berbagai penjuru dunia datang begitu derasnya. Kabar-kabar yang sebenarnya tidak kita harapkan, tapi tidak bisa kita tolak ketika telanjur dalam genggaman.

Tahap kedua adalah rekontekstualisasi. Pada tahap ini, sebuah peristiwa yang konteksnya unik hanya pada saat peristiwa itu terjadi, dihadirkan kembali dengan konteks yang berbeda. Para penutur adalah para pengarang yang sesungguhnya. Sebab, ketika ia menuturkan sesuatu yang telah terjadi, dia menghadirkan kejadian itu dengan konteks berbeda.

Keniscayaan ini membuat sebuah berita atau cerita, lazim diplintir sana dan plintir sini sesuai pemahaman dan kepentingan penuturnya. Dalam banyak kasus, peristiwa yang sebenarnya tak penting dikontekstualisasikan kembali seolah-olah berkaitan dengan kepentingan banyak orang. Rekontekstualisasi semacam itu jadi modus operandi supaya sebuah cerita/berita jadi perhatian banyak orang.

Nah, pada tahap ketiga dilakukan simbolisasi. Pada tahap ini, sebuah peristiwa atau tokoh diasumsikan sebagai simbol semata yang mewakili atau merepresentasikan sesuatu yang lebih besar. Ada status nyeleneh anak SMA dianggap sebagai "kebangkitan pemikiran liberal". Ada orang berjilbab yang belajar berkuda dan memanah, dianggap "kebangkitan radikalisme".

Ketika sebuah peristiwa atau tokoh menjadi simbol, tokoh atau peristiwa itu sendiri tidak dianggap penting. Tapi, pada saat yang sama, keduanya menjadi sangat penting karena mewakili sesuatu yang lebih hakiki.

Tahap terakhir adalah proses ideologisasi. Tokoh atau peristiwa yang mulanya sebagai orang atau peristiwa biasa, didudukkan secara ideologis seolah-oleh berkaitan dengan keyakinan, ideologi, atau identitas. Jika sudah mencapai tingkat ini, siapa pun jadi bergairah untuk terlibat berdebat karena keyakinan, ideologi, dan identitasnya terusik.

Tidak heran kalau kaum cendekia juga kerap terjebak dalam perdebatan semacam itu. Karena, ketika menyangkut ideologi, kencedekiawanan bisa menjadi tampak tidak penting.

Keempat tahap itu melahirkan imaji keterlibatan. Seseorang yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tokoh atau peristiwa yang sedang dibicarakan, tiba-tiba merasa dekat bahkan terlibat. Imaji keterlibatan ini membuat urusan yang amat jauh, tidak ada sangkut pautnya, berubah jadi seolah-oleh tampak dekat, penting, mendesak.

Sementara itu, tetangga yang sakit, anak saudara yang putus sekolah, atau selokan depan kompleks yang tersumbat justru berubah tidak lagi menjadi penting. Sebab, prioritas penting dan tidaknya sebuah urusan sudah terbolak-balik.

Makanya, tidak heran kalau kita temukan teman (atau bahkan kita sendiri), terlibat debat panjang lebar soal Pancasila hingga lupa menjenguk tetangga yang sakit. Kadang kita debat membahas kesahihan hadis sampai lupa menjawab telepon dari bapak atau ibu.

Anatomi Perdebatan

Kalau mau jujur, bangsa kita memang sudah terbelah dalam dua kubu besar. Dua kubu besar itu sudah jadi pola dasar yang punya ideologi dan kepentingan berseberangan. Isu apa pun yang muncul, akan disikapi dengan pola dasar dua kubu itu.

Kalau kubu pertama bicara A, maka kubu kedua harus bicara B. Ini bukan karena argumentasi kubu pertama salah, sehingga harus dikoreksi. Bukan itu. Tapi, karena pola dasar dua kubu itu akan membuat satu kubu merasa gengsi untuk bersikap sama dengan kubu lainnya.

Soal argumentasi, itu mah gampang! Masing-masing kubu sudah punya "barisan intelektual" masing-masing, yang siap menyalahkan kubu seberang sambil mengklaim bahwa kubunya sendiri lebih benar dan mulia.

Itulah pola dasar relasi bangsa kita sekarang ini. Makanya, kalau ada kubu yang bilang air mengalir ke bawah, kubu lain harus bicara air mengalir ke atas.

Dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, perdebatan tidak dimenangkan siapa pun. Kalaupun ada yang menang, adalah mereka yang mampu menahan diri untuk tidak terlibat perdebatan.

Dengan menghindari debat, mereka menyimpan energi untuk menyelesaikan kerjaannya. Dengan menghindari debat, mereka bisa menjaga kehangatan relasi bertetangga. Dengan menghindari debat, mereka menghindari risiko larut dalam arus besar kegilaan fanatisme.