Sabtu, 08 April 2017

Zaman Baru

Zaman Baru
Bre Redana  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 02 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Setiap kali menyusuri Jagorawi sekarang ini, melihat tiang-tiang pancang light rail transit (LRT) di pinggir tol, rasanya seperti tengah mimpi. Inikah zaman baru? Di balik tiang-tiang pancang yang tengah dibangun-kini mengular hampir sepenuhnya tersambung-terbayang wajah Presiden yang bekerja.Matur sembah nuwun, Pak.

Teman dari Kuala Lumpur yang menginap di rumah saya di Ciawi dan berada dalam mobil saya berujar: Jakarta will soon be a modern city. Kota-kota modern umumnya memang memiliki kereta entah itu yang bergerak di bawah tanah, underground, ataupun melayang di atas jalan raya dengan berbagai sebutannya. Di Bangkok disebut BTS.

Kereta akan menjadi alternatif dari jalur ini yang kian hari kian macet. Masuk tol JORR, frustrasi bertambah. Kecepatan kendaraan 20 kilometer per jam. Ini sama kecepatan zaman baru di Jawa, saat selesainya pembangunan Jalan Raya Pos Daendels pada awal abad ke-19. Jalan Daendels menandai kemajuan Jawa, dengan kecepatan kereta kuda 18 hingga 20 kilometer per jam. Dengan kata lain, mau dengan mobil semewah apa pun sekarang, kita sebenarnya tengah merangkak serupa di zaman pra-abad ke-20.

Kalau dilanjutkan ke Sumatera, selain jalanan yang rusak dan rawan longsor, persoalan bertambah dengan rawan kejahatan. Lagi-lagi, barangkali situasinya tidak beda dengan ketika Dr Jan Willem Ijzerman melakukan ekspedisi dari Padang Panjang ke Siak pada abad ke-19. Seyogianya pengemudi di jalur ini diizinkan menyandang revolver.

Dengan berbagai atribut modern, banyak yang belum berubah pada kita. Dari buku Engineers of Happy Land karya Rudolf Mrazek terbaca, pada masa itu kebersihan jalan menjadi problematik tersendiri. Orang kadang bahkan membuang hajat di tengah-tengahnya. Belum lagi kotoran binatang kerbau, sapi, kuda. Debu jalanan menyebarkan ancaman tetanus.

Ibu nasionalisme Indonesia, RA Kartini, juga pernah menyinggung perlunya kebersihan jalan. Kebersihan jalanan baginya adalah cermin kemurnian zaman. Bagi Kartini, jalanan harus terbuat dari bahan yang keras dan bersih, dan dengan itu tak ada yang sanggup menghentikan roda-roda kemajuan.

Apa yang kita lihat kini? Kelas menengah bermobil entah mewah atau ecek-ecek memperlakukan jalan raya sama seperti dilakukan pembuang kotoran sekitar 300 tahun lampau. Begitu jalan menuju arah Puncak dibuka seusai pemberlakuan jalur satu arah, jalan tol dipenuhi sampah kelas menengah kita: botol minuman, gelas kertas bermerek kopi internasional, kotak makanan, plastik, dan lain-lain. Bekas buang air kecil ada, untung tidak ada yang senekat meninggalkan bekas buang air besar.
Pemuda-pemuda dalam usia produktif menjajakan makanan masuk ke jalan tol. Yang lain lagi membujuk para pengendara untuk dipandu melewati jalan alternatif di kampung-kampung. Di setiap tikungan, orang mengacungkan tangan meminta jatah. Jumlah pengutip uang ini pasti jauh lebih banyak dibandingkan dengan pos-pos pemeriksaan di zaman Jalan Daendels.

Oleh karena itu, siapa tak bermimpi akan lahirnya zaman baru dengan adanya LRT, MRT, atau angkutan umum sejenis bagi masyarakat urban? Nantinya, transportasi ini akan memicu perkembangan daerah-daerah pinggiran menjadi suburban dengan kultur modern. Tanda-tandanya sudah kelihatan. Hotel-hotel dan kafe-kafe modern kini berkembang di pinggiran Jagorawi dan tol-tol lain di sekitar Jakarta. Perumahan modern di Sentul pada perempatan jalan memasang karya ikonik seniman kontemporer Robert Indiana, patung berupa huruf L.O.V.E. Seperti tas perempuan Hermes, karya ini terkenal di seluruh dunia.

Menurut berbagai laporan, tiang pancang LRT Cawang-Cibubur menghabiskan biaya Rp 2,5 sampai Rp 3 triliun. Seketika terbayang, korupsi e-KTP senilai Rp 2,3 triliun. Kalau tidak ditelan oleh mulut rakus para koruptor, uang sejumlah itu bisa untuk membuat tiang pancang LRT sampai ke depan gang rumah saya di Cibedug-Ciawi.

Sumpah, di tengah perasaan bersyukur, saya tidak pernah bisa menghilangkan kegeraman saya terhadap para koruptor di negeri ini!