Senin, 03 April 2017

Pancasila dan Penyakit Antikeragaman

Pancasila dan Penyakit Antikeragaman
A Helmy Faishal Zaini  ;   Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
                                              MEDIA INDONESIA, 01 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

EDITORIAL harian Media Indonesia, Kamis (30/3), bertajuk Antikeberagaman kian Mencemaskan membuat kita harus menarik napas panjang. Sejumlah pertanyaan kemudian menyusul begitu saja. Benarkah sedemikian mengkhawatirkan kondisi kebangsaan kita? Apakah betul penghayatan terhadap nilai-nilai keberagaman sudah sangat luntur? Saya ingin memulai menjawab kegelisahan pertanyaan itu dengan sebuah inisiatif kecil yang beberapa waktu lalu saya tempuh. Insiatif itu, terus terang saya ambil sebagai wujud ekspresi kekhawatiran saya atas merebaknya semangat menghargai perbedaan antara elemen bangsa. Saya membuat video pendek berdurasi satu menit yang saya sebarkan via akun media sosial Instagram yang saya miliki. Video itu saya beri tajuk Makna Perbedaan. Isinya berupa grafis visual soal bagaimana seharusnya kita memaknai perbedaan. Saya membuka video itu dengan kalimat

"Saat engkau melihat awan di langit membentuk lafaz Allah, engkau berkata: inilah tanda kebesaran Allah. Namun, saat engkau melihat manusia yang berbeda-beda suku, rasa, agama, golongan, engkau malah menganggap mereka musuh yang harus dibunuh dan diperangi. Mengapa tak kau lihat tanda kebesaran-Nya?" Apa hasilnya? Video itu dilihat ratusan ribu orang. Ia menyebar begitu masifnya. Bahkan, belakangan saya tahu, beberapa kalangan selebgram juga ikut menyebarkan video itu. Saya menangkap ada semacam dahaga asupan renungan untuk memaknai dan menyikapi keberagamaan yang dirasakan kebanyakan kita. Saya menyebut kegiatan itu sebagai dakwah virtual. Sebuah ikhtiar dakwah atau ajakan yang mediumnya berupa dunia digital. Hal ini sudah mulai marak dilakukan, utamanya di Nahdlatul Ulama (NU) dengan gerakan netizen NU-nya. Lalu hubungannya apa dengan kebinekaan?

Tentu saja titik tekan yang ingin saya sampaikan ialah semangat memaknai perbedaan di bangsa kita memang belakangan terindikasi memudar. Maraknya kelompok yang anti liyan dan cenderung membenarkan pandangannya sendiri adalah tanda utama memudarnya semangat menghargai keragaman ini. Penting untuk disadari bahwa kita hidup bergelimang perbedaan. Antara satu dengan yang lainnya sudah pasti berbeda. Itulah yang disebut dengan istilah binneka. Kita tidak bisa menolak perbedaan. Yang bisa kita lakukan ialah mengolahnya menjadi energi yang positif dan berguna. Yang bisa kita kerjakan ialah meletakkan perbedaan sebagai bahan baku mencari titik-titik persamaan sekaligus mentransformasikannya menjadi kekuatan positif. Saya sepakat dengan pendapat yang mengatakan, ibarat benda, Indonesia benda yang berbahan baku perbedaan. Ia harus dirajut dan ditenun. Pekerjaan merajut dan menenun ialah tugas kita bersama agar kain keindonesiaan itu tidak terkoyak atau bahkan robek. Saya ingin mengatakan, secara terminologis, ada yang patut untuk dikritik dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu.

Sejak kanak-kanak jika selalu diajari bahwa arti dari Bhinneka Tunggal Ika ialah meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Padahal jika kita telaah lebih dalam manakah di kalimat Bhinneka Tunggal Ika itu yang bermakna satu? Kata tunggal artinya bukan satu, melainkan hanya satu, the only, satu-satunya. Tunggal berarti tiada duanya, bukan satu, melainkan satu-satunya. Jadi, Bhinneka Tunggal Ika itu artinya berbeda-beda, tapi hanya satu jua. Makna berbeda-beda, tapi hanya satu jua ini mengandaikan Indonesia yang berbahan baku beragam aneka suku, bangsa, budaya dan juga karakter ini bisa melebur hanya satu-satunya menjadi dan dalam wadah Indonesia yang tiada duanya. Dalam kaitan menyatunya kebinekaan itu, yang patut untuk disadari ialah bukan dengan cara menghilangkan identitas asalnya, tapi sebaliknya identitas dan budaya asal justru harus diperkuat adanya. Ini mutlak diperlukan karena banyaknya pandangan yang menyatakan bahwa jika kita ingin menjadi Indonesia, kita harus meninggalkan budaya asli kita.

Kerap kita temui cemoohan anak muda di Ibu Kota terhadap rekannya dari Jawa, Madura, atau Batak yang mengejek serta mengolok-olok corak bahasa Indonesianya yang katanya medok rasa Jawa, Madura, dan juga Batak. Padahal, ibarat makanan, Indonesia ialah rujak. Untuk menjadi rujak yang berkualitas baik, diperlukan bahan baku yang baik pula. Rujak itu membutuhkan cabai dengan kualitas nomor satu, mentimun yang segar, petis udang yang asli. Kualitas bahan baku itulah yang membuat rujak itu menjadi rujak nomor satu. Artinya, untuk menjadi Indonesia kita harus tetap menjaga keragaman serta keaslian budaya kita, bukan malah sebaliknya menghilangkannya. Kebinekaan itu harus kita kelola dan kita rayakan. Bahkan manusia memang secara fitrah diciptakan dalam beragam macam perbedaan. Dalam Alquran disebutkan "Yaa ayyuhannas inna kholaqnakum min dzakarin wa unsta wajaalnaakum suuban waqobaila lita'arofu," yang berarti, Wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan aku menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." Pada hemat saya, menjamurnya gerakan-gerakan yang antiliyan akhir-akhir ini disebabkan minimnya kesadaran dan penghargaan kita terhadap realitas kemajemukan yang ada. Kita mungkin sudah lupa bahwa betapa realitas konstruksi keindonesiaan dibangun di atas konsensus perbedaan yang disatukan sebuah cita-cita menuju kehidupan yang makmur, merdeka, dan bermartabat.

Dalam bahasa sosiolog Ben Anderson (1999) masyarakat Indonesia disatukan kesatuan cita dan asa. Mereka mungkin belum pernah bertemu satu dengan yang lainnya, secara fisik, tapi mereka punya kesatuan tekad dan kesamaan cita. Itulah yang dimaksud dengan masyarakat terbayang imagined community. Tantangan-tantangan yang kita hadapi ke depan kian beragam. Pelbagai sektor siap menanti kita. Ekonomi, politik, pendidikan, dan juga kesehatan. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat itu, tak elok dan tidak atau bahkan sangat salah jika hari ini kita masih berkubang pada perdebatan yang cenderung mempermasalahkan perbedaan dan kebinekaan yang alamiah dan fitrah kita miliki sebagai sebuah entitas bangsa dan negara.

Oleh karena itu, menghadirkan kembali Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika-nya dalam tafsir-tafsir yang lebih membumi, progresif, dan juga aplikatif ialah sebuah langkah yang tidak boleh ditawar kembali.

Dengan hadirnya Pancasila dengan tafsir-tafsir progresif sekaligus membumi dan aplikatif itu diharapkan generasi muda penerus bangsa terus aktif terlibat dalam usaha-usaha menjaga harmoni dalam keragaman di bawah semangat serta spirit Bhinneka Tunggal Ika. Jika hal itu tidak bisa kita tempuh, bukan tidak mungkin jika semangat antiliyan sebagaimana yang terjadi belakangan. Ia akan menjadi kanker yang bisa menyebar dan menggerogoti tubuh dan jiwa kebangsaan kita. Semoga itu tidak terjadi.