Selasa, 11 April 2017

Orang Baik

Orang Baik
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 09 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hari ini saya bermaksud mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda sekalian. Apakah menurut orang lain, Anda itu termasuk orang baik? Yang saya maksud dengan orang lain itu bukan anak, bukan pasangan, bukan orangtua Anda.


Kalau orang lain sampai menganggap Anda adalah makhluk yang baik, apakah itu karena Anda memang dikenal baik oleh mereka atau mereka mendengar dari cerita bahwa Anda orang baik tanpa pernah membuktikannya?

Ceritanya

Saya mengajukan pertanyaan ini karena beberapa minggu lalu seorang teman dekat memberikan semacam laporan bahwa saya ini ternyata sampai sekarang masih dianggap banyak orang sebagai orang yang tidak baik. Tak lama setelah saya mendengar laporan itu, seorang teman dekat saya berniat menjodohkan saya bercerita begini.

"Tapi ya, Mas, waktu aku nyebut namamu, dia langsung bilang enggak ah, Samuel itu, kan, galak dan enggak baik orangnya." Teman dekat saya itu meyakinkannya bahwa saya itu sama sekali tidak seperti anggapannya itu. Sayang, usahanya untuk meyakinkan berakhir dengan gagal total.

Selesai mendengar ceritanya itu, saya balik bertanya kepada teman dekat saya itu. "Emang teman kamu itu kenal aku? Kok dia bisa bilang aku ini galak dan enggak baik?" Kemudian teman saya menjelaskan. "Enggak sih. Dia enggak kenal kamu, dia cuma tahu kamu. Mungkin dia pernah dengar dari cerita orang-orang lain kalau kamu kayak gitu."

Setelah kejadian ini berlangsung, saya jadi berpikir. Kalau saya ini bukan termasuk orang yang bisa disebut orang baik, mengapa ada beberapa orang yang masih mau berteman bahkan menjadi teman dekat dengan makhluk hidup seperti saya yang bukan orang baik itu?

Apakah artinya orang-orang yang mau berteman dengan saya mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain untuk melihat saya sebagai orang yang banyak kekurangan, tetapi masih memiliki sisi baik sehingga mereka dapat bertahan berteman bertahun lamanya?

Atau apakah mereka yang bisa berteman dengan saya ternyata sama tidak baiknya? Sehingga kalau sama-sama negatif malah jadi positif alias cocok. Sama seperti kata pepatah, burung dengan bulu yang sama umumnya bertengger bersama.

Buktinya

Atau malah, mereka yang bisa berteman dengan saya bertahun lamanya itu karena mereka bukan manusia yang mudah menerima mentah-mentah soal cerita, tetapi memilih untuk melihat bukti nyata.

Dan setelah mereka membuktikan, mereka mampu melihat kalau saya ini memiliki dua sisi seperti semua manusia, dan mereka memilih mengambil sisi baik itu sebagai kekuatan untuk berteman dengan saya bertahun lamanya.

Atau mereka mau berteman dengan saya karena buat mereka orang disebut baik itu tidak sama dengan orang yang sempurna. Bahwa orang yang disebut baik itu bisa berkali-kali jatuh dan membuat kekesalan, seperti mereka juga mampu jatuh dan membuat kekesalan berkali-kali.

Mendengar cerita atau membaca, mau yang didengar atau dibaca itu benar atau tidak, keduanya akan memberikan informasi atau masukan. Tetapi melihat, mengalami dan mengamati secara langsung adalah satu cara untuk membuktikan apakah yang didengar atau yang dibaca itu benar adanya atau tidak benar sama sekali.

Tetapi saya harus mengakui kalau mendengar cerita apalagi yang sudah dibumbui, entah bumbunya pedas setengah mati atau manisnya luar biasa, acap kali bisa membangun opini bagi yang menerimanya. Opini itu adalah bentuk awal penghakiman. Penghakiman yang bisa jadi melahirkan ketakutan, menghilangkan banyak kesempatan dan menggagalkan cita-cita.

Tulisan ini tidak untuk membersihkan saya dari bayangan orang tentang betapa jahatnya saya. Sama sekali tidak. Saya malah jadi belajar sesuatu dari komentar dua teman saya di atas, untuk melakukan pencegahan sedini mungkin untuk menjadi manusia yang hanya percaya melalui jalan mendengar dan membaca, tanpa berniat membuktikan kebenarannya, dan memercayai yang belum terbukti benar itu sebagai sebuah kebenaran.

Tiba-tiba nurani saya bertanya begini. "Kalau setelah pembuktian dilakukan dan kamu menemukan bahwa benar seseorang itu tidak baik, kamu mau ngapain? Musuhin? Menyebarkan cerita tidak baik ke mana-mana, atau tetap berteman?"

Saya langsung menjawab. "Enggak musuhin tapi gak mau dekat-dekat." Nurani saya tampak tak mau kalah dan kemudian menyindir dengan tajam. "Apalah gunanya kamu berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepadamu?"