Selasa, 11 April 2017

Tak Lucu

Tak Lucu
Putu Setia  ;   Pengarang;  Wartawan Senior Tempo
                                                      TEMPO.CO, 08 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hadir pada ulang tahun Romo Imam, saya diminta menyampaikan kritik. Saya katakan Romo sudah berubah. "Tidak lagi lucu, baik saat memberi wejangan maupun saat menulis di jurnal. Barangkali faktor usia," kata saya.

Romo langsung terbahak. "Sampeyan benar," katanya. "Ulah para negarawan kita sudah tidak lagi pada tingkat yang dianggap lelucon. Sudah persoalan serius yang harus diingatkan bahwa mereka sangat tidak layak. Mereka memberi contoh yang buruk, tak pantas disebut yang terhormat atau yang mulia. Bagaimana menyikapi ini dengan lucu?"

Saya paham arahnya dan karena itu ikut tertawa. "Coba sampeyan pikir. Sidang Dewan Perwakilan Daerah seperti anak-anak TK berebut hadiah cokelat, saling dorong. Di mana lucunya? Mereka menyebut dirinya senator meski itu berbau Amerika, padahal di sana kan negara serikat, kita negara kesatuan. Mereka dipilih untuk mewakili daerah menampung aspirasi yang mungkin tak tertampung oleh wakil rakyat dari partai politik, eh, malah kini menjadi anggota partai, bahkan jadi pengurusnya."

"Jadi ketua umum partai, Romo," saya memotong. Romo bertambah semangat. "Ya, ketua umum partai dan kini menjadi ketua lembaga perwakilan daerah itu. Dia bilang tidak berambisi. Bahkan, menjelang terpilih secara aklamasi, dia bilang sempat dibangunkan. Langsung perut jadi mual mendengarnya, apa dikira kita ini bodoh? Terus lucunya di mana?"

"Ada yang lebih lucu, Romo. Mahkamah Agung membuat keputusan mahapenting dengan salah ketik dan keputusan salah ketik itu dijadikan alasan pula untuk memilih pimpinan wakil daerah," kata saya. Romo langsung merespons: "Kalau itu dianggap lucu, sampeyan ikut menghina lembaga negara. Bagaimana mungkin keputusan yang menyangkut negara dan bangsa sampai salah ketik? Memangnya selesai diketik langsung diteken hakim agung tanpa dibaca berulang-ulang? Memangnya tukang ketik itu tamatan sekolah dasar? Omong kosong semuanya, ini kesengajaan. Kalau itu kekeliruan, harus diganjar dengan sanksi. Jika perlu, tukang ketik dan tukang tekennya dipecat."

Saya diam. Romo memang betul berubah. Kesannya jadi pemarah, bukan lagi humoris. "Sampeyan pikir lagi, keputusan MA mencabut tata tertib dan memberlakukan tata tertib lama di mana jabatan pimpinan wakil daerah itu tetap lima tahun. Tapi ini dilabrak dan tetap memilih pimpinan yang baru. Eh, kenapa MA mau melantiknya pula? Kan, artinya menelan ludah sendiri. Memang enak ludah itu ditelan?"

"Romo, MA bukan melantik, tapi menuntun pengambilan sumpah," kata saya. "Apa bedanya? Itu kan alasan dibuat-buat karena dihujani kritik," Romo cepat membalas. "Ayo buat survei, tanya masyarakat, apa tahu bedanya MA melantik pimpinan lembaga negara dengan MA menuntun sumpah? Baru pertama kali ini ada istilah menuntun sumpah. Sumpah kok dituntun, memangnya yang menuntun itu sudah tahu ke arah mana perjalanan sumpah? Pendeta atau ulama yang mendampingi orang yang disumpah saja dinyatakan sebagai saksi, bukan penuntun."

Saya kira Romo betul-betul berubah, sepertinya tak ada sisa humornya. "Kalau begitu, prediksinya siapa yang menang di DPD ini, Romo?" tanya saya. Romo menjawab kalem: "Mungkin para ketua partai itu. Ketua DPR kan ketua umum partai, ketua MPR juga ketua umum partai, DPD kenapa tidak? Tinggal ketua umum partai lainnya dicarikan tempat yang layak." Romo terbahak-bahak.

"Nah, lucu dong, Romo bisa tertawa," kata saya. Romo berhenti tertawa: "Saat ini orang tertawa bukan karena ada yang lucu, tapi menertawakan sebuah kebodohan."