Minggu, 04 Januari 2015

“Quo Vadis” Balai Budaya?

“Quo Vadis” Balai Budaja?

Agus Dermawan T  ;  Kritikus; Penulis Buku-buku Sosial, Budaya, dan Seni
KOMPAS, 02 Januari 2015
                                                
                                                                                                                       


Belum lama ini, pelukis senior Sri Warso Wahono (kelahiran Solo 1948), berpameran tunggal di Balai Budaja, atau Balbud, Jakarta. Sekitar 40 lukisan ia gelar di gedung tua itu. Di tembok yang belang-belang lantaran kotor, karya-karyanya hadir tersipu. Di bawah plafon yang reyot, mengelupas, serta bocor-bocor, lukisan-lukisannya merunduk menyapa penonton yang berdiri di ruang redup tanpa AC dan berlantai tidak rata.

”Saya sengaja pameran di gedung ini agar Pemerintah DKI Jakarta dan Indonesia tahu bahwa Balbud masih ada. Walaupun gedung ini sudah sakit jantung akut, sekaligus asam urat, mata, darah tinggi, lever, stroke, dan sekalian sakit hati, tiada yang peduli. Semoga pameran ini memberi inspirasi: Balbud disembuhkan atau sekalian disuntik mati,” kata Warso, yang pernah menjadi pengurus Museum Wayang dan Dewan Kesenian Jakarta.

Kondisi Balbud—terletak di Jalan Gereja Theresia 47, Menteng, Jakarta Pusat—memang menyedihkan.

Secara arsitektural, gedung ini tidak memiliki keistimewaan apa-apa sehingga dalam kitab Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (H Heukun SJ, 1997) Balbud tidak termasuk dalam kategori cagar budaya. Namun, gedung ini memiliki riwayat yang padat dalam sejarah panjang kebudayaan dan kesenian bangsa Indonesia.
Balbud (dengan logo asli ”Balai Budaja” masih terpasang dalam ejaan lama), didirikan pemerintah pada 1954, untuk kemudian dikelola oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Lembaga ini menjumbulkan Balbud sebagai tempat berkumpul seniman, pemikir kesenian, penulis, dan filsuf dari antero Indonesia. Tahun 1950-1970-an tampaklah Mochtar Lubis, Asrul Sani, Misbach JB, Umar Kayam, Taufiq Ismail, Soe Hok Djien, Kusnadi, HB Jassin, Zaini, Soedjatmoko, Goenawan Mohamad, dan puluhan lainnya.

Dapur ide

Di Balbud, ide-ide besar kebudayaan sering dicetuskan dengan penuh keberanian, baik lewat sarasehan, diskusi, maupun seminar resmi. Di Balbud, berbagai anugerah kesenian prestisius diberikan oleh BMKN. Bahkan, Manifesto Kebudayaan yang menghebohkan pada 1963 dan ditentang Presiden Soekarno, di situ juga dikonsep serta digelorakan.

Pada tahun 1968, Gubernur Jakarta Ali Sadikin menyaksikan kegemilangan Balbud. Atas dorongan para seniman Balbud, yang notabene alumni kelompok seniman Senen, ia menggagas pendirian Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Cikini Raya. Meski TIM berdiri dan aktif, Balbud tetap menjadi tempat tujuan. 

Teater dan sastra serius dipentaskan. Pameran seni rupa pun bertubi-tubi digelar
Kemasyhuran Balbud sebagai rumah seniman, filsuf, dan intelektual pemberani diendus aparat keamanan Orde Baru. Ketika peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) 1974 meletus, tentara mencari ”dalang kerusuhan” Aini Chalid di Balai Budaja meski ia sedang tidak berada di sana. Pada tahun 1978, aparat Laksusda (Pelaksana Khusus Daerah) juga terus mengintai WS Rendra di Balbud. Namun, penyair penerima Hadiah BMKN 1956 ini ditangkap 1 Mei di 
rumahnya di Pejambon, Jakarta.

Balbud akhirnya menjadi tempat singgahan, bahkan penginapan para perupa dari luar kota. Apalagi, setelah diketahui bahwa Nashar, sang pelukis legendaris, juga tinggal di sayap kanan gedung.

Kehadiran seniman semakin ramai ketika sayap kiri gedung dipakai sebagai kantor redaksi majalah sastra Horison, yang dikelola Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Bambang Bujono, dan sebagainya. Di Balbud, motivasi untuk berkesenian mudah terunggahkan.

”Mereka tidak hanya tidur, namun juga merembuk ide-ide. Berjam-jam dalam sehari, sampai larut malam,” kata sastrawan Motinggo Boesje, yang nyaris saban hari ke situ.

Ikut direformasi

Tahun 1998 terjadi reformasi. Entah apa kesalahannya, Balbud juga ikut direformasi. Pengelolaan Balbud yang ditangani sastrawan Hamsad Rangkuti diguncang sejumlah seniman. Hamsad dan segenap ”menteri”-nya mundur. Namun, Balbud yang tadinya padat kegiatan justru malah sepi acara. Alhasil, dalam sehari-harinya gedung yang sangat strategis tempatnya ini hanya memajang koleksi yang sama selama berbelas tahun. Di antaranya, lukisan Abas Alibasyah.

Sejak itu, selama 16 tahun, Balbud tak ada yang mengurusi. Sejumlah kolektor 
besar ingin membeli gedung ini untuk dirata-tanah, dan dibanguni gedung baru multifungsi, dengan menyediakan ruang seni bernama ”Balai Budaja” sebagai heritage.

Namun, kepada siapa gedung ini bisa dinego, tak ada orang paham. Sementara para pengurus BMKN bagai hilang ditelan zaman. Akan ke mana (quo vadis) Balai Budaja menuju, siapa yang tahu.

Adakah nasib malang Balai Budaja akan mengikuti nasib buruk Karta Pustaka di Yogyakarta? Perpustakaan besar milik konsulat kedutaan Belanda ini adalah terminal nutrisi para budayawan Yogyakarta sejak 1968 yang tutup lantaran kekurangan dana awal Desember 2014.

Kini, Jakarta memiliki Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang punya kepedulian terhadap situs-situs perjuangan kebudayaan dan kesenian. Semoga Balai Budaja segera diurus sehingga sosoknya tidak semakin memalukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar