Kamis, 01 Januari 2015

Kecelakaan Pesawat dan Visi Selamat

                       Kecelakaan Pesawat dan Visi Selamat

Abdul Rohim Tualeka  ;   Dosen Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
KORAN SINDO,  31 Desember 2014

                                                                                                                       


Dalam satu tahun ini telah terjadi beberapa kali kecelakaan pesawat, mulai kasus pesawat mendarat darurat, jatuh, hilang, terbakar baik pesawat komersial maupun militer.

Angka kerugian berupa nyawa melayang, kerugian secara fisik dan material sangat besar. Untuk pesawat AirAsia yang masih dalam proses pencarian menelan kerugian sekitar Rp200,5 miliar. Itulah risiko kecelakaan di pesawat. Tingkat risikonya tinggi bila dibandingkan dengan risiko moda transportasi yang lain. Karena tingkat risikonya tinggi maka penerapan aspek keselamatan di maskapai penerbangan harus menjadi prioritas utama.

Sedikit saja terjadi kesalahan menyebabkan kecelakaan maka akan memberikan efek yang luar biasa baik terhadap animo penumpang maupun kerugian secara finansial yang bisa membuat maskapai bangkrut. Kasus ini telah dialami oleh salah satu maskapai penerbangan di Indonesia.

Visi Selamat

Dalam tataran aspek keselamatan penerbangan tampaknya maskapai masih berorientasi pada konsep-konsep keselamatan yang telah kedaluwarsa. Seperti human error yang sering dikambinghitamkan sebagai penyebab utama keselamatan. Manusialah, pemberi kontribusi 88% dari setiap kejadian kecelakaan.

Faktor human error ini mengganti aspek mechanical error yang pada 10 tahun sebelumnya sering dijadikan penyebab utama kecelakaan. Namun, tidak pernah disangka ibarat tubuh manusia, human error masih merupakan bagian terluar dari penyebab kecelakaan.

Bagian yang lebih dalam dari tubuh manusia adalah perilaku, lebih dalam yaitu struktur sistem, lebih dalam lagi yaitu mental model, dan lebih dalam lagi yang merupakan inti penyebab semua kejadian adalah visi. Daniel Kim (2010) mengatakan visi merupakan pengungkit utama dari semua kejadian yang ada.

Adanya visi sehat dan selamat akan melahirkan kejadian yang selamat, begitu pula visi tidak sehat dan tidak selamat akan menjadikan kejadian tidak sehat atau tidak selamat. ”Anda adalah apa yang anda pikirkan,” ini adalah kata-kata mutiara yang sering diungkapkan. Kita dapat melihat bahwa banyak perusahaan, termasuk maskapai penerbangan yang tidak memiliki visi selamat.

Para maskapai banyak yang memiliki visi komersial, finansial, karena itulah yang dikejar. Target utama maskapai adalah jumlah seat atau tempat duduk yang digunakan, selalu diharapkan 100%. Target tempat duduk memang wajar bagi suatu perusahaan maskapai. Namun, harus diketahui bahwa tingkat risiko kecelakaan pesawat (dilihat dari aspek peluang dan konsekuensi) termasuk tinggi.

Tingginya risiko kecelakaan pesawat disebabkan faktor frekuensi bukan probabilitas. Probabilitas kecelakaan memang rendah, namun konsekuensi kejadiannya, yakni kerugian secara finansial dan imej perusahaan sangat besar. Ini yang sering menjadikan maskapai bangkrut. Untuk menurunkan konsekuensi kecelakaan dari tinggi menjadi rendah dibutuhkan kekuatan visi keselamatan maskapai.

Dengan visi keselamatan maskapai akan memberikan anggaran yang tinggi untuk program keselamatan, membuat standar-standar keselamatan, serta berbagai pelatihan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar-standar keselamatan yang telah ditetapkan.

Apa yang terjadi pada kasus hilangnya pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 adalah indikasi lemahnya program keselamatan dan tidak adanya kepatuhan terhadap standar keselamatan yang telah ditetapkan, bisa juga karena lemahnya standar keselamatan penerbangan.

Telah jamak diketahui seperti yang disinyalir oleh para ahli penerbangan bahwa hilangnya pesawat tersebut karena tidak mampu keluar dari awan cumulonimbus yang sering dikatakan sebagai raja segala awan, penyebab terjadinya kecelakaan pesawat. Bagaimanapun besarnya atau luasnya awan itu bukanlah menjadi akar utama terjadi kecelakaan.

Penyebabnya yakni tidak adanya kepatuhan terhadap standar (yaitu harus men-delay penerbangan karena adanya awan), karena begitu teridentifikasi keberadaan awan tersebut apalagi diketahui jarak awan sekitar puluhan mil maka seharusnya tidak bisa dijadikan lintasan penerbangan. Penyebab perilaku tidak patuh terhadap standar karena lemahnya struktur sistem maskapai dalam memberikan reward dan punishment (reinforcing factor), juga karena sikap atau mental model.

Berdasarkan hasil riset, 85% mental model orang Indonesia adalah mental model negatif, termasuk di dalamnya mental model tidak selamat. Walaupun secara teknis pesawat layak terbang, adanya mental model tidak selamat sebagai penyebab utama kecelakaan. Pemaksaan pesawat untuk terbang dalam kondisi cuaca darurat karena ada raja awan di area lintasan pesawat adalah bagian dari mental model tidak selamat.

Apalagi di atasnya terdapat pesawat lain yang juga melintas membuat pesawat mudah terjebak bila terbang dalam kondisi cuaca darurat. Mental model negatif disebabkan oleh visi negatif. Visi inilah yang menjadi akar dari setiap kejadian. Dengan visi selamat akan melahirkan kejadian selamat.

Dengan visi tidak selamat akan melahirkan kejadian tidak selamat, karena visi merupakan akar dari setiap kejadian maka visi maskapai sebenarnya harus menjadi fokus utama pemerintah dalam menilai kelayakan suatu maskapai. Visi selamat telah menjadi visi bersama semua karyawan maupun manajemen, termasuk pilot, kopilot, dan penjaga menara.

Visi selamat merupakan doa selamat bila didengungkan secara terus menerus pada setiap individu di maskapai ketika berkomunikasi dengan seseorang maupun lebih akan melahirkan budaya selamat di maskapai. Lewat visi atau doa selamat ini, salah satu ketua ormas besar Islam di Indonesia mengimbau agar para penumpang pesawat senantiasa berzikir kepada Allah.

Budaya selamat adalah perilaku selamat yang dilaksanakan secara otomatis, karena kejadiannya di bawah sadar. Insiden AirAsia mengindikasikan belum adanya budaya selamat di maskapai tersebut. Pada 2015 pemerintah Indonesia telah mencanangkan sebagai tahun Indonesia berbudaya K3. Adanya kecelakaan pada maskapai AirAsia ini memberikan umpan balik kepada pemerintah bahwa Indonesia memang belum berbudaya K3.

Pemerintah harus bekerja keras untuk menciptakan budaya K3 bagi semua lapisan masyarakat di Indonesia, khususnya perusahaan- perusahaan yang memiliki risiko tinggi terjadi kecelakaan seperti maskapai penerbangan. Pemerintah harus fokus pada pembenahan visi perusahaan agar semua perusahaan memiliki visi selamat. Visi itu harus menjadi visi bersama yang akan melahirkan budaya selamat.

Visi selamat melahirkan mental model selamat, mental tersebut akan melahirkan struktur sistem selamat. Struktur sistem selamat akan melahirkan budaya selamat, budaya selamat akan melahirkan kejadian selamat. Dengan budaya selamat pada maskapai akan memberikan kenyamanan pada semua penumpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar