Kamis, 21 Februari 2013

Geopolitik PKS


Geopolitik PKS
Ibnu Budiman Anggota Forum Indonesia Muda
REPUBLIKA, 20 Februari 2013

Artikel dengan judul yang sama pernah dimuat di SINAR HARAPAN 15 Februari 2013


Beberapa saat setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq diboyong KPK dengan status tersangka dalam kasus suap kuota impor daging sapi, jutaan kader PKS di berbagai daerah di Indonesia pun langsung bereaksi. Ada beraneka macam jenis reaksi.
Dari berbagai reaksi yang muncul, yang paling menarik adalah reaksi dari sejumlah kader muda PKS yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Mereka yang masih menyandang amanah di berbagai organisasi intra maupun ekstra di sekolah atau kampusnya masing-masing ini menunjukkan militansinya sebagai kader yang begitu mencintai PKS dengan melakukan pembelaan ha bis-habisan. 

Justifikasi bertubi-tubi di berbagai media sosial dan fitur internet lainnya yang membela LHI dan PKS pun terus berdatangan dari para kader muda tersebut. Justifikasi dari para kader muda tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan-pernyataan, poster-poster, artikel-artikel di berbagai media sosial, hingga pembuatan grup facebook yang menyatakan dukungan terhadap LHI dan pembelaan terhadap PKS. 

Hal ini menunjukkan bahwa kaderisasi PKS yang masuk melalui penetrasi ke berbagai organ intrasiswa dan mahasiswa di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, ternyata berjalan sangat sukses. Daerah-daerah yang sukses tersebut, di antaranya Depok, Bandung, Banten, Semarang, Yogyakarta, Padang, Medan, serta Aceh. Di sejumlah daerah tersebut, terdapat perguruan tinggi-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah dengan kualitas pendidikan relatif baik di Indonesia.

Daerah-daerah di atas menjadi lumbung kader muda PKS. Selain di daerah- daerah tersebut, di berbagai daerah lainnya, seperti Jawa Timur, Lampung, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan hingga Maluku, PKS juga tengah gencar melakukan penetrasi untuk menjaring pemuda-pemuda kelas menengah menjadi kader-kadernya.

Selanjutnya, usai justifikasi terhadap LHI mereda, topik pengangkatan Anis Matta sebagai pengganti LHI menjadi presiden PKS pun kembali meramaikan nama PKS di seantero Indonesia. Siapa yang meramaikan topik ini? Mereka kembali datang dari daerah-daerah di atas yang menjadi lumbung kader muda PKS. Hal ini juga ditunjukkan oleh sejumlah kader muda PKS yang membanjiri media sosial dengan pernyataan-pernyataan dukungan terhadap Anis Matta, bahkan hingga memasang foto Anis Matta menjadi foto profil dalam akun media sosialnya. Pembuktian bahwa daerah-daerah tersebut sebagai lumbung kader muda PKS semakin terbukti setelah Anis Matta menentukan daerah-daerah yang menjadi tujuan safari dakwahnya. 

Dalam melancarkan aksi justifikasinya, para kader muda PKS dibantu oleh keberadaan sejumlah media massa partisan yang dimiliki PKS. Media massa partisan inilah yang mencoba melawan arus serangan media massa besar lain yang seolah anti-PKS. Media massa partisan ini bukan hanya ada di tingkat nasional, beberapa media massa lokal juga terlihat memiliki haluan yang sama.

Beberapa media massa tersebut bertempat di daerah-daerah yang hampir sama dengan daerah-daerah yang disebutkan di atas sebagai lumbung kader muda PKS. Daerah-daerah tersebut, di antaranya Semarang, Solo, kawasan pantura, Muria, Banyumas, Kedu, hingga Jember. 

Sejumlah media massa partisan itu dalam memberitakan PKS terlihat membentuk pola berbeda dengan sebagian besar media massa lainnya. Jika dilakukan penelusuran terhadap semua berita yang terkait PKS di media itu, akan didapatkan berita-berita yang cenderung memberikan pembelaan dan berita-berita positif tentang PKS. Sejumlah berita-berita inilah yang kemudian gencar disebarluaskan oleh para kader muda PKS yang aktif di berbagai media jejaring sosial.

Dalam studi geografi politik, ada teori geopolitik heartland dan rimland.
Heartland sebagai daerah yang menjadi jantung kekuatan dari gerakan politik dan rimland sebagai daerah yang menjadi perluasan ruang gerak kekuatan dari heartland tadi. Pola menarik yang terlihat dari multiplier effect kasus LHI menggambarkan heartland dan rimland PKS saat ini di Indonesia.

Peristiwa sebelumnya yang juga memicu terlihatnya heartland dan rimland PKS adalah momentum Pemilu 2009. Dari pemilu tersebut terlihat PKS meraih suara signifikan di Sumatra, sebagian besar Jawa, hingga beberapa daerah di Kalimatan dan Sulawesi. Hal ini mengindikasikan bahwa heartland PKS ketika itu berada di Sumatra dan sebagian Jawa bagian barat. Kemudian, rimland-nya berada di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara, dari kasus LHI sekarang terlihat terjadi perubahan geopolitik PKS. Heartland PKS saat ini semakin luas hingga mencakup daerah-daerah yang dahulunya menjadi rimland-nya pada 2009. Daerah tersebut, antara lain, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Otomatis ini membuat rimland- nya pun semakin melebar hingga ke daerah Indonesia timur.

Dilihat dari daerah-daerah di atas, tampak ada sebuah karakteristik daerah yang menjadi sasaran perluasan geopolitik PKS, yaitu daerah-daerah yang memiliki perguruan tinggi dengan kualitas relatif baik di Indonesia. Pasar PKS yang menjaring kader-kader muda dari kelas-kelas menengah terdidik membuat daerah-daerah tersebut pun menjadi geostrategi PKS dalam menentukan geopolitiknya.

Masa Depan PKS

Penjaringan kader muda di daerah-daerah adalah geostrategi bawah tanah PKS yang paling sukses dibanding berbagai parpol lainnya di Indonesia. Jumlah kader muda ini diduga sudah mencapai jutaan di Indonesia. Mereka dirancang dari sekarang untuk menjadi pemimpin-pemimpin di daerah.

Kasus LHI yang menghancurkan citra PKS saat ini di mata publik secara umum, tidak berpengaruh terlalu besar terhadap kesetiaan para kader muda.

Sistem kaderisasi doktrin melalui sistem kelompok-kelompok sel di PKS membuat militansi mereka menjadi sangat kuat. Hal ini dibuktikan dari penyangkalan dan justifi kasi yang dilakukan oleh hampir seluruh dari mereka. Meski untuk 2014 kasus ini mungkin berdampak terhadap elektabilitas PKS di publik, PKS menyimpan amunisi masa depan untuk mewujudkan visi mereka. ●