Minggu, 04 Juni 2017

Puasa Ramadan di Era Digital

Puasa Ramadan di Era Digital
Choirul Mahfud  ;   Dosen Studi Islam Institut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS) Surabaya
                                                        JAWA POS, 02 Juni 2017



                                                           
Selama satu bulan penuh, umat Islam di seluruh dunia menjalani ibadah puasa Ramadan. Di Indonesia, rasanya ada yang lain dari biasanya dalam menyambut sekaligus mengisi aktivitas ibadah pada bulan suci ini.

Bila kita mau memperhatikan lebih saksama, umat Islam di Indonesia kini sungguh mulai akrab dengan teknologi informasi (TI). Melalui berbagai perangkat TI dan media sosial (medsos), sejumlah ulama, kiai, ustad, hingga santri melakukan inisiatif yang kreatif dan inovatif dalam menyuguhkan kajian dan tausiahnya.

Beberapa di antaranya adalah KH A. Mustofa Bisri, Din Syamsuddin, Haedar Nashir, Ulil Abshar Abdalla, Kuswaidi Syafi’ie, Muhammad Al-Fayyadl, Habib Luthfi, Gus Yusuf Chudori Ghofar, dan masih banyak lagi lainnya. Para tokoh, ulama, kiai, ustad, dan santri di negeri ini banyak yang apresiatif dan respektif. Misalnya saja, banyak sekali yang menyimak kajian tausiah Ihya Ulumuddin yang disampaikan Ulil Abshar Abdalla, didukung istrinya dengan fasilitas live streaming di Facebook-nya.

Begitu juga yang dilakukan Gus Mus (sapaan akrab KH A. Mustofa Bisri) melalui YouTube. Lalu komunitas Facebook Nutizen. Juga komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) yang dipimpin M. Husnaini, juga produktif menelaah kajian puasa setiap hari. Bahkan, tidak ketinggalan tausiah dari tokoh Muhammadiyah seperti Pak Haedar Nashir dan Pak Din Syamsuddin melalui media TVMU.

Fenomena tersebut tampaknya menarik perhatian publik. Rasanya, era digital betul-betul membawa perubahan yang luar biasa signifikan. Ada nuansa yang berbeda dibanding tahun sebelumnya. Puasa tahun ini benar-benar disambut meriah di dunia digital.

Menariknya lagi, bila diperhatikan, sambutan dan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan melalui medsos juga dilakukan umat nonmuslim. Hal itu bisa dilihat, misalnya, dari status Facebook tokoh perempuan Tionghoa Anita Lie dan Esther Kuntjara (UK Petra Surabaya).

Bukan hanya itu, fitur-fitur e-mail, website, dan Facebook hingga Google juga memberikan tawaran template atau aplikasi otomatis bertulisan ”Selamat Berpuasa Ramadan Kareem” dan semacamnya. Inilah sisi lain puasa Ramadan di era digital.

Mari kembali ke bahasan mengapa para ulama, kiai, ustad, dan umat Islam di negeri ini mulai banyak menggunakan media dakwah dan tausiah melalui internet. Tentu saja banyak alasan yang sekurang-kurangnya bisa dipahami dari analisis berikut.

Pertama, sebagai media alternatif melawan paham terorisme. Belakangan ini banyak sekali isu dan masalah fundamental serta radikal terkait terorisme, bahkan bom bunuh diri.

Berbagai masalah tersebut diduga awalnya berasal dari pesan salah (hoax) soal dakwah melalui internet. Isi-isi pesan dakwah seolah didominasi konten yang cenderung menebar paham kebencian satu dengan lainnya. Bulan Ramadan inilah dianggap kesempatan yang baik untuk memberikan solusi tausiah Islam ramah yang penuh rahmat. Hal itu setidaknya bisa dipahami dari ulasan dan alasan Ulil di Facebook-nya.

Kedua, alasan audiens di medsos internet yang memerlukan siraman rohani. Rasanya tidak semua umat Islam sebagai audiens selalu berkesempatan mendengar ceramah di masjid atau musala. Melalui perangkat internet, pilihan penggunaan medsos tentu saja menjawab sekaligus memenuhi harapan audiens tanpa batas. Audiens bisa menjangkau batas-batas jarak geografis. Bukan hanya warga Indonesia yang tinggal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Artinya, berdakwah melalui internet menemukan momentumnya dan sesuai dengan harapan generasi masa kini. Disampaikannya materi tausiah pada akhirnya bisa dijangkau siapa saja di seluruh dunia sehingga yang rindu nuansa kajian pesantren bisa terjawab. Termasuk bagi yang penasaran nuansa Ramadan di negeri ini.

Ketiga, sebagai upaya meraih berkah. Sebagaimana dimafhumi, bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, rahmah, dan magfirah-Nya. Seluruh aktivitas mulia melalui semua media dakwah virtual di era digital ini bisa dipahami sebagai bagian untuk meraih berkah.

Praktisnya, para mubalig, ulama, kiai, dan ustad berinisiatif dengan sukarela penuh dedikasi berbagi ilmu pengetahuan agama melalui media virtual. Ibarat dua sisi mata uang, aktivitas dakwah dan tausiah berbasis TI saling terkait satu dengan lainnya. Bila kita bisa memanfaatkan dengan baik, tentu saja menjadi teladan yang baik dan ada banyak peluang yang dapat digunakan semua pihak untuk menebar kebaikan serta keberkahan demi kemajuan umat dan bangsa. Semoga.