Rabu, 07 Juni 2017

Menghadirkan Harapan Bung Karno

Menghadirkan Harapan Bung Karno
Fariz Rifqi Ihsan  ;   Mahasiswa Pascasarjana UI;
Komite Politik dan Keamanan, Presidium GMNI
                                                   KORAN SINDO, 06 Juni 2017

                                                                            

                                                           
BUNG Karno merupakan presiden sekaligus proklamator bangsa Indonesia yang disegani dunia internasional. Bung Karno telah mengguncang dunia dengan ide-idenya yang progresif revolusioner untuk menciptakan perdamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa di dunia. Hal tersebut pernah disampaikannya dalam pidato berjudul To Build The World A New, 56 tahun silam di Gedung PBB, New York, Amerika Serikat.

Namun adanya de-Soekarnoisasi mulai rezim Orde Baru hingga hari ini semakin memperkecil peranan dan kehadiran Soekarno dalam sejarah dan ingatan bangsa Indonesia. De-Soekarnoisasi yang sedang terjadi hari ini adalah dengan cara mereduksi dan membiaskan pemikiran Bung Karno untuk kepentingan politik sesaat bahkan untuk memecah belah persatuan bangsa ini.

Tujuannya orang-orang Indonesia semakin tidak mengenal, melupakan, serta menyalahartikan peran Bung Karno dalam membangun persatuan bangsa Indonesia dan dunia. Penulis sebagai kaum muda menilai sudah sepantasnya untuk menggaungkan dan mengenalkan kembali pemikiran-pemikiran Bung Karno sebagai bapak bangsa Indonesia sekaligus tokoh pemersatu bangsa-bangsa di dunia.

Salah satu ide otentik dari Bung Karno adalah tentang Trisakti yang berisi berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya. Ide orisinal Bung Karno tersebut telah diadopsi Kuba melalui Fidel Castro.

Fidel Castro mengadopsi dan menerapkan ide orisinal Bung Karno itu secara konsisten dalam seluruh sistem pemerintahannya. Konsistensi yang paling terlihat adalah menolak segala bentuk pendiktean tentang ekonomi, politik dan budaya oleh bangsa lain.

Selain itu, harapan Bung Karno tentang pembebasan bangsa-bangsa Arab terhadap penjajahan telah diwujudkan melalui Konferensi Asia-Afrika yang berhasil memerdekakan negara-negara tersebut. Demikian pula dukungan Bung Karno kepada perjuangan rakyat Palestina melawan Israel. Banyaknya kenangan dan peran Bung Karno pada dunia sehingga sering sekali diabadikan menjadi nama jalan di luar negeri.

Berbicara mengenai harapan Bung Karno, tentunya kita dapat melihat pidato 1 Juni tentang Pancasila, yang baru-baru saja kita peringati sebagai hari lahirnya Pancasila. Dalam pidato tersebut Bung Karno berharap bisa menggapai cita-cita mulia bangsa Indonesia, masyarakat adil dan makmur yang selanjutnya menawarkan Pancasila sebagai landasan ideologi.

Untuk mencapai cita-cita mulia tersebut, persatuan nasional adalah keniscayaan. Kata persatuan pun menyihir semua elemen bangsa untuk memerdekakan Indonesia.

Hanya melalui persatuanlah kekuatan politik bisa tercapai –begitu rakyat bersatu, tidak ada yang tidak mereka atasi. Yang dimaksud dengan “rakyat“ adalah seluruh masyarakat Indonesia, suatu perwujudan spiritual dari seluruh bangsa.

Menghadirkan Harapan Soekarno pada Ruang Publik
Adanya de-Soekarnoisasi yang terjadi pada era Orde Baru dengan memecat guru-guru dan dosen yang pro Bung Karno semakin mengerdilkan harapan-harapan Bung Karno tentang bangsa Indonesia. Terlebih adanya mahasiswa-mahasiswa ikatan dinas yang disekolahkan ke luar negeri di era Bung Karno tidak dapat kembali ke negaranya, yang dapat ditonton pada film “Surat dari Praha”.

Dengan meminjam istilah DR Abdul Wahab tentang “genosida intelektual” semakin mereduksi harapan Bung Karno dari ruang publik. Hal ini yang oleh Foucault dalam Arkeologi Pengetahuan disebut ‘diskontinuitas’. Diskontinuitas oleh Foucault dinilai sebagai sebuah keterputusan, yang mana sebelumnya lebih dahulu terjadi sebuah proses distribusi tipologi pengetahuan baru.

Bung Karno memang sangat layak diperbincangkan dalam ruang publik di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Bung Karno mendapatkan 26 gelar honoris kausa dari berbagai universitas, baik dari dalam maupun luar negeri.

Gelar tersebut disematkan dari berbagai bidang, mulai dari keagamaan, politik, hukum, teknik, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Dengan demikian rakyat Indonesia perlu mengembangkan dan mengaktualisasikan harapan Bung Karno dalam setiap bidang.

Hadirnya harapan Bung Karno pada diskursus ruang publik diharapkan untuk menjadi sebuah bagian dari kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Harapan Bung Karno tersebut dapat dijadikan penyuluh di tengah opini dan wacana yang berkembang saat ini.

Dengan menghadirkan pemikiran Bung Karno dalam ruang publik tentunya besar harapan bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang maju. Dari sinilah, pengetahuan rakyat Indonesia mendapatkan kontinyuitas terhadap harapan Bung Karno akan bangsa Indonesia.

Terlebih tentunya jika harapan-harapan Bung Karno tersebut diaktualisasikan secara konkret. Seperti misalnya konsepsi Nawacita sebagai aktualisasi harapan Bung karno tentang Trisakti pada kampanye Jokowi-JK. Sayangnya konsepsi tersebut belum dijalankan secara penuh dan hanya sebatas jargon oleh pemerintah Jokowi –JK.

Harapan Bung Karno tentang persatuan dan keadilan sosial mendesak untuk segera diperbicangkan pada ruang publik. Hal ini karena persatuan nasional hari ini telah menghadapi permasalahan sesungguhnya di tengah-tengah segmentasi dan fragmentasi sosial akibat krisis multidimensi, terlebih adanya pertarungan politik praktis di berbagai tingkatan.

Harapan Soekarno tentang keadilan sosial juga tidak kalah pentingnya untuk dihadirkan. Hal tersebut dikarenakan masih tingginya tingkat kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Selain itu pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah sekarang menimbulkan implikasi yang besar bagi keadilan sosial. Kehadiran pembangunan insfrastuktur tersebut bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi dapat mewujudkan keadilan sosial, di satu sisi juga dapat memperlebar kesenjangan sosial.

Menghadirkan harapan Bung Karno pada ruang publik merupakan hal penting karena dia tidak dimiliki oleh satu golongan dan kaum tertentu saja. Harapan Bung Karno adalah representasi dari keinginan rakyat Indonesia yang tidak ingin terjadi sebuah penindasan.
Saat penganugerahan gelar doktor honoris causa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 19 September 1951, Bung Karno mengatakan bahwa ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika dipergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidup manusia, atau bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan.

Jika Bung Karno pada pidato PBB dan KAA disegani karena ide-ide segar dan tindakannya yang mengguncang dunia, sudah saatnya kita sebagai rakyat Indonesia mengguncang dunia dengan mewujudkan cita-cita besar Bung Karno tentang keadilan sosial dan perdamaian abadi untuk dunia, khususnya bangsa Indonesia.