Senin, 05 Juni 2017

In Para Sesepuh Bangsa We Trust

In Para Sesepuh Bangsa We Trust
Kalis Mardiasih  ;   Menulis opini dan menerjema;
Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                     DETIKNEWS, 02 Juni 2017



                                                           
Orang tua, dapat dimaknai dalam dua arti. Pertama, sosok yang secara biologis melahirkan kita sehingga padanya kita memiliki keterikatan lahir dan batin sekaligus kewajiban menghormatinya. Kedua, preferensi usia yang melingkupi manusia siapa pun itu.

Makna pertama, jika memakai pisau agama, mensyaratkan sikap taqlid semata karena ia memang menentukan surga atau neraka bagi anaknya. Makna kedua, tentu bisa kita perdebatkan. Lha wong terbukti, di era sosmed ini, kita bisa melihat bahwa yang seringkali tidak dewasa, kekanak-kanakan, suka ribut nggak penting, justru mereka yang tua, ngakunya intelektual pula!

Tunggu dulu. Yang mau saya bahas di sini adalah orang tua yang betul-betul berkonteks pada makna jamak di atas. Sesepuh ini bisa dibilang orang tua kita secara biologis dalam soal berbangsa. Mereka sama-sama lahir dan besar di Indonesia, hingga punya pengalaman dan kadar rasa yang sama pada ibu pertiwi tempat kita mengambil saripati hidup ini.

Selain itu, mereka matang secara usia dan dewasa secara gagasan dan kiprah. Sehingga tanpa perlu mendeklarasikan diri sebagai imam besar pun, mata dunialah yang tanpa didorong-dorong telah memberi pengakuan.

Syahdan, pekan lalu pada 26 Mei, di University Club UGM, Yogyakarta, tergelar hajatan bertajuk "Seruan Sesepuh Bangsa: Untuk Perdamaian Indonesia". Gelaran yang dimoderatori Alissa Wahid tersebut mempertemukan Buya Ahmad Syafii Maarif, Hj Sinta Nuriyah Wahid, Mohammad Sobary, Kardinal Dharmaatmaja, Engkus Ruswana, Bhikku Pannavaro, Bhikku Nyana Suryanadi, Pdt Sae Nababan, Pdt Gomar Gultom, Budi Suniarto juga memutar video pesan nasihat dari Gus Mus dan Prof Quraish Shihab.

Di forum diskusi terbatas itu, Alissa melempar keprihatinan, bahwa saat ini Buya Syafii Maarif adalah sosok yang pernyataannya paling sering disalahpahami oleh media. Buya Syafii, yang baru saja memperingati hati lahir ke-82 tahun ini melontar sebuah jawaban kelakar, "Ya, sebab kini aku kini sendiri sebab ditinggalkan oleh dua sahabatku, Gus Dur dan Cak Nur. Kalau masih ada mereka, pasti ramai-ramainya bertiga."

Menyambung jawaban itu, Kang Sobary bercerita bagaimana dinamika politik pada masa ketika Gus Dur, Cak Nur (Nurcholis Madjid) serta Kuntowijoyo masih aktif di gelanggang diskusi. Tokoh-tokoh itu bersepakat bahwa formalisme agama selalu membuat manusia pandai berbicara pada Tuhan tetapi tidak pandai berbicara pada tetangganya sendiri. Gus Dur dan Cak Nur selalu memperjuangkan pendekatan praktik agama, dibanding simbol-simbol dan formalisme agama yang dieksploitasi pada keserakahan dan kebencian.

Menurut Romo Kardinal yang mengutip Paus, di dunia ini ada kelompok manusia baik dan kelompok manusia buruk. Kelompok baik dipimpin oleh ruh Allah. Kelompok ini bersifat inklusif, terbuka, mempersaudarai orang lain dan peduli pada yang tersingkir. Sedangkan kelompok buruk dipimpin oleh ruh jahat yang bersifat eksklusif, menyingkirkan orang lain, menyaingi, memusuhi, membuat konflik hingga kekerasan.

Uniknya, untuk membangun kelompok baik, caranya justru harus mewaspadai diri sendiri. Kelompok pribadi kita tidak boleh menjadi tandingan bagi kelompok lain agar hasilnya tidak vice versa, alias saling memusuhi.

Dalam forum diskusi terbatas itu, para pemuka agama lain mengaku ingin belajar kepada Islam yang menurut paparan Hj Sinta Nuriyah tidak hanya ingin membangun ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), namun juga ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah wathoniyah (persaudaraan berbangsa).

Sementara saya masih berpikir-pikir mengapa para sesepuh ini repot-repot bertemu dan bikin rumusan untuk perdamaian, saya mengingat peristiwa lain.

Masih terhitung awal tahun dan pada waktu yang berdekatan jaraknya, dua bulan lalu bukankah juga telah didahului terselenggaranya pertemuan sesepuh lain?

Pada 16 Maret lalu, bertempat di Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, puluhan Kiai khos hadir dan bermusyawarah secara tertutup. Benar-benar tertutup, sebab saya yang kala itu menumpang kehadiran bersama KH Yahya Cholil Staquf dan berharap bisa sedikit nguping dan mengamati jalannya silaturahmi alim ulama ternyata hanya bisa menerima nasib buat tertahan di depan pintu ndalem pondok utama.

Santri pondok pesantren menyambut kedatangan KH Ma'ruf Amin, KH Ali Masyhuri, dan lain-lain dengan iring-iringan drumband yang mendendangkan syair Ya Ahlal Wathon karya KH Wahab Chasbullah. Konon, pertemuan yang diselenggarakan di Ponpes Al Anwar itu untuk memberi penghormatan kepada KH Maimoen Zubair, sosok ulama paling sepuh yang dimiliki negeri ini.

Siang terik berdebu di pesisir pantai utara itu menghasilkan lima poin yang disebut Risalah Sarang. KH Achmad Musthofa Bisri atau akrab kita sapa Gus Mus membacakan naskah, yang isinya antara lain tentang ajakan kepada seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah.

Para ulama NU menggarisbawahi soal kesenjangan ekonomi dan sosial sebagai persoalan utama yang harus segera diselesaikan, sehingga pemerintah didorong agar mengeluarkan kebijakan yang lebih mengutamakan masyarakat yang lemah. Dan, terkait perkembangan teknologi informasi, para pemimpin masyarakat diimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasi-informasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

Sebetulnya, di antara dua pertemuan itu, ada sebuah pertemuan tertutup lain pada bulan April di Pusat Studi Al Qur'an Pondok Cabe asuhan Prof Quraish Shihab.

Dalam diskusi terbatas itu, Prof Quraish mendefinisikan makna tawasuth (moderat) dan ghuluw (berlebih-lebihan). Saya yang menyempil di pojok ruangan, mencuri dengar bahwa sikap moderat tidak bisa lahir dari pribadi yang sedang emosi. Ia lahir dari kejernihan berpikir dan punya kesadaran akan posisinya, sehingga tidak gampang terombang-ambing ke kanan maupun ke kiri.

Nah, kalau ternyata belum pertengahan tahun sudah digelar tiga pertemuan penting sekaligus genting dari para sesepuh begini, nampaknya bukan saatnya lagi kita bertanya ada apa. Sebagai anak, kita mesti mulai diam sejenak, menghela napas, dan mengaku: sudah seberapa bandel kita, sudah seberapa parah kita berbuat onar hingga dijewer oleh Bapak dan Ibu kita dalam berbangsa.

Lagi pula, jika kita semua sebagai anak-anak masih nekad memperkeruh situasi berbangsa, barangkali para sesepuh itu hanya ingin menunjukkan kepedulian dan kehadiran, bahwa seburuk apapun anak-anak yang kini sebagian sedang hobi jadi buzzer politik maupun terombang-ambing arus informasi, anak tetaplah anak yang perlu masukan dan mata air kebijaksanaan.