Selasa, 06 Juni 2017

Apa itu Ghirah Islam?

Apa itu Ghirah Islam?
Rakhmad Hidayatulloh Permana  ;   Tinggal di Subang;
Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
                                                     DETIKNEWS, 05 Juni 2017

                                                                            

                                                           
Bulan Ramadan memang sungguh bulan yang penuh berkah. Meskipun pada Bulan Ramadan orang-orang muslim dituntut untuk menahan hawa nafsunya, namun justru bulan ini bisa jadi momen untuk memanen rezeki sebanyak-banyaknya. Orang-orang tak hanya sibuk berlomba-lomba dalam berburu pahala, tapi juga sibuk berlomba-lomba dalam urusan berniaga.

Lihat saja, tiap kali Bulan Ramadan tiba, beberapa komoditas akan mengalami peningkatan permintaan. Harga-harga kebutuhan pokok pun merangkak naik karena permintaan tinggi. Pedagang sembako yang biasanya hanya menjual gula, telur, dan tepung dalam satuan kiloan, di Bulan Ramadan mereka bisa menjual bahan-bahan itu dalam satuan kwintal. Sebab, di Bulan Ramadan banyak sekali orang yang beralih profesi menjadi pedagang makanan dadakan.

Pedagang pakaian yang biasanya hanya mampu menjual dalam jumlah lusinan, kini bisa menjualnya dalam jumlah paket kodian. Sebab, banyak orang yang ingin tampil necis di Bulan Ramdan dan Lebaran nanti.

Hal serupa ternyata juga dinikmati oleh para pengusaha percetakan. Selain pada musim kampanye, mereka juga bisa memanen rezeki di Bulan Ramadan. Banyak orang atau lembaga yang ingin mencetak baliho dan banner yang memasang ucapan selamat menunaikan ibadah puasa.

Saya melihat baliho dan banner itu menghiasi berbagai celah tempat di daerah saya, ketika sedang asyik berburu takjil gratis di masjid agung. Di sepanjang jalan, di depan supermarket, atau di depan kantor bupati. Beberapa bahkan memuat gambar wajah orang-orang yang tak saya kenal. Mirip seperti baliho dan banner pada musim kampanye.

Kalimat-kalimat ucapan selamat menunaikan ibadah puasa juga beragam. Kebanyakan hanya berisi kalimat ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lengkap dengan angka tahun hijriah. Namun, ada juga yang sedikit kreatif dengan menambahkan beberapa frasa unik. Misalnya, sebuah banner yang saya lihat di dekat masjid agung. Banner itu berbunyi "selamat menunaikan ibadah puasa, semoga di bulan suci ini kita bisa terus menjaga ghirah Islam"

Banner itu dibuat oleh salah satu organisasi Islam di Indonesia, yang konon kabarnya akan segera dibubarkan oleh pemerintah karena memiliki ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Saya sendiri, merasa asing dengan frasa "ghirah Islam". Sepertinya saya belum pernah mendengar frasa itu dalam pelajaran agama di sekolah dulu. Atau, mungkin pada saat pelajaran tentang itu saya tak masuk kelas.

"Apa itu ghirah Islam?" kalimat itu terus bergaung dalam benak saya sampai membuat salat agak tak khusyuk.

Maka, setelah Salat Tarawih, saya mencoba menelusuri arti kata "ghirah" melalui bantuan Google. Dan, saya menemukan ulasan panjang tentang arti dan makna kata ghirah.

Yang pertama, adalah penjalasan dari Buya Hamka yang dinukil dari buku karangannya yang berjudul Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam (1983). Buya Hamka menjelaskan bahwasanya ghirah itu adalah perasaan cemburunya orang beriman. Juga bisa diartikan sebagai sebuah semangat. Bahkan, beliau menggambarkan ghirah Islam sebagai nyawanya umat muslim.

Sampai-sampai beliau menganggap umat Islam yang kehilangan ghirah Islam itu serupa mayat. Bila hal itu terjadi, kata beliau, "Ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan."

Dalam penjelasannya, Buya Hamka juga mengingatkan bahwa semangat ghirah Islam ini haruslah diamalkan dengan cara yang santun. Analoginya seperti ketika kita memiliki seorang kekasih. Bila ada orang yang menggoda kekasih kita, tak bolehlah kita langsung menggebuknya apalagi membunuhnya.

Penjelasan kedua, saya temukan dalam tulisan berjudul Menjaga Ghirah Umat Islam. Termuat dalam situs organisasi yang sama dengan organisasi pemasang banner tadi. Dalam paparan tulisan itu, saya cukup merinding ketika membacanya. Tulisan itu menjelaskan bahwa umat muslim harus marah besar apabila marwah Islam dilecehkan. Lalu, si penulis mengaitkannya dengan kasus penistaan agama pada musim pilkada lalu.

Tentu, itu adalah tafsir yang galak. Sedangkan saya, mana bisa menjadi segalak itu. Menjaga marwah Islam dengan menyalakan api kemarahan, rasanya begitu berat bagi saya. Saya lebih cenderung mengamini beberapa penjelasan Buya Hamka. Bahwa ghirah Islam haruslah dilakukan dengan cara santun. Seperti analogi tadi. Keberanian untuk menggebuk itu saja sudah mengerikan. Apalagi membunuh.

Apakah para bocah yang berpawai membawa obor sambil menyorakkan kata "bunuh" adalah bagian dari pengamalan ghirah Islam? Saya tak tahu. Namun, saya tak bisa merengkuh tafsir seperti itu.

Betapa sulit saya menilik tafsir dari kata ghirah Islam di zaman kiwari begini. Atau, barangkali akal saya saja memang terlalu dhaif untuk mencernanya. Namun, yang pasti saya tak mau terjerumus dalam pengertian yang dangkal. Pengertian yang bisa mengubah saya jadi muslim yang jumud. Saya rasa ghirah Islam bukanlah semangat untuk mengobarkan peperangan.

Tuhan yang saya imani bukanlah tuhan yang menyukai api dan darah. Ataupun, pentungan.

Agama Islam adalah agama kegembiraan. Bulan Ramadan adalah buktinya. Saya begitu gembira ketika bisa mengudap takjil gratis di masjid agung sampai kenyang. Saya juga gembira ketika dahulu di pesantren kilat bisa mengikuti berbagai acara yang menyenangkan. Saya juga gembira ada tayangan iklan TV menarik setiap kali Bulan Ramadan tiba.

Saya kira, ghirah Islam adalah semangat yang mampu membangkitkan segenap rasa kegembiraan itu. Seperti perasaan ketika mengudap penganan takjil gratis. Sebuah momen peristiwa yang senantiasa membuat semangat kegembiraan sebagai muslim terpompa. Semangat Islam Rahmatan Lil Alamin, yang mendorong kita mencintai sesama manusia.

Tentu saja juga perasaan yang mampu menjauhkan saya dari kelahi dan caci-maki.

Jika yang dimaksud dengan ghirah Islam adalah pemahaman seperti itu, maka saya akan dengan mudah bersepakat. Karena saya pasti akan langsung lahap menikmati hidangan takjil gratis yang ada di mana pun. Tanpa perlu mencari tahu terlebih dahulu pilihan politik si panitia di pilkada lalu, misalnya. Apabila ada yang melakukan hal itu, sungguh menyedihkan hidupnya.

Negeri ini sudah terlalu lama tergulung dalam masalah yang itu-itu saja. Inilah saatnya bergembira. Marilah kita menjalankan ibadah di Bulan Ramadan ini sembari terus menjaga semangat kegembiraan—tanpa harus bersikap sengit dengan yang berbeda.