Rabu, 05 April 2017

Tiga Rahasia Sukses ala Iqbal Aji Daryono

Tiga Rahasia Sukses ala Iqbal Aji Daryono
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial; Penulis Buku "Out of The Truck Box"; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                    DETIKNEWS, 28 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Mas, dalam keterangan profil penulis di kolom Detik, kenapa sampeyan menyebut diri sebagai praktisi media sosial? Apa maksudnya?"

Tak cuma sekali dua kali ada teman bertanya begitu kepada saya. Pertanyaan demikian membuat saya teringat jenis pertanyaan lain yang lebih banyak muncul di Messenger Facebook saya, dari beberapa anak muda. Jenis pertanyaan yang sangat klasik, yaitu, "Mas, bisakah berbagi kiat-kiat menuju kesuksesan?"

Dalam hati saya terkekeh sambil membatin, "Ah, ke mana aja ini anak waktu Pak Mario Teguh masih sering nongol di tivi?" Namun karena nggak enak hati tentu saja saya tidak mengucapkan itu, dan tetap menjawabnya baik-baik.

Jawaban-jawaban tersebut selama ini cuma saya bagi lewat pesan pribadi, dan tidak pernah saya sebarkan secara lengkap melalui tulisan mana pun. Namun hari ini beda. Sejak Pak Mario absen dari televisi, saya tahu bahwa krisis motivasi sedang melanda anak-anak muda Indonesia. Karena itulah, dengan segenap keikhlasan, hari ini saya memantapkan diri untuk mengisi ruang hampa itu.

Begini. Saya sendiri tidak yakin apa sebenarnya makna kesuksesan yang dimaksud oleh anak-anak muda tersebut. Apakah kekayaan? Popularitas? Atau apa? Karena tidak jelas dan saya juga malas meminta kejelasan, maka saya akan menggambarkan kesuksesan menurut konsep saya sendiri.

Dalam konsep saya, kunci sukses hanya tiga biji: banyak bergaul, banyak membaca, dan tahan godaan. Tiga hal itu lebih layak disebut, ketimbang rumus basi semacam "Kerja! Kerja! Kerja!"

Banyak bergaul dan banyak membaca adalah landasan pokoknya, dan tidak perlu penjabaran jauh-jauh tentang itu. Keduanya adalah sarana memperkuat referensi-referensi, memperkaya sudut pandang, menggembungkan amunisi, dan mempertajam pemahaman atas banyak hal. Itu sudah. Kita pun bisa menjalankan dan memantau prosesnya secara kasat mata.

Poin ketigalah yang terberat, sebab tak terlalu kasat mata. Tahan godaan. Apa itu tahan godaan? Sebangsa menahan diri dari nafsu duniawi, atau menjauhkan diri dari bisikan setan? Ada sih benarnya.

Saya punya beberapa teman yang sukses menjalankan rumus tahan godaan itu. Biar Anda tidak kelelahan membacanya, saya beri dua nama saja.

Yang pertama namanya Wisnu Prasetya Utomo. Di usia mudanya, Wisnu sudah dikenal sebagai pakar media. Studinya dulu memang terkait topik itu. Tapi saya tidak melihat studi formal, apalagi studi formal yang dilanjutkan dengan profesi dosen, sebagai manifestasi ajaran tahan godaan. Wisnu bukan dari jenis semacam itu. Dia benar-benar menekuni topik media di luar aktivitas bangku akademis, berfokus di situ, tekun di situ, konsentrasi di situ.

Hasilnya adalah kesuksesan, minimal kesuksesan dalam pandangan saya. Wisnu selalu identik dengan media. Orang kalau bertanya apa-apa tentang media, selain teringat nama besar angkatan lama semacam Andreas Harsono, sekarang ini sudah mulai mengingat nama Wisnu Prasetya Utomo.

Itu semua adalah buah dari lelaku tirakat tahan godaan. Wisnu berani memilih. Berani setia. Berani teguh dengan pilihannya, dengan tidak sebentar-sebentar menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke mana saja.

Anda kira itu soal gampang? Enggak, lah. Apalagi di zaman kekuasaan internet macam sekarang ini. Coba, berapa kali dalam sehari Anda gagal fokus? Berniat mau googling suatu tema yang sangat Anda butuhkan saja belum tentu berhasil kok. Sebab begitu buka HP, melihat ada notifikasi banyak di Whatsapp, jadinya mampir ke situ dulu, dua jam. Setelah itu jadi lupa tadinya mau googling apa.

Itu persis dengan saya. Saya kerja jadi kurir, mengemudi mobil van, mengantar barang-barang. Tiap kali ada alamat yang tidak saya ketahui posisinya, saya buka HP untuk memeriksa alamat tersebut di Google Map. Tapi apa jadinya? Ya, tangan Facebook melambai-lambai memanggil, memamerkan belasan notifikasi yang belum saya baca. Jadinya saya mampir dulu sampai setengah jam. Begitu sadar diri saya geragapan, langsung tancap gas menggeber van, hingga kemudian teringat bahwa alamat yang tadi mau dicari belum juga dicari.

Itu baru penyakit gagal fokus karena cobaan dunia berupa aneka aplikasi digital. Belum lagi yang berupa isu.

Sejak Pilpres 2014, manusia Indonesia jadi sangat antusias mengikuti gelombang aneka berita lewat akun medsos mereka. Situasi ini tidak terlalu terasa pada zaman pra-2014, saya kira. Bisa jadi karena memang gurita medsos waktu itu belum seperkasa sekarang, namun bisa juga karena kebutuhan eksistensial yang melonjak-lonjak. Mantan pendukung Prabowo bersemangat mencari berita-berita buruk terkait pemerintahan Jokowi, mantan pendukung Jokowi penuh gairah mencari tameng atas segala isu negatif sembari mencari tambahan peluru dengan berita-berita positif, dan seterusnya.

Belum lagi kalau isunya terkait agama, ketika ada peristiwa yang dipadu dengan frasa 'upaya melemahkan umat', 'aksi pembelokan akidah', 'test the water', 'menista ulama', dan sebagainya. Ampun, dah.

Bayangkan saja. Hanya orang-orang tangguh di zaman ini yang mampu menahan diri dari keikutsertaan di setiap riuh rendah isu seperti itu. Wisnu salah satunya. Ia tak gampang tergoda untuk berbicara apa saja. Pada zaman keemasan medsos, hanya manusia dengan kualitas spiritual tertentu yang tak mudah tergiur untuk bicara apa saja. Apalagi harap diingat, bagi spesies pembaca yang rakus, godaan duniawi terbesar adalah: ingin membaca semuanya, ingin mengetahui semuanya, dan ingin ngomong tentang semuanya.

Maka, kalaulah pemuda Wisnu memposting atau nyetatus berita aktual di laman medsosnya pun, perspektifnya selalu tak jauh-jauh dari sudut pandang ia sebagai pemerhati media. Bukan perspektif genit dan "meramaikan yang sudah ramai" semacam kita-kita.

Tidak, saya tidak merekomendasikan kepada Anda untuk menjadi follower medsos anak muda satu itu. Isinya sangat membosankan. Tapi justru di balik yang garing itu, tersimpan berjilid-jilid epos tentang keteguhan.

Bagi saya, pemuda-pemuda seperti mereka itu layak dikagumi. Mereka bukan cuma tekun dan keras dalam belajar. Mereka juga menjalani lelaku prihatin yang berat, berupa kesetiaan pada pilihan. Padahal, yahh, kita semua tahu, para bijak bestari sudah memberikan nasihat adiluhung ini sejak dulu: "Setia itu menyakitkan."

Oke. Kita tinggalkan Wisnu. Nama yang kedua adalah Mahfud Ikhwan, sahabat saya selama belasan tahun. Banyak yang sudah mengenal namanya sebagai sastrawan. Novelnya yang berjudul Kambing dan Hujan menjadi pemenang utama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Tapi soal itu sudah tak perlu dibahas lagi. Saya lebih suka melihat ketekunannya pada bidang lain yang ia geluti: film India.

Saya kenal setidaknya empat orang Indonesia yang menggilai film India. Namun Mahfud paling gila di antara semuanya. Bukan cuma sebagai penonton, Mahfud juga pengamat, analis, sekaligus kritikus film India.

Awalnya saya mengira dia cuma gemar nonton saja. Namun ketika suatu hari di kamar kosnya saya menemukan buku tebal berjudul The Encyclopedia of Bollywood Cinema (atau semacam itu), saya tahu dia tidak main-main. Memangnya selain Mahfud, siapa lagi di Indonesia yang mau-maunya punya buku begituan, begitu batin saya sambil berdecak tak habis pikir.

Kepemilikannya atas ensiklopedi yang jauh lebih tebal dibanding alis Nikita Mirzani itu dibarengi sikap tahan godaan, rahasia sukses nomor tiga. Mahfud tak pernah tergiur menonton film-film box office Hollywood, sebagaimana bangsa manusia pada umumnya. Mau Bruce Willis, Eddie Murphie, apalagi Denzel Washington, dia tak peduli. Kalaulah ada film Amerika yang ditontonnya, itu bukan karena box office-nya, melainkan karena nama-nama agung seperti Morgan Freeman, Robin Williams, atau Sean Penn.

Belum lagi film Indonesia. Dia memang penggemar Deddy Mizwar dan Rhoma Irama (sebagai aktor, bukan sebagai politisi). Namun untuk film sejenis Laskar Pelangi apalagi AADC, menoleh pun ia tak sudi. Selebihnya, lelaki Lamongan ini tetap kukuh dengan ideologi film India.

Puncaknya adalah beberapa waktu lalu, ketika Mahfud menerbitkan dua jilid bukunya sendiri tentang film India, dengan judul Aku dan Film India Melawan Dunia. Saya tahu, mulai detik itu Mahfud Ikhwan sangat layak menyandang predikat sebagai ilmuwan film India terbesar di Indonesia. Indikasinya, setiap kali ada orang Indonesia ingin bertanya tentang film India dari beragam perspektif, Mahfud Ikhwan-lah jawabannya.

Wisnu dan Mahfud adalah bukti nyata betapa saktinya jurus tahan godaan demi menggapai kesuksesan. Cobalah jurus itu dengan seteguh-teguhnya, lengkap dengan dua jurus pertama. Saya jamin Anda akan bisa sesukses mereka.

"Lalu apa kaitan itu semua dengan profil penulis di tiap tulisan sampean sebagai 'praktisi media sosial', Mase?"

Oh, soal itu ya. Jadi begini. Sebenarnya, dengan berpikir sebentar saja, para penanya itu sudah akan langsung paham jawabannya. Praktisi media sosial ya siapa pun yang menjalankan aktivitas bermedia sosial. Jadi di hari ini, sebenarnya mayoritas dari kita adalah praktisi media sosial. Dengan kata lain, itu bukan predikat yang istimewa. Nyaris tak ada bedanya dengan predikat "warga negara Indonesia", atau "lelaki baik-baik".

Predikat sebagai praktisi media sosial saya pajang setelah mati-matian mencoba mengidentifikasi diri saya sendiri, dan berakhir dengan ketidakjelasan yang memilukan. Saya tidak ahli dalam satu bidang apa pun. Saya memang senang berteman di mana saja, tapi bukan pembaca yang tekun. Lebih parah lagi, saya jenis lelaki rapuh yang tak tahan godaan, dan sulit menolak keindahan. Tak ada fokus yang saya tekuni mati-matian pada satu bidang pun.

Itulah kenapa, meski pada akhirnya saya lulus dari Jurusan Sastra Jepang UGM, saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang Sastra Jepang. Selanjutnya waktu mulai belajar menulis pun, saya menulis apa saja. Apa saja. Begitu semena-mena. Begitu impulsif, sambar kiri sambar kanan. Itulah bentuk paling tragis dari kegagalan dalam melawan godaan.

"Lho berarti sampean sendiri tidak berhasil menjalankan jurus ketiga?"

Lhooo ya memang. Saya memang bukan contoh sukses sebagaimana Wisnu dan Mahfud, Mbak. Dan tulisan ini memang menempatkan diri saya sendiri sebagai contoh buruk. Jarang-jarang lho ya, ada motivator yang menyajikan dirinya sendiri sebagai contoh buruk. Kalau yang memuji-muji diri sendiri sih banyak.

Makanya, kalau teman-teman mau mengundang saya, sebagai motivator dari jenis yang sangat langka, sudah tentu saya akan pasang tarif sedikit lebih tinggi dari Pak Mario Teguh. Itu.