Senin, 17 April 2017

Sengsara

Sengsara
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 16 April 2017



                                                                                                                                                           

Waktu sedang mempersiapkan pikiran agar tenang dalam menulis artikel ini, sebuah berita datang di telepon genggam. Soal penurunan paksa penumpang di salah satu maskapai penerbangan Amerika, yang berakhir dengan kekerasan terhadap penumpang yang bersangkutan.

Beruntung dan nikmat

Setelah membaca, saya lumayan emosi, seperti air sedang mendidih. Saya marah sekali membaca berita dan melihat video yang disertakan dalam berita itu. Beberapa menit lamanya saya tak habis berpikir bagaimana peristiwa semacam itu terjadi. Seperti biasa saya mengomel sendiri, saya marah-marah sendiri, saya kesal sendiri.

Kemudian dalam keadaan mendidih saya teringat kejadian satu bulan yang lalu, saat muka saya dipukul oleh seorang tak dikenal dan ternyata tidak waras, di sebuah taman indah di kota Teheran. Teringat akan peristiwa yang terjadi secepat kilat itu, kekesalan saya makin bertambah.
Seperti biasa, saya mulai bertanya. Mengapa kejadian itu harus menimpa saya? Harus menimpa dokter di dalam pesawat itu? Mengapa saya dan dokter itu yang dipilih untuk dijadikan sasaran? Mengapa dari sekian puluh mungkin ratus penumpang, dokter itu yang kena sasaran?

Apa gunanya kejadian buruk menimpa seseorang? Apakah agar seseorang mendapat keberuntungan? Beruntung bisa naik kelas dalam kesabaran? Beruntung bisa mempraktikkan ajaran untuk memaafkan orang yang menyakitkan?

Beruntung bisa diubahkan menjadi orang yang semakin baik dan semakin sabar sehingga karena ia beruntung ia bisa mengatakan bahwa sengsara itu membawa nikmat? Atau, memang sialnya seseorang saja kalau ia harus ditimpa kemalangan tanpa perlu mencari alasan apa pun?

Apakah kebaikan yang dilakukan seseorang tidak menjamin bahwa kesengsaraan tak akan menimpanya? Apakah justru orang itu makin berbuat baik, makin sengsara hidupnya? Apakah kesengsaraan memilih manusia yang berbudi luhur sebagai tempat ia bersarang?

Saya bukan sedang menulis dan menjelaskan bahwa saya dan dokter itu adalah contoh orang baik. Saya ini malah jadi bertanya, apakah karena saya ini manusia yang tidak baik atau katakan kurang baik, pernah dan masih melakukan ketidakbaikan meski bentuknya ringan, maka kesengsaraan dalam bentuk apa pun memilih saya untuk diberikan pelajaran?

Jadi, semakin saya ini ditimpa sengsara bukan semakin saya naik kelas dalam kesabaran dan kebaikan lainnya, tetapi itu dapat digunakan sebagai indikator bahwa saya adalah orang yang tidak baik.

Dengan demikian, kesengsaraan yang menimpa dapat dilihat sebagai sebuah harga yang harus saya bayar atas kejahatan yang pernah dan masih saya lakukan di masa lalu dan sampai sekarang ini. Begitu?

Munafik

Kalau ternyata begitu, mengapa bukan orang lain saja yang tertimpa sengsara? Bukankah mereka sama seperti saya dan dokter itu, adalah manusia yang tak sempurna, yang telah dan mungkin masih melakukan ketidakbenaran?

Kalaupun saya ini tidak mau sengsara, tidak mau ditimpa kejadian yang menyakitkan dan meluluhlantakkan jiwa raga, apakah itu bisa saya wujudkan? Apakah mewujudkan ketidaksengsaraan itu bisa terjadi, seperti saya bisa mewujudkan cita-cita saya bepergian ke sebuah tempat?

Apakah bisa seperti peribahasa yang mengatakan bahwa hemat itu pangkal kaya? Kalau saya rajin bekerja, berbuat baik, hidup sehat, memaafkan, rendah hati, mengampuni, itu merupakan pangkal saya tidak sengsara? Apa jaminannya?

Apakah peribahasa itu hanya sebuah kalimat yang tak berarti apa-apa? Dulu saya royal, terus saya berusaha hemat, tetapi fakta mengatakan, niat baik saya mengubah royal jadi berhemat, sadar royal itu tidak menguntungkan, ternyata sampai sekarang saya tidak kaya-kaya. Pangkalnya saja tidak, bagaimana ujungnya.

Dulu kalau makan saya sembarangan, sekarang karena tahu bahwa yang sembarangan akan berakibat mengundang kesengsaraan di masa depan, bolehlah saya mengatakan sekarang hidup saya sudah jauh dari sembarangan. Tetapi mengapa itu tak mengurangi datangnya kesengsaraan bernama penyakit?

Sampai saya ini jadi berpikir, apakah perbuatan baik seseorang itu tak berarti apa-apa? Tak menjamin apa-apa? Belum lagi saya ini diajari, tepatnya dicekoki, bahwa saya ini harus mengampuni orang yang membuat saya sengsara, saya harus berdoa untuk mereka yang menganiaya saya.

Sungguh saya jadi bingung dibuatnya, saya seperti diharuskan untuk menghilangkan kemanusiaan saya untuk tidak boleh sakit hati. Infrastruktur saya ini manusia biasa, tetapi saya diharuskan memiliki hasil perbuatan yang seperti malaikat.

Setelah kejadian pemukulan di taman indah itu, saya mempraktikkan untuk berdoa buat pria tinggi yang tidak waras itu. Alhasil? Saya berdoa dengan susah payah. Saya kesusahan untuk memaafkan, tetapi saya paksakan juga pada akhirnya.

Selesai memanjatkan doa itu, saya sungguh merasa tidak lega. Saya sampai berpikir, masihkan ada gunanya memanjatkan doa untuk seseorang yang menyengsarakan saya kalau saya sendiri merasa seperti seorang yang begitu munafiknya?