Senin, 17 April 2017

Simbolisme Toleransi

Simbolisme Toleransi
Jean Couteau  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 16 April 2017



                                                                                                                                                           

Jawa terkenal padat. Sulit mencari kesunyian. Namun, adakalanya terdapat kejutan. Itulah yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Seusai menghadiri satu upacara peringatan kematian, saya dan istri, entah bagaimana berkeputusan mencari udara segar, yaitu udara dingin pegunungan, di kaki Gunung Sumbing.

Satu penunjuk jalan, entah bagaimana, menunjukkan jalan ke suatu candi. Kami menelusuri jalan tersebut. Lama-kelamaan jalan itu menjadi jalan tanah, lalu menjadi lorong yang terus naik di antara sawah-sawah. Keindahan terlihat di mana-mana, kanan kiri lorong. Waktu seolah tidak lagi hadir, kehilangan maknanya di antara keheningan keasrian pemandangan sekeliling.. Lalu di ujung lorong terlihat seratusan tangga. Kami menaikinya, dan apa yang kami temukan: sebuah candi cantik nan kecil bernama Selogriyo-rumah dari batu, jika diterjemahkan dari bahasa Jawa kuno.

Candi bersegi empat ini diperkirakan dibangun pada zaman Mataram kuno, abad ke-9. Pada keempat seginya terdapat lima relung tempat arca-arca perwujudan dewa. Arca-arca tersebut adalah Durga Mahisasuramardini (dinding utara), Ganesha (dinding barat), Agastya (dinding selatan), serta Nandiswara dan Mahakala (dinding timur).

Arca tersebut sayangnya semuanya dipenggal. Apakah dipenggal karena keserakahan peminat barang antik atau karena dianggap tidak sesuai dengan agama baru yang kini menguasai lereng Gunung Sumbing, tidaklah jelas.

Meskipun demikian, makna simbolis candi tersebut masih tampak jelas. Atapnya menyerupai buah keben, lambang lingga, yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk suatu mandala-suatu perwujudan kedelapan jurusan mata angin, dengan di puncak tengahnya, sebuah keben yang lebih tinggi. Yaitu mandala tersebut mengingatkan kita pada Borobudur, pada suatu konstruksi agama yang mengedepankan dan mevisualkan unsur kosmis-berikut upaya manusia untuk moksa, yaitu untuk menyatu dengan kosmos tersebut, dengan Tuhan.

Di seputar candi tersebut terdapat segelintir pengunjung. Saya bertanya kepada beberapa di antaranya mengapa mereka mengunjungi candi itu: "Karena perjalanan kemari asri," kata seorang Bapak. "Karena saya suka menjelajah wilayah gunung," kata seorang pemuda. "Apakah Anda menyadari fungsi dari bentuk candi tersebut," tanya saya lebih jauh. "Tidak," jawab yang pertama. "Tidak," jawab yang kedua.

Ketika saya duduk di warung kecil setempat ada seorang pemuda yang mendengar pertanyaan saya, mendekat dan berkata: "Saya adalah orang Bali dan datang setiap minggu kemari untuk mencari air suci untuk kebutuhan ritual saya dan teman-teman mahasiswa di Yogyakarta."

Berjalan turun dari Candi Selogriyo itu, saya berpikir-pikir: orang Indonesia bisa jadi berbangga atas peninggalan masa lalunya. Bisa jadi juga hal itu merupakan sesuatu yang baik karena memperteguh rasa kebangsaannya.
Namun, jika mereka ingin saling menghormati dan saling mentoleransi agamanya masing-masing, bukankah dibutuhkan juga pengertian yang lebih mendalam, yaitu pengertian tentang dasar simbolis dan filsafati agama masing-masing. Yaitu, bagaimana mereka masing- masing menggali ketuhanan, apakah dengan mencari moksa atau nirwana seperti orang Hindu dan Buddha, atau dengan menjalankan titah utusannya, seperti halnya orang Kristen dan Islam.

Bukankah pengetahuan yang "terbuka" cara yang paling baik untuk menjaga persaudaraan di waktu di mana para politikus tidak segan-segan bermain api dengan lebih menekankan perbedaan daripada persaudaraan. Bukankah tradisi Indonesia selama ini justru lebih mengutamakan "persamaan" daripada "perbedaan". Dan itulah universalisme ragam Indonesia. Hal itu jangan dilupakan....