Senin, 03 April 2017

Pemimpin Keteladanan

Pemimpin Keteladanan
Asep Salahudin  ;   Wakil Rektor I IAILM Pesantren Suryalaya;
Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat
                                                        KOMPAS, 31 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Defisit keteladanan, inilah yang sering terjadi dalam politik kepemimpinan kita. Keteladanan acap kali absen dalam diri sang pemimpin sehingga nyaris ritus demokrasi lima tahunan hanya menghasilkan kaum penguasa, bukan negarawan. Hanya melahirkan mental menak, bukan para pemimpinyang siap berkhidmat untuk masyarakat.

Peristiwa bancakan anggaran KTP elektronik (KTP-el) yang dilakukankebanyakan anggota Dewan semakin memastikan bagaimana kaum pemimpin yang seharusnya memberikan contoh baik justru memanggungkan perilaku jahiliah. Padahal, harkatseorang pemimpin itu bukan diletakkan pada hebatnya retorika dan manisnya kata-kata, bukan pada rautmurah senyum, melainkan justru pada keteladanan itu sendiri, pada satunya kata dengan perbuatan.

Benar yang dibilang WS Rendra, ”perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Perjuangan adalah bagaimana sumpah itu tak menjadi sampah, janjidapat terbukti, visi dan misi mampu diaksentuasikan menjadi bagian dari pengalaman politik harian kebangsaan yang mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan. Kata Kong Fu Tse, ”Ciri-ciri orang yang berjiwa besar ialah menjadi teladan dan kemudian ia minta agar orang-orang lain mengikutinya.”

Tidak ada yang lebih cepat menular daripada teladan perbuatan baik diikuti oleh perbuatan baik, sebagaimana perbuatan buruk beranak pinak menjadi perbuatan buruk pula (Francois de La Rochefoucauld). Teladan itu merembes ke bawah bukan merangkak ke atas (George Rona);tak ada yang begitu cepatberjangkit seperti teladan (Charles Kingsley), dalam kata-kata Nabi Muhammad SAW, ”Lihatlah apa yang diperbuatnya bukan apa yang dikatakannya” karena ”keteladanan lebih mujarab ketimbang perkataan” (Imam Ali).

Di sinilah penting menyimak terus riwayat manusia pergerakan. Bagaimana mereka diterima khalayak dan akhirnya jadi pemimpin bangsa karena mereka dengan riil memberi teladan tentang hidup sederhana, kejujuran yang dijadikanhaluan utama kehidupannya, keteguhan dalam memegang prinsip, selarasnya apa yang digelorakan dengan perilaku keseharian.

Tak sekadar lambang

Bahwa proklamasi yang dibacakanSoekarno-Hatta bukan sekadar lambang bangsa ini keluar dari sekapan kaum penjajah, melainkan juga melambangkan sebuah tindakan dari serangkaian wacana yang telah dimatangkan pada masa sebelumnya. Atas nama keteladanan,mereka tak hanya berani mengorbankan benda, tetapi juga siap mempertaruhkan nyawanya.

Ini juga kunci utama keberhasilan perubahan sosial yang dilakukan para pemimpin besar dan para nabi. Model kepemimpinan yang dikembangkan sangat sederhana, tetapi memiliki daya jelajah perubahandahsyat: model keteladanan menjadi suluh, menjadi obor yang menerangi semesta.
Nabi Isa tak saja menyerukan risalah cinta damai, tetapi tubuhnya sendiri juga menyimbolkan diri yang intim menyatu dengan kesantunan.

Nabi Musa bukan hanya mempromosikan keberanian mengukuhi prinsip kebenaran, melainkan dirinya yang memimpin langsung merobohkan penguasa tiran Firaun. Nabi Muhammad SAW bukan hanya berkhotbah di masjid tentang kesederhanaan, beliau sendiri yang mengambil pilihan rumahnya menyatu dengan masjid, menjahit sendiri pakaiannya, banyak berpuasa, dan tidak pernah berdusta. Demikian juga Sidarta Gautama yang dengan heroik melepaskan seluruh takhta kekuasaan demi menyambut terang di bawah pohon bodis dan setelah wahyu itu diturunkan dengan lantang diserukannya keniscayaan kekuasaan dikelola lewat cara yang benar dan menjunjung tinggi akal sehat.

Dalam sebuah narasi teologis terungkap bahwa salah satu yang menjadi penyebab kehancuran Bani Israel sehingga negaranya ditimpa petakaadalah karena mereka terlampau banyak ”cakap” tetapi lupa bertindak, terlalu banyak berdiskusi, tetapi alpa menajamkan kepekaan nurani.

Melampaui khotbah

Khotbah keagamaan dan pidato kebangsaan memang penting, tetapi yang lebih penting bagaimana khotbah itu menginjeksikan kesadaran kepada seseorang, baik dalam konteks keumatan maupun kebangsaan, untuk melakukan transformasi sosial menuju karya dan tindakan bermakna. Dari ortodoksi ke ortopraksi.

Seluruhnya memang bermula dari kata, tetapi kata-kata itu agar memiliki ”rajah” harus mempunyai kaki tangan berupa kerja, karya, dan kenyataan. Betul apa yang dibilang Hannah Arendt bahwa hakikat manusia adalah kerja. Seluruh kegiatan, termasuk kegiatan politik, sosial,dan kebudayaan, adalah rangkaian kehidupan manusia yang berhubungan dengan praksis.

Menurut Arendt, vita activa terdiri atas tiga elemen dasar: kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). Kerja (labor) adalah cara kita melakukan aktivitas setiap hari agar hidup seperti makan dan minum. Kerja merupakan aktivitas untuk memenuhi hajat biologis. Karya (work) adalah aktivitas produktif sebagai satu proses mencapai tujuan material.
Karya, kata Arendt, menciptakan dunia di sekitar kita. Karya (work) dapat selalu dibedakan dengan kerja (labor). Tindakan (action) adalah juga aktivitas produktif, tetapi tidak menyangkut benda, dalam pengertian material. Tindakan adalah apa yang dilakukan manusia ketika mereka berkomunikasi satu sama lain, memperlakukan orang lain dengan bijaksana termasuk kesediaan masuk dalam pengalamanpluralitas, memandang kemajemukan sebagai undangan eksistensial agar manusia satu sama lain bisa bertindak secara bijak, rasional, dan memahami filosofi dari kemajemukan. Manusia harus mengorganisasidiri mereka sendiri dalam tindakan, terutama menyangkut politikyang notabene berhubungan dengan orang banyak (Benyamin Molan, 2009).

Jika Decartes menyebut berpikir sebagai modus eksistensial manusia, dalam konteks negara, bukan hanya berhenti sebatas berpikir, melainkan juga bekerja, ”aku bekerja, maka aku ada”. Bekerja menjadialasan utama di balik kehadiran manusia. Wilfred Cantwell Smith menulis,”Keyakinan eksistensial merupakan kesanggupan untuk hidup pada suatu level yang melampaui godaan materi dan kesenangan duniawi, kemampuan masuk dalam aras transenden. Ucapan, perbuatan, dan tindakan mencerminkan saluran suci epifani ilahi.”

Pemimpin dan atau calon pemimpin berhentilah bicara dan berwacana.Istirahatkan kata-kata, simpan kalimat rayuan gombal, bekerjalah dengan intim dan sepenuh jiwa.Tegas dan bertindaklah sesuai kapasitas. Berikan rakyat keteladanan. Saatnya keteladanan berbicara dan menjadi pandu yang tampil di muka.

Kita tidak membutuhkan sama sekali kerumunan pemimpin berwajah dasamuka, memburu citra, dan hanya cakap mengobral kata-kata yang dianggit dari kitab partisan yang sarat kepentingan kelompok. Pemimpin harus memastikan kehadirannya dengan bekerja. Bekerja benar, ikhlas, jujur, rasional, dan tidak korup. Setelah itu, tanpa diminta, segenap warga akan memberikan dukungan sepenuh jiwa.