Minggu, 16 April 2017

Menyidik Teror Penyidik KPK

Menyidik Teror Penyidik KPK
Lasarus Jehamat  ;   Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang
                                              MEDIA INDONESIA, 15 April 2017


                                                                                                                                                           

TEROR melanda Komisi Pemberantasan Korupsi. Selasa (11/4) pagi, penyidik KPK, Novel Baswedan, disiram orang tidak dikenal dengan menggunakan air keras. Fenomena itu tentu menyulut berbagai pihak untuk menganalisis sebab dan implikasi berikutnya. Sampai hari ini, KPK dianggap sebagai lembaga superpower yang memiliki kekuasaan sangat besar dalam proses pemberantasan korupsi di Indonesia. KPK menjadi satu-satunya lembaga yang memiliki keluasan akses untuk masuk sampai ke ruang pribadi, terutama ketika individu tertentu disinyalir melakukan tindakan korupsi. Itulah alasan mengapa kemudian, selama ini, berbagai pihak yang kepentingannya terganggu berusaha mengganggu KPK berbagai cara. Hanya, dalam perjalanan, beragam cara untuk melemahkan KPK menemukan jalan buntu.

Rupanya, kekuatan masyarakat sipil dan seluruh rakyat Indonesia dalam membongkar kedok perilaku buruk elite kekuasaan jauh lebih besar ketimbang usaha beberapa pihak menghentikan berbagai langkah positif pemberantasan korupsi. Para elite yang mengorupsi uang rakyat rupanya tidak tinggal diam. Ketika usaha di jalur formal, berbagai cara ekstraparlementer kerap dilakukan. Pelemahan KPK terus dilakukan dengan berbagai alasan yang sungguh logis meski belum tentu benar. Selasa (11/4), nasib pemberantasan korupsi di Indonesia kembali terancam. Ancaman pemberantasan korupsi tidak hanya diterima KPK secara kelembagaan. Secara personal, pimpinan KPK berikut penyidik KPK terpaksa harus menerima dampak dari beragam upaya pelemahan KPK tersebut.

Selasa pagi, wajah penyidik senior KPK, Novel Baswedan (NB), diserang dan disirami cairan beracun (air keras). Gugatan kemudian ialah apakah penyerangan tersebut hanya dibaca sebagai fakta kriminal murni? Apakah penyerangan itu tidak bisa dihubungkan dengan berbagai kerja bersama dalam proses pemberantasan korupsi? Tulisan ini ingin menjawab masalah tersebut. Tesis dasarnya bahwa penyerangan penyidik KPK yang dilakukan orang yang tak dikenal harus dihubungkan dengan keseluruhan proses dan upaya pemberantasan korupsi di Tanah Air. Bahwa penyerangan tersebut harus dibaca dalam konteks pemberontakan elite yang kemapanannya terganggu oleh kerja masif KPK.

Harus diakui, di Indonesia, korupsi menjadi masalah sistemik. Banyak manusia yang mencuri dan menjarah uang rakyat. Perkara sistem atau subsistem yang salah tidak jadi soal.

Yang pasti, korupsi berjalan beriringan dengan perjalanan bangsa ini. Korupsi di Indonesia sudah melampaui ruang dan aktor. Korupsi telah terjadi di semua level pemerintahan dan di hampir seluruh bagian penyelenggara negara; terbentang dari pusat hingga daerah. Di titik yang lain, korupsi dilakukan banyak sekali elite kekuasaan di negara ini.
Korupsi tidak hanya terjadi di elite pemerintah pusat, tetapi juga di daerah. Dari pegawai kecil hingga ke pejabat negara di pusat. Dalam dan amat menggurita. Karena realitasnya demikian, dalam setiap usaha pemberantasan korupsi biasanya langsung berhadapan dengan tembok besar personal dan institusional. Ujian penolakan akan tuduhan melakukan tindakan korupsi pasti muncul dan terjadi di mana-mana. Negeri ini seakan menjadi republik hipokrit. Sulit dipercaya dan jauh dari kejujuran.

Varian teror

Haberfeld dan von Hassell, Eds. (2009) pernah menulis dengan sangat baik tentang varian terorisme dalam A New Understanding of Terrorism: Case Studies, Trajectories and Lessons Learned. Menurut Haberfeld dan von Hassell berdasarkan motifnya, terdapat tiga varian utama terorisme, yakni criminals (kriminal), crusaders (perang atau pemberontakan), dan crazies (kegilaan). Teror kriminal berkaitan dengan perilaku kriminal biasa untuk tercapainya berbagai tujuan pelaku kriminalitas baik secara individu maupun kelompok. Teror kegilaan berhubungan dengan perilaku kekerasan yang dilakukan individu. Di aspek ini, teror kebanyakan terjadi karena faktor psikologis. Di sudut yang lain, terdapat jenis terorisme karena motif pemberontakan dan atau peperangan. Di jenis ini, terorisme terjadi karena sebab jamak dan banyak. Balas dendam dan konspirasi termasuk. Untuk memuluskan langkah pelaksanaan kegiatan, tiga jenis terorisme tersebut mesti direncanakan dengan sangat matang.

Di situ dibutuhkan strategi. Dalam The Strategy of Terrorism : How It Works and Why It Fails, Neumann and Smith (2007) menyebut teror sebagai alat; alat yang dipakai pelaku kriminal, baik individu maupun kelompok dalam mencapai tujuan. Di sana, beragam cara dilakukan untuk menghambat setiap proses yang menghalangi berbagai usaha pelaku kriminal tersebut. Karena hal demikian, oleh banyak ahli, fenomena banyak dan rumitnya struktur masalah dalam persoalan terorisme disebut sebagai konspirasi. Fenster (2008), dalam Conspiracy Theories : Secrecy And Power In American Culture, menyebut konspirasi sebagai racun dalam sistem sosial, budaya, dan ruang publik modernitas. Disebut racun karena dalam dirinya, aktor-aktor konspirasi berada dan bermain di ruang maya, tetapi berimplikasi secara nyata di dunia sosial.

Teror KPK

Kiranya tidak terlalu sulit mengenal Novel Baswedan. Penyidik KPK ini sering menangani kasus-kasus besar korupsi elite bernama besar. Terakhir, Novel Baswedan menangani kasus megakorupsi KTP elektronik yang melibatkan banyak pejabat di republik ini baik yang sedang berkuasa maupun yang tidak. Total kerugian dalam kasus ini Rp2,3 triliun.
Penyerangan penyidik bisa dijelaskan dengan pendapat ahli itu. Kejadian yang menimpa penyidik KPK bisa masuk kategori kriminal dan peperangan atau pemberontakan. Masuk kategori kriminalitas karena menyalahi aturan formal. Ketika dihubungkan dengan posisi Novel di KPK penanganan beragam kasus korupsi berskala besar, sulit untuk tidak dikatakan penyerangan itu persis berkaitan dengan proses penyelidikan kasus besar yang ditangani Novel. Penyerangan itu harus dibaca sebagai bentuk pemberontakan beberapa pihak terhadap berbagai upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Oleh elite yang kepentingannya terganggu, Novel Baswedan dianggap sebagai pengganggu kenyamanan atas praktik busuknya selama ini.

Beberapa elite kekuasaan pasti menganggap KPK terlampau sering merusak kenyamanan posisi politik dan sosial selama ini. Mereka yang dituduh bersalah selama ini sering menggunakan jalur hukum meski dalam beberapa kasus, usaha mereka pun sia-sia. Karena itulah, elite yang kepentingannya terganggu mencari upaya lain. Teror seperti yang melanda penyidik KPK termasuk di dalamnya. Di sisi yang lain, teror seperti dialami penyidik KPK harus dianggap sebagai strategi yang dibuat pelaku korupsi untuk mengalihkan isu yang sedang berkembang. Jika dihubungkan dengan berbagai proses penyidikan dan penyelidikan kasus megakorupsi, teror terhadap penyidik KPK merupakan gejala konspirasi guna menutup berbagai praktik busuk korupsi di negara ini. Harus dibangun usaha bersama agar KPK tetap tegak berdiri dalam melakukan usaha pemberantasan korupsi. Harus diingat bahwa semangat dari para koruptor untuk membendung semua upaya pemberantasan korupsi pasti besar pula. Di sini, dibutuhkan kerja bersama semua elemen bangsa untuk menyelamatkan KPK dan terutama menyelamatkan uang rakyat.