Minggu, 16 April 2017

Banalitas Versus Kesejatian

Banalitas Versus Kesejatian
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog Alumnus Seminari St Vincent de Paul
dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
                                              MEDIA INDONESIA, 15 April 2017


                                                                                                                                                           

MESKI Yesus disalib pada 2000 tahun silam, sesungguhnya pascapenyaliban itu, Yesus masih terus disalibkan atau dibunuh berbagai macam motif manusia sebagaimana diungkapkan teolog pembebasan Leonardo Boff (Via Sacra da Justica, Editora Vozes Ltda, Petropolis, RJ, Brazil 1978). Salah satu yang berperan besar membunuh Yesus hari ini ialah sifat dan perilaku banal manusia sehingga yang esensial dikesampingkan, sedangkan yang banal atau dangkal justru diutamakan. Nyaris seluruh dimensi kehidupan kita, termasuk dimensi agama, tengah mengalami banalitas. Banalitas agama, misalnya, telah menciptakan ruang-ruang keagamaan, yang telah berbaur dengan ruang-ruang budaya populer dan gaya hidup. Banalitas agama cenderung merayakan aspek-aspek artifisial agama, dan meminggirkakan apa yang hakiki dari agama. Agama hanya dihayati kulit luarnya. Yang sejati, dicampakkan. Yang hakiki dari pesan universal agama-agama seperti kasih, kepedulian, dan pemihakan kepada kemanusiaan, lalu penghargaan pada pluralitas dan perbedaan, memang telah tersingkir.

Teror, kekerasan, dan kebencian kian marak. Benar kata Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis, bahwa yang lain ialah neraka. Manusia pun kian tersekat dalam ruang-ruang sempit penuh amarah pada yang lain dan berbeda. Populisme, fundamentalisme, atau radikalisme agama, menjadi benang kusut yang ruwet dan rumit sehingga kian mendorong sebagian penganut agama membuat kubu eksklusif. Mereka yang dianggap berbeda bisa dengan mudah dilenyapkan lewat aksi-aksi anarkistis yang amat biadab. Agama pun ditafsir dan dihayati sebagai amunisi untuk menebar ancaman. Inilah contoh liar banalitas agama.

Kritik para tokoh

Dr Malachi Martin, guru besar Pontifical Biblical Institute Roma, dalam penelitiannya terhadap Yahudi, Kristen, dan Islam seperti yang terungkap dalam bukunya The Encounter (1969), pernah menyimpulkan agama tengah memasuki daerah yang sangat kering, baik sebagai personal concern maupun sebagai communal community. Akar masalahnya, agama-agama lebih banyak memberi perhatian pada hal-hal yang artifisial, jauh dari komitmen awal dan asli sebagai sarana bagi humanisasi. Yang ironis, dalam kondisi demikian, pejabat agama (tentu tidak semua) kadang malah ikut-ikutan banal. Sebelum kematiannya tahun lalu, Kardinal Italia terkenal, Carlo Martini, menyebut bahwa Gereja Katolik ketinggalan 200 tahun lamanya karena mengalami pendangkalan (banalitas). Menurut Martini, gereja lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistis belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya lagi di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya. Konyolnya, kadang dalam sikon seperti itu, justru ada pejabat gereja yang justru berkoalisi dengan penguasa dan pengusaha, serta abai pada yang kecil dan menderita. Padahal, yang kecil dan menderita, dalam pesan agama apa pun, harus lebih dipedulikan.

Kesejatian

Memang inti kesejatian praksis beragama ialah ketakwaaan pada Sang Pencipta yang hanya bisa diukur dalam kecintaan pada kemanusiaan keberpihakan pada yang kecil, lemah, dan menderita. Humanisasi harus dilakukan agar yang kecil, lemah, dan menderita bisa dibebaskan dengan spirit kasih. Karena keberpihakan pada yang kecil dan tertindas, Yesus justru balik ditindas dengan disalib dan mati dibunuh agamawan Yahudi yang berkolusi dengan penguasa Romawi. Peristiwa itu diperingati dalam Jumat Agung. Namun, salib itu paradoks. Di satu sisi, Yesus menjadi korban. Namun, di sisi lain, salib yang menjadi wahana bagi kematian-Nya, justru membawa keselamatan bagi yang percaya. Salib dalam perspektif iman Kristen ialah sarana penyelamatan atau pembebasan manusia dari cengkeraman banalitas yang menyebabkan banyak dosa. Dalam perspektif iman Kristen, salib ialah ekspresi belas kasih Sang Pencipta kepada umat-Nya karena Allah tidak senang manusia terus berada dalam dominasi dosa. Jadi, lewat kematian Yesus pada Jumat Agung, disusul kebangkitan-Nya pada Minggu Paskah, dominasi dosa yang berkuasa lewat kematian, dapat dikalahkan Yesus.

Lewat karya penyelamatan itu, dunia dihindarkan atau dibebaskan dari beragam banalitas yang menyebabkan banyak dosa sehingga manusia mau kembali pada penyembahan sejati pada Allah. Banalitas dosa yang menyebabkan maut telah dikalahkan. Karena itu, Paskah menjadi hari kemenangan iman terbesar. Jadi, sudah seharusnya kita bangkit dari banalitas. Pada hari Paskah, umat kristiani diingatkan bahwa Tuhan ialah penyelamat dari segala bentuk banalitas. Maka, siapa pun yang merayakan Paskah, harus menjalani hidup yang sejati dan tidak tergoda pada banalitas. Dengan demikian, kita tahu esensi sejati dari agama, yakni sebagai sarana bagi humanisasi, khususnya dalam mengangkat martabat kaum lemah dan tertindas. Sebab banalitas agama hanya menjadikan agama seperti momok atau tirani biadab dalam menjalankan mesin dehumanisasi yang menindas martabat luhur manusia. Boleh jadi kita bisa belajar tentang hidup yang sejati itu dari Paus Fransiskus. Paus ke-266, yang terlahir pada 1936 itu lewat teladan kesederhanaannya, boleh jadi hendak menunjukkan nilai-nilai sejati dalam beragama.

Di tengah pemujaan akan uang dan kemewahan hari ini sehingga orang doyan korupsi dan melakukan hal-hal tak terpuji lainnya, Paus berani memilih hidup sederhana dan menyerukan segenap kardinal, uskup, dan pastor dalam lingkup Gereja Katolik untuk menjauhi kemewahan yang sudah pasti merupakan salah satu bentuk banalitas. Bahkan, Paus berani memecat para pejabat gereja yang suka hidup mewah. Setiap tahun, Paus selalu punya agenda mengumpulkan semua tokoh lintas agama, termasuk dari Islam, untuk menggalang persaudaraan, perdamaian, dan kasih. Paus mengajak agar agama tidak menjadi bagian dari masalah, tapi harus menjadi pemberi solusi atas berbagai krisis kemanusiaan, seperti teror, perang, dan kemiskinan. Paus bukan hanya berwacana. Dia berani menerima pengungsi muslim asal Suriah dan berharap orang tidak menutup pintu pada para pengungsi. Lewat teladan itu, Paus hendak menunjukkan kepada manusia yang berbeda bahwa agama bisa bekerja satu sama lain dalam mengurai benang kusut krisis kemanusiaan yang multidimensional, sebagaimana terjadi di Suriah. Jelas hal itu senada dengan spirit Paskah yang seharusnya mendorong setiap umat kristiani untuk tidak terjebak dalam banalitas, tapi mampu menghayati kesejatian untuk berubah dan berbuah demi memberi nilai tambah bagi kemanusiaan (baik kemanusiaan dalam dirinya sendiri maupun dalam diri sesama). Selamat Paskah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar