Kamis, 06 April 2017

Bangsa yang Kurang Mendengarkan

Bangsa yang Kurang Mendengarkan
Limas Sutanto  ;  Psikiater, Tinggal di Malang
                                                        KOMPAS, 03 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Mendengarkan itu niscaya demi mengerti-dan-menjadi-beradab. Tanpa mengerti tiada kesalingmengertian, tak ada pula kesalingmemberhargakan.

Padahal, kedua hal yang tiada itu merupakan unsur-unsur hakiki yang melandasi keberadaban dan pemerlakuan terhadap manusia dan liyan sebagai subyek. Ketidakadaan "mengerti" menyuburkan kecurigaan dan ketakutan. Kedua pengalaman perasaan pembuncah hati itu mendorong pengejawantahan tindakan memusuhi dan memusnahkan liyan.

Akan tetapi, kini bangsa mengagung-agungkan ekspresi verbal, pekik teriak, suara lantang, hardikan menggelegar, dan yel-yel. Media sosial dan teknologi komunikasi menggelar jalan tol untuk perwujudan pernyataan-pernyataan kewicaraan itu. Bangsa menjelma menjadi massa yang gemar berekspresi kewicaraan. Namun, semakin banyak orang berwicara, kian sedikit ia mendengarkan; bangsa yang suka sekali dengan pernyataan verbal pun menjadi makin kurang mendengarkan.

Tiga kenyataan ini menandakan betapa bangsa kurang atau tidak mendengarkan.

Pertama, hiruk pikuk seperti abadi dalam media sosial, dengan tebaran padat dan luas hoaks, perundungan, penghinaan, caci maki, dan fitnah.

Kedua, kenekatan berwicara bohong yang lantang, yang justru dianggap bahkan dipuji sebagai bukti keberanian dan keteguhan dalam berprinsip.

Ketiga, ketakpedulian terhadap "suara rakyat yang sesungguhnya" (yang paling tampak dalam perilaku "tetap berkorupsi" kendatipun rakyat sesungguhnya menyerukan agar elite tidak melakukan korupsi).

Uraian itu menggarisbawahi pentingnya mendengarkan yang diperhadaphadapkan dengan wabah ekspresi verbal. Lalu, apakah pernyataan kewicaraan tidak penting?

Dalam karya-tulis-terpublikasi mereka yang pertama (Studies on Hysteria, 1895; 2013), Joseph Breuer dan Sigmund Freud menyatakan betapa pengungkapan secara verbal atas perasaan yang terkandung dalam pengalaman menyakitkan yang mengakari gangguan psikis histeris akan mengakhiri gejala-gejala gangguan psikis itu.

Sembuhkan gangguan jiwa

Betapa hebatnya ekspresi verbal itu. Ia dapat menyembuhkan gangguan jiwa. Kedua tokoh pendiri psikoanalisis itu seperti menegaskan bahwa verbalisasi perasaan sedemikian penting di tengah upaya menumbuhkembangkan kesehatan jiwani.

Pengalaman perasaan (afek) yang menyakitkan, tetapi tidak terkatakan akan dikucilkan dari kesadaran (kata Breuer dan Freud direpresikan) sehingga "tetap ada, tetapi seperti tiada", tak terolah, lantas menjadi "ingatan pengalaman traumatis yang terus saja bekerja" (reminiscences) dan karena itu melestarikan gejala-gejala gangguan jiwa.

Akan tetapi, verbalisasi perasaan yang dicita-citakan dalam psikoanalisis tidak sama dengan lontaran-lontaran hoaks dan perundungan verbal. Pada yang pertama, manusia dibimbing sesamanya yang mendengarkan dia dengan saksama untuk menilik dan mendalami pengalamannya sendiri, yang begitu menyakitkan; lalu didampingi untuk mengungkap afek traumatis (perasaan yang menyakitkan) melalui atau dalam kata-kata.

Dalam penciptaan kata-kata kebohongan dan fitnah verbal, orang justru tidak mau menyentuh perasaan menyakitkan yang bersarang di dalam dirinya. Yang ia lakukan justru membuangnya kuat-kuat keluar tanpa mengalami sakitnya perasaan itu. Dan tentu liyan dan dunia pun menjadi "harus mengalami rasa sakit pula".

Kegagalan mendengarkan dan pengagung-agungan ekspresi verbal berefek tragik fitnah, hoaks, perundungan, dan disonansi penalaran terjadi karena orang menjalanbentarkan (by pass) pengalamannya sendiri, yang menyakitkan atau tak menyenangkan. Wicara bukan lahir dari "mengerti" dan keberadaban yang bersumber pada mendengarkan yang saksama, melainkan terlontar dari jiwa yang menghindari, menolak, melewatkan dan melarikan diri dari "rasa menderita yang sah", yang sesungguhnya ada dan berlangsung di dalam diri, yang sesungguhnya pula tidak buruk, tak jahat, dan justru--jika dialami dan didalami--akan melahirkan kekuatan diri untuk bertumbuh kembang.

Carl Gustav Jung-lah yang melontarkan terma "penderitaan yang sah" atau legitimate suffering. Ia adalah rasa sakit yang mesti ada dan berlangsung di tengah upaya manusia bertumbuh kembang, untuk menjadi kian baik.

Demokrasi itu penting

Di tengah perkembangan peradaban manusia kini, demokrasi menjadi salah satu bagian yang penting dari proses sang manusia bertumbuh kembang. Dalam berdemokrasi itu tak pelak orang niscaya menjadi mengalami rasa sakit, terutama karena ia perlu menerima "yang berbeda", "orang lain" atau liyan, dengan segala rincian identitasnya yang lain daripada yang lain. Perbedaan identitas dan keberadaan liyan sungguh menjadi sumber rasa sakit; sekaligus ia memanggil warga bangsa yang berdemokrasi untuk belajar menerima, mendalami, dan mengatasinya, bukan menjalanbentarkan dia.

Di tengah bangsa hari kini, pemimpin bukanlah hanya pencipta kebijakan dan pengawas pelaksanaannya. Mereka juga agen-agen kebudayaan dan peradaban; bisa jadi mereka berbeban moral bahkan berkewajiban untuk "memersuasi masyarakat agar tidak mencipta hoaks dan perundungan verbal".

Itu berarti, di tengah tumbuh kembang kebudayaan dan peradaban, mendampingi mereka mengalami rasa sakit yang sah, tanpa melarikan diri darinya; mengajarkan warga bertabah mendalami penderitaan yang mesti terjadi karena beradanya yang berbeda dan liyan, dengan cara banyak mendengarkan secara saksama dengan niat yang kuat untuk menjadi lebih baik.