Selasa, 18 April 2017

Aktivitas Melamun pada Dini Hari

Aktivitas Melamun pada Dini Hari
AS Laksana  ;   Cerpenis dan Esais, tinggal di Jakarta
                                                       JAWA POS, 16 April 2017



                                                                                                                                                           

PADA suatu dini hari, karena tidak bisa tidur hingga pukul empat padahal sudah memejamkan mata sejak setengah dua, saya mengambil kertas dan pena, lalu menuliskan pertanyaan: Apa yang saya tidak tahu?

Tentu saja banyak. Jauh lebih banyak yang saya tidak tahu ketimbang yang saya tahu, tetapi saya berpikir untuk menuliskan sepuluh hal saja. Harapan saya, sebelum mencapai sepuluh, mata saya sudah mengantuk.

Hal pertama yang muncul, kenapa orang bisa kesurupan. Saya tidak tahu bagaimana penjelasan tentang kesurupan dalam perspektif neuroscience. Yang saya tahu hanya versi orang-orang tua zaman dulu. Menurut mereka, orang bisa kesurupan karena banyak melamun, apalagi pada waktu magrib. Saat matahari terbenam hingga malam tiba, setan-setan mulai keluar dari sarang dan sibuk bergentayangan. Mereka akan senang merasuki tubuh para pelamun.

Selanjutnya adalah soal bakat. Saya tidak tahu apakah ada cara yang akurat untuk mengetahui bakat seseorang sejak usianya dini. Jika ada, mungkin akan lebih mudah bagi orang tua untuk membimbing anak-anak berkembang sesuai bakat masing-masing. Selain itu, orang tua akan tahu sejak awal apakah bakat anaknya membahayakan atau tidak dan apa yang harus dilakukan sekiranya bakat si anak membahayakan.

Ada teman saya yang, menurut semua orang di dalam pergaulan kami, memiliki bakat menulis puisi; saya pikir banyak juga orang lain yang menurut teman-teman mereka memiliki bakat berpuisi. Itu bukan bakat yang membahayakan, tetapi menyimpan masalah. Selama beberapa tahun teman saya bergairah menulis puisi, tidak berhasil mengembangkan diri, dan sekarang menjadi pembuat kandang burung.

Saya terharu mendengar kabarnya dan pikiran saya mengembangkan skenario seandainya dia berhasil menjadi penyair atau, setidaknya, ada puisi-puisinya yang dimuat di koran-koran hari Ahad. Mungkin dia akan menjadi lebih giat mengirimkan puisi, lalu mengalami kesulitan hidup dan mandek dengan sendirinya, dan pada akhirnya menjadi pembuat kandang burung juga. Saya kurang berani membuat skenario bahwa dia kelak menerima Nobel Sastra sekiranya berhasil merawat bakat kepenyairannya.

Ketidaktahuan saya selanjutnya, apakah orang tua perlu mengadakan ”rapat perencanaan” dengan anak-anak mereka, entah setiap hari atau sepekan sekali atau sepekan dua kali. Kantor-kantor media massa biasa melakukan rapat perencanaan untuk membahas berita-berita yang akan diturunkan. Sebelum deadline, mereka akan mengadakan rapat sekali lagi untuk memeriksa hasil peliputan wartawan.

Reaksi spontan saya, mungkin perlu. Dalam rapat perencanaan itu, orang tua dan anak-anak bisa membahas persoalan-persoalan aktual yang mereka hadapi serta mencari penyelesaiannya. Mereka juga bisa membicarakan keinginan anak-anak dan apa yang perlu dilakukan agar keinginan mereka kelak terwujud. Dengan begitu, orang tua akan tahu di mana bagian mereka dalam membantu anak-anak mewujudkan keinginan.

Mungkin keinginan anak-anak masih akan berubah-ubah. Hari ini ingin menjadi mata-mata, besok ingin menjadi pembalap, besoknya lagi ingin menjadi masinis kereta api, tidak ada masalah dengan itu. Yang lebih penting, mereka bisa bersuara dan orang tua mau mendengarkan mereka. Pada saatnya mereka akan menetapkan satu pilihan. Juga, alangkah baiknya jika mereka kelak menekuni sesuatu yang sudah mereka persiapkan sejak awal. Kalaupun nanti menjadi pembuat kandang burung, dia sudah bersiap diri untuk itu dan tahu bagaimana menjadi pembuat kandang burung yang bermartabat.

Hal berikutnya lagi di dalam daftar ketidaktahuan itu: Apakah saya perlu membuat panggung boneka? Rasa-rasanya ini obsesi kuno bagi saya. Dulu, di sekolah dasar, saya membaca buku tentang sandiwara boneka, dilengkapi dengan panduan membuat panggung dan boneka-boneka karakter. Selesai membaca, saya mulai membuat boneka tangan, seperti Si Unyil, dengan bahan bubur kertas. Jelek sekali hasilnya dan keinginan membuat sandiwara boneka itu akhirnya saya pendam saja.

Jika sekarang saya membuatnya, mungkin anak-anak akan senang. Saya sudah membayangkan ada papan pemberitahuan di rumah dan setiap hari saya bisa memajang pengumuman. Misalnya, ”Pertunjukan hari ini: Kisah perjuangan para budak melawan penindasan majikan.” Atau, ”Saksikanlah: Drama Romeo dan Juliet.” Atau, ”Jangan lewatkan: Cerita mengharukan tentang seekor burung kecil memadamkan kebakaran hutan.” Saya bisa menambahkan bahwa setelah pertunjukan, akan ada diskusi. Sekalian waktu diskusi itu bisa saya kembangkan menjadi rapat perencanaan.

Mungkin itu perlu saya wujudkan. Saya penyuka dongeng dan berharap bisa membantu anak-anak saya merancang dongeng yang baik tentang diri mereka sendiri. Seseorang bisa sengsara atau bahagia, Anda tahu, karena dongeng yang dia ciptakan tentang dirinya sendiri. Orang juga bisa mengamuk dan meracau seperti sedang kesurupan setan karena menyimpan dongeng tentang ancaman-ancaman yang mengepungnya setiap hari atau dongeng tentang konspirasi jahat. Saya ingin anak-anak saya menyimpan dongeng yang menyehatkan, yang membuat mereka bisa menjalani hidup tenteram bersama orang-orang lain. Itu lebih baik ketimbang mereka melamunkan hal-hal mengerikan dan nantinya membuat meracau seperti orang kesurupan.