Indonesian
Idol
Komaruddin Hidayat ;
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah
|
KORAN
SINDO, 07 Maret 2014
|
Indonesian
Idol merupakan tayangan televisi yang saya senangi. Kadang saya sengaja
membuka You-Tube kalau ketinggalan tidak sempat menonton televisi.
Bagi
saya ini sebuah program yang memiliki banyak makna dan dimensi yang
mengandung pendidikan bagi pemirsa (public
education). Antara lain menyajikan drama hidup anak bangsa berjuang
mengubah nasib dengan menggali dan menunjukkan bakatnya menyanyi dan tampil
di panggung terbuka sehingga dalam waktu relatif singkat beberapa di antara
mereka lalu masuk jajaran selebritas nasional sebagai penyanyi.
Proses seleksi
dan persaingannya pun transparan, lebih transparan ketimbang kontestasi calon
legislatif yang ingin duduk di kursi wakil rakyat. Dalam program ini berbaur
antara edukasi publik, drama pergulatan hidup, dan hiburan bagi para pemirsa.
Menurut Ahmad Dhani, seorang jurinya, Indonesian Idol mampu menyatukan antara
rating dan kualitas. Ini perlu
digarisbawahi, kata Dhani, karena ada beberapa acara musik di televisi yang rating-nya tinggi, namun kualitas
rendah.
Atau
sebaliknya, ada acara televisi berkualitas tinggi, namun rating rendah. Kontestasi Indonesian Idol diikuti oleh sekitar
250.000 orang, diseleksi di tujuh kota, berlangsung selama enam bulan untuk
memilih 13 besar yang akhirnya mengerucut menjadi tiga besar. Lagi-lagi,
proses seleksi dan kontestasinya berlangsung secara terbuka sehingga para
pemirsa juga bisa melihat sendiri siapa yang gugur dan siapa yang lolos untuk
maju terus.
Pemirsa
juga dilibatkan untuk ikut serta memberikan penilaian. Sampai-sampai katanya
ada beberapa pimpinan daerah yang membagi pulsa telepon kepada warganya agar
memberikan dukungan suara sebanyak-banyaknya pada putra daerah yang tengah
ikut berkompetisi. Dalam program ini publik juga mendapat pembelajaran dari
para juri ketika menilai kualitas peserta, baik dari sisi bakat, penampilan,
pilihan lagu, maupun ekspresi serta artikulasinya.
Yang
cukup mengejutkan, menurut Ahmad Dhani, ternyata generasi penyanyi baru
memiliki kualitas prononsiasi bahasa Inggris yang bagus-bagus sehingga ketika
membawakan lagu Barat cukup percaya diri, enak didengar, dan menyamai
penyanyi internasional. Penampilan mereka tidak jauh berbeda dari panggung American Idol. Para pemirsa juga bisa
melihat kepakaran para juri yang terdiri atas Ahmad Dhani, Tantri, Titi DJ,
dan Anang.
Mereka
tidak sekadar andal dan dikenal sebagai penyanyi, tapi juga kritikus musik
dengan bekal pengetahuan yang dalam tentang dunia musik dan bahkan guru yang
baik bagi para juniornya. Candaan dan celoteh mereka cukup menghibur dengan
selingan yang cerdas, konyol, dan kocak. Di situ ada ruang demokrasi, muncul
perbedaan pendapat yang kadang tajam, namun tetap dalam suasana keakraban
yang memberi pelajaran bagi yang awam dalam dunia musik.
Jadi,
yang publik amati dan nilai sesungguhnya tidak saja para kontestan, tapi juga
kualitas dan penampilan para jurinya, bahkan perilaku para suporternya.
Kualitas juri maupun peserta program Indonesian Idol terlihat semakin
meningkat. Pemirsa juga melihat sikap juri yang suportif-edukatif, termasuk
perkembangan peserta sejak tahapan awal audisi sampai tahap berikutnya, di
sana terlihat banyak perkembangan dan perubahan dalam berbusana, berinteraksi
dengan penonton, dan tak kalah pentingnya membangun sikap percaya diri serta
kesiapan mental untuk tereliminasi.
Ini
suatu pelajaran hidup yang pasti amat mengesankan dan berpengaruh dalam hidup
seseorang ketika menang atau gagal dalam sebuah pertandingan yang disaksikan
publik secara terbuka. Kedewasaan sikap, terutama siap menang dan siap kalah,
sangat penting bagi siapa pun yang mau bertarung dalam kancah nasional.
Siapa
pun nanti yang masuk tiga besar akan jadi figur publik dan rolemodel bagi
calon-calon peserta Indonesian Idol tahun berikutnya. Jika sekadar hebat
bernyanyi, namun karakternya tidak terjaga, publik pasti akan kecewa dan
menghukumnya serta akan mengurangi wibawa program Indonesian Idol. Saya
merindukan para artis-selebritas Indonesia semakin berkembang dengan disertai
intelektualitas dan integritas sehingga berita mereka tidak selalu sarat
gosip yang tidak sedap.
Modal
tampan, cantik, pintar menyanyi, populer, ketika ditopang dengan
intelektualitas dan integritas sangat terbuka peluangnya untuk meningkatkan
kualitas demokrasi. Siapa tahu ke depan banyak politisi dari kalangan artis
yang benar-benar berkualitas, bukan sekadar mengandalkan popularitas dan
ketampanan atau kecantikan.
Mengutip
Ahmad Dhani, saya merasa senang dan bangga setiap tahunnya bisa ikut
membidani lahirnya penyanyi-penyanyi bagus dan berbakat. Kebanggaan ini
menjadi semakin bermakna ketika para penyanyi itu juga terus mengembangkan
intelektualitasnya dan menjaga integritasnya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar