JSS
Berisiko Sangat Tinggi
Effnu Subiyanto ;
Kandidat Doktor Ekonomi Unair
|
KORAN
JAKARTA, 07 Maret 2014
|
Mungkin
masih teringat, sebuah kapal feri KM Bahuga Jaya bertabrakan dengan kapal
tanker berbendera Singapura, Norr Gastar, di Selat Sunda (26/9/2012).
Jalur
Selat Sunda memang menjadi rute kapal tanker dari wilayah Amerika atau Afrika
untuk melintasi Samudra Hindia menuju kawasan Asia. Norr Gastar saat itu
sedang mengangkut gas dan minyak tujuan Singapura. Kecelakaan ini menunjukkan
betapa Selat Sunda demikian padat dan strategis sebagai jalur logistik
internasional.
Maka,
perlu dipikirkan sekali lagi proyek besar untuk membangun Jembatan Selat
Sunda (JSS). Di samping biayanya mencapai 200 triliun rupiah, juga rawan
kecelakaan laut di masa mendatang. Selat dengan lebar perairan efektif yang
bisa dilalui kapal 10,5 kilometer dari total panjang JSS 29 km karena ada
Pulau Ular, Pulau Sangiang, dan Pulau Prajurit. Kondisi begitu saja masih
banyak kecelakaan moda laut.
Jadi,
tidak dapat dibayangkan jika bentang tengah J S S nanti hanya 3.000 meter
seperti jembatan Surabaya-Madura. Bentang tengah inilah nanti yang disiapkan
untuk dilintasi kapal besar. Hasrat menuntut jembatan disebabkan belum ada
solusi untuk mengatasi kemacetan jalur Merak- Bakauheni.
Dalam
pikiran masyarakat satu-satunya penyelesaian adalah JSS. Pemerintah pun
kemudian merilis sebuah PP dengan No 86/2011 tentang Pengembangan Kawasan
Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS), 2 Desember 2011. Kondisi
selat yang tidak stabil karena dekat Gunung Krakatau yang aktif juga akan
menyulitkan studi kelayakan (SK).
Pada
September 2013, estimasi biaya SK mencapai 3,5 triliun rupiah yang diharapkan
selesai 2014. Namun, jika melihat perkembangan, peletakan batu pertama tahun
ini hampir dipastikan tidak mungkin. Nilai SK tentu membuat konsultan
bersemangat kalaupun sesungguhnya mungkin tidak layak. Mereka akan tetap
mengatakan “layak”.
Akhirnya
pendapat feasible itu dengan
catatan-catatan yang berkonsekuensi mahal, sangat layak apabila tingkat gempa
di bawah 1 skala richter. Juga tingkat acid air laut dalam ukuran tertentu
dan tak ada kapal atau tongkang menabrak struktur jembatan. Suramadu Kalau argumentasinya demi memecahkan
lalu lintas selat yang krusial tentu tidak tepat karena fungsi jembatan
sebenarnya tidak demikian.
Bertumpu
tidak pada on-ground yakni dari
struktur konstruksi, kekuatan jembatan jelas terbatas. Tidak seluruh
kendaraan yang bisa melewati JSS. Jembatan Suramadu adalah contoh konkret
bahwa kapal feri dan moda transportasi laut lainnya tetap diperlukan. Kalau
hebat Suramadu seharusnya mampu menampung 48 kendaraan berat bersamaan.
Andai
ada dua lajur, jumlah kendaraan berat tinggal dikalikan dua menjadi 96 unit.
Bentang tengah Suramadu dengan panjang 818 meter dari total 5.438 meter
bertumpu pada kawat baja. Jika diasumsikan berat satu kendaraan besar
rata-rata 15 ton plus beban maksimal satu kontainer 40 feet sekitar 45 ton,
maka beban total menjadi 60 ton per.
Dalam
kondisi terburuk semua kendaraan besar berada di bentang tengah, maka beban
yang harus ditanggung main girder, kawat baja, dan kolom tengah 5.774 ton.
Barangkali jembatan di Indonesia saat ini tidak ada satu pun yang mampu
menahan beban seberat itu kendati jembatan terpendek yang melintasi sungai
kecil hanya 12 meter sekalipun. Jadi, di atas kertas, jembatan Suramadu akan runtuh
seperti jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (26/11/2011).
Karena
itu, sejak peresmian operasional jembatan Suramadu, 10 Juni 2009, oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai sekarang, dipasang portal di kedua
mulut jembatan agar kendaraan berat tidak masuk. Persoalannya tentu pada
kekuatan struktur konstruksi jembatan. Standar Bina Marga, kekuatan jalan
satu sumbu roda maksimum 11 ton. Itu pun dengan pondasi on-ground. Bagaimana
dengan JSS yang tidak on-ground? Standar kekuatan tentu tidak sampai
maksimal.
Untuk
menyamai kekuatan standar di on-ground
tentu dibutuhkan struktur baja yang sangat besar. Pada akhirnya akan membuat
tiang pancang juga lebih besar. Ini akan berhadapan dengan keterbatasan
anggaran. Efektivitas jembatan sebetulnya hanya untuk mengurangi kepadatan
lalu lintas, tidak mampu secara keseluruhan meniadakan fungsi transportasi
moda laut konservatif seperti kapal feri, roro, tongkang atau landing ship tank (LST). Beban-beban
berat ukuran kontainer sampai ekstrem tetap memerlukan kapal-kapal moda laut
tadi.
Jenis
kendaraan tertampung jembatan Suramadu atau JSS (kalau jadi) hanyalah sepeda
motor, mobil pribadi ukuran kecil, dan maksimal bus penumpang. Kepadatan
pelabuhan Ujung, Surabaya, dan Kamal, Madura, kini berkurang karena adanya
jembatan Suramadu. Demikian pula kepadatan pelabuhan Merak-Bakauheni juga
akan berkurang andai JSS selesai 10 tahun lagi. Kondisi geografis yang sangat
rawan karena berada tepat di lintasan ring
of fire gunung api yang masih aktif, JSS tentu harus dipikirkan
masak-masak.
Terlalu
besar risiko jika mengingat frekuensi gempa di Indonesia begitu tinggi. Tepat
hari H Lebaran 19 Agustus 2012, gempa berkekuatan 6,2 SR mengisolasi 14 desa
di Kabupaten Kulawi, Sulawesi Tengah, menyebabkan 6 tewas dan 165 rumah rata
tanah. Sehari kemudian, gempa 5,7 SR juga menggoyang Banda Aceh barat daya,
padahal pusat gempa 440 km di Samudra Hindia. Lebih Mahal Kendatipun tidak
merusak struktur sipil secara fisik, gempa adalah alert serius konstruksi
jembatan, apalagi yang melintasi lautan. Diperlukan banyak sekali effort dan
biaya.
Tidak
mustahil juga jauh lebih mahal dibanding biaya operasional menggunakan armada
kapal. Dengan uang 200 triliun rupiah, sebetulnya lebih logis membangun
dermaga panjang di kedua pulau. Jadikan seluruh bibir pantai Merak dan
Bakauheni menjadi dermaga yang efektif bisa disandari kapal seperti dilakukan
Singapura. Negeri kecil Singapura tidak kebetulan mengecor seluruh pantainya
menjadi dermaga. Itu memang ditujukan agar kapal-kapal besar tidak lama di
tengah laut menunggu giliran sandar. Semakin cepat sandar, semakin cepat fee
didapat Singapura.
Untuk
membuat superdermaga di Merak dan Bakauheni paling hanya memerlukan biaya
maksimal 5 triliun rupiah dan dapat selesai tidak sampai setahun. Pada saat
bersamaan dengan BUMN perkapalan dan industri kapal swasta domestik lainnya
mulai sekarang bisa memesan kapal feri, roro, tongkang, LST
sebanyak-banyaknya. Jika tahap-tahap ini serius dikerjakan, tidak sampai
setahun, persoalan macet Merak-Bakeuhuni terpecahkan. Ini solusi logis
daripada memaksakan JSS yang begitu risky karena faktor given dari alam yang,
suka atau tidak, harus diterima.
Pemaksaan
JSS dengan tingkat risiko yang demikian besar seperti kecelakaan terakhir
antara KM Bahuga Jaya dengan kapal tanker Norr Gastar hanya memunculkan
spekulasi tertentu dari setiap tender pemerintah, yakni hasrat korupsi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar