Caleg
dan Masalah Kejiwaan
Rakhmat Hidayat ;
Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
(UNJ) & Kandidat PhD Sosiologi Pendidikan UniversitÈ LumiËre Lyon 2
France
|
KORAN
SINDO, 07 Maret 2014
|
Analisis
Michel Foucault dalam bukunya, Folie et
DÈraison Histoire de la folie ‡ l’‚ge Classique (1961), yang menjelaskan
berdirinya rumah sakit jiwa pada abad 17 di Prancis mengingatkan kita pada
berita beberapa daerah dalam menyiapkan layanan khusus berupa konsultasi,
terapi intensif, hingga perawatan bagi para calon legislatif (caleg) yang
mengalami tekanan mental maupun kejiwaan akibat kejutan-kejutan sepanjang
pesta demokrasi yang berlangsung pada April 2014.
Pemilu
legislatif hanya tinggal menghitung hari. Seluruh caleg dipastikan sudah
melakukan kampanye setahun terakhir. Awal tahun ini frekuensi turun ke
lapangan atau blusukan ke dapil konstituennya semakin meningkat untuk
menggenjot elektabilitas dalam pertarungan di dapilnya. Seluruh cara dan
strategi dilakukan para caleg untuk meraih dukungan politik dari
konstituennya. Salah satu efek dari hasil pemilu legislatif adalah kegagalan
mantan caleg menembus kursi wakil rakyat.
Tekanan
jiwa, depresi, atau gangguan kejiwaan merupakan efek psikologis dari
kegagalan tersebut. Inilah yang direspons sejumlah daerah dengan melakukan
berbagai kesiapan. Di Bengkulu misalnya Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan
Obat (RSJKO) Provinsi Bengkulu menyiapkan 200 tempat tidur untuk para calon
anggota legislatif (caleg) yang gagal menjadi anggota Dewan dan mengalami
depresi.
Berdasarkan
pengalaman di Bengkulu, selalu muncul caleg depresi yang kalah bertarung
dalam pemilu dan pilkada sebelumnya. Merujuk pada pengalaman di Bengkulu,
dalam setiap pemilu setidaknya terdapat 10 hingga 20 orang caleg yang
depresi. Cara ini juga sepertinya bakal dilakukan beberapa daerah lain
seiring ancaman depresi para caleg yang kalah dalam pertarungan Pemilu
Legislatif 2014.
Kesiapan
beberapa daerah tersebut bukanlah hal yang dianggap konyol atau main-main,
melainkan sebagai sebuah respons sosial psikologis di kalangan masyarakat
kita yang menempatkan politik sebagai sebuah pilihan yang instan, bukan
politik sebagai sebuah panggilan (calling).
Politik
dipahami sebagai ruang terjadi mobilitas sosial vertikal dengan menempatkan
indikator sosial ekonomi sebagai variabel signifikan tanpa membangun filosofi
politik yang mumpuni dengan dukungan idealisme dan kesejahteraan rakyat.
Politik Biaya Tinggi
Masalah
kejiwaan dan depresi para caleg dalam pileg sejatinya bukan hanya masalah
psikologis, melainkan juga menjadi masalah sosial-ekonomi yang memberikan
kontribusi muncul masalah tersebut. Ancaman sakit jiwa adalah representasi
dari ketidakmampuan seorang calon anggota legislatif (caleg) dalam
memobilisasi sumber daya ekonomi dalam kontestasi politik dan tersingkir
dalam dunia sosial yang menghukumnya.
Dengan
kata lain, masalah kejiwaan, stres, dan depresi bukan masalah instan yang
muncul dari seseorang, melainkan menggambarkan akumulasi dan kegagalan
seseorang dalam mengapitalisasi faktor ekonomi, sosial, politik, hingga
psikologis. Masalah kejiwaan yang dialami mantan caleg menunjukkan posisi
sosial yang ‘’berbeda’’ dari kesadaran sosial personal mantan caleg tersebut
dengan ruang sosial di mana dirinya berada.
Kesadaran
sosial dalam relasi ini memiliki makna kesesuaian dirinya dengan nilai dan
norma yang berkembang di masyarakat. Kesadaran sosial inilah yang hilang
dalam diri mantan caleg tersebut. Bisa dibayangkan, seorang caleg yang sudah
bertarung habis-habisan dengan menghabiskan biaya besar dan akhirnya
tersingkir dengan kandidat lain-nya, dia harus mempertaruhkan nama dan
kredibilitasnya di tengah masyarakat sekitarnya.
Jika
latar belakang ekonomi mencukupi, modal politik tentu tak masalah. Tetapi,
jika modal ekonomi didapatkan dengan berbagai cara yang instan, mari kita
lihat bagaimana seorang kandidat legislatif harus bersaing merebut (1) satu
kursi di tingkat DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Dari
berbagai sumber yang didapatkan untuk terpilih ke Senayan, seorang calon
harus mengeluarkan biaya paling murah sekitar Rp500 juta hingga angka Rp1
miliar.
Tidak
sedikit, di atas angka itu, modal dikeluarkan lebih dari Rp1 miliar hingga
Rp6 miliar. Biaya ini mencakup biaya kampanye hingga biaya lobi-lobi politik
lain. Modal untuk DPRD provinsi dan kabupaten/kota akan lebih kecil
dibandingkan dengan DPR RI. Inilah sebuah risiko sosial yang harus diterima
di tengah politik biaya tinggi yang berlangsung dalam sistem politik
Indonesia.
Menekan Biaya Politik
Ancaman
kejiwaan termasuk risiko bunuh diri bisa direduksi dengan menempatkan politik
sebagai sebuah panggilan idealisme, bukan sebagai pilihan pragmatisme. Sebagai
sebuah idealisme, proses pencalonan dalam pileg tidak dilakukan dengan instan
seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi, dia dibangun dari proses dan
kerja-kerja politik yang membumi danpanjang.
Kerja
politik yang dilakukan pada dasarnya dilakukan ketika seorang caleg mulai
terlibat dalam keanggotaan partai politik. Dia mulai membangun jejaring dan
kapasitas yang mendukung dirinya. Perlahan-lahan dengan keterlibatan di
partainya dan daerah asalnya, dia bisa mengapitalisasi jaringannya yang
mendukung dalam penguatan dapil di basis konstituennya.
Kerja
politik seperti ini bisa menekan biaya politik yang tinggi. Pada dasarnya
caleg dengan latar belakang aktivis atau penggiat lembaga swadaya masyarakat
bisa dengan mudah melakukan kerja politik seperti ini karena dia sudah
terbiasa dengan kerja-kerja akar rumput yang berbasiskan jaringan. Dari segi
finansial, mereka memang tak memiliki modal lebih, tetapi dengan rekam jejak
dan pengalaman cara kerjanya, dia memiliki kesempatan untuk bersaing menuju
kursi legislatif.
Hal
penting lain adalah mendekonstruksi mainstream politik dalam kontestasi
politik yang masih mempertahankan politik uang. Tidak mengherankan jika
setiap pencalonan seorang caleg harus mengeluarkan berbagai dana yang
diberikan kepada masyarakat di dapil konstituennya. Dana tersebut diberikan
dalam berbagai bentuk seperti uang transportasi, uang makan, uang rokok, uang
kopi, uang lelah, uang bensin, dan berbagai kategori lain.
Selagi
masyarakat kita berekspektasi dengan berbagai varian dana-dana tersebut,
biaya politik akan tetap tinggi karena masyarakat selalu mengharapkannya.
Semakin tinggi biaya yang diharapkan masyarakat, peluang caleg tersebut akan
semakin besar. Inilah transaksi pragmatisme politik yang menggerus visi dan
nilai politik yang diperjuangkan dalam masyarakat. ●
|
Bukankah
ramah sebagai sikap hidup dan pemaaf bagi orang asing atau bangsa lain
semestinya mulai dari dalam (from
within)? Namun, sejarah dendam antara Sultan Ternate dan Tidore memang
mencatat pihak ”ketiga” yang secara licik terus mengadu dan memprovokasi
untuk penguasaan rempah-rempah. Sama analoginya secara kultural selalu
”diadu” antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta oleh Belanda
dengan VOCnya, padahal asal awalnya dari satu Mataram baru yang sama.
Sejarah
pemerdekaan dari transformasi mentalitas pulalah yang membuktikan bahwa kita
sampai hari ini masih terus belajar dan belajar agar ”tanah” dengan mineral
kekayaan di dalamnya serta ”air” dengan kekayaan laut di dalamnya tidak
dijual murah oleh mereka-mereka yang ramah, namun culas sehingga hari ini 85%
makanan kita berasal dari impor.
Mengenali
tiga gejala paradoksal terutama yang terakhir, dengan gagalnya setiap kali
bahasa hukum komisi rekonsiliasi dan bahasa pengakuan dengan rendah hati,
bahwa masingmasing kita adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terhadap sesama
bangsa sehingga yang muncul di tahun politik 2014 bukannya pengakuan kita
sekaligus pelaku dan korban, namun malah rasionalisasi dan pembenaran-
pembenaran diri bersih dari dosa sejarah?
Sudah
saatnya menapaklah kita di jalan kultural rekonsiliasi dan bukan terus mendua
tampil pahlawan, padahal yang sejati sebagai pahlawan adalah mereka yang
bernama rakyat, satunya kata dan tindakan untuk mewujudkan kesejahteraan
bersama dengan keadilan dan pemerataan.
Tanpa
ini, paradoks-paradoks kita akan muncul terus di panggung Indonesia yang
seolah-olah seakan-akan ”berbagi
panggung”, padahal secara nyata saling mengerkah berebut panggung. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar