Senin, 02 Desember 2013

Rupiah dan Transformasi Struktural

Rupiah dan Transformasi Struktural
A Prasetyantoko  ;   Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta
KOMPAS,  02 Desember 2013



AKHIR minggu lalu, nilai rupiah ditutup melemah mendekati Rp 12.000. Meski menyatakan akan mengintervensi pasar, agaknya Bank Indonesia tak bisa banyak diharapkan mampu dan mau menahan pelemahan nilai tukar. 
Pertama, amunisi intervensi tak terlalu memadai dengan cadangan devisa hanya sekitar 97 miliar dollar AS. Kedua, BI sudah berkali-kali menekankan pelemahan nilai tukar terkait dengan masalah struktural ekonomi domestik, dan rupiah akhir-akhir ini sudah mencerminkan nilai fundamentalnya.

Memang agak kontradiktif, selama ini selalu dikatakan ”kondisi fundamental” perekonomian kita baik. Indikatornya, angka pertumbuhan tinggi (sekitar 6 persen), inflasi terjaga (sekitar 5 persen), rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) redah (sekitar 25 persen). Bandingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa yang tumbuh negatif, sementara Jepang dan Amerika Serikat (AS) memiliki rasio utang lebih dari 100 persen terhadap PDB. Jika benar fundamental ekonomi kita bagus, mengapa depresiasi rupiah termasuk yang paling buruk, lebih dari 20 persen sejak awal tahun?

Selama ini ada kesalahan konsepsi cukup mendasar, memahami fundamental ekonomi hanya dari kriteria fiskal dan moneter. Karena itu, respons pelemahan rupiah juga terbatas pada dua koridor tersebut. Selama ini koordinasi kebijakan moneter-fiskal sudah terjadi dengan baik, ditandai dengan kompaknya Gubernur BI dan Menteri Keuangan. Namun, jelas itu tidak cukup. Meski BI Rate sudah dinaikkan menjadi 7,5 persen, rupiah tetap saja tertekan, dan BI sudah menunjuk akarnya ada pada masalah struktural. 
Transformasi struktural membutuhkan kerangka kerja sama yang jauh lebih luas, dan pemerintah tak bisa hanya direpresentasikan oleh Kementerian Keuangan saja.

Fundamental ekonomi mencakup variabel yang sangat kompleks, tak sekadar lingkungan makroekonomi. Laporan tahunan Forum Ekonomi Dunia tentang indeks daya saing global bisa menjadi rujukan untuk menilai ”fundamental ekonomi” sebuah negara. Perekonomian kita memang selalu dipuji karena dua indikator: pasarnya yang besar serta lingkungan makro yang stabil. Namun, indeks daya saing global memiliki 12 pilar penilaian. Masih ada 10 pilar lainnya, yang selama ini nyaris tak menjadi fokus pemerintah.

Setiap tahun, masalah infrastruktur, birokrasi, dan korupsi selalu disebut dengan urutan yang berbeda-beda sebagai masalah paling serius oleh para investor dan pelaku usaha. Dalam rilis terakhir, Laporan Daya Saing Global 2013-2014, masalah korupsi menduduki peringkat teratas. Selain itu, masih ada sederet indikator lain yang harus diperhatikan, seperti kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, kondisi perburuhan, dan tingkat harapan hidup. Jika mau lebih rinci lagi, berbagai indikator seperti kematian ibu melahirkan, kematian anak balita, dan prevalensi pengidap penyakit tuberkulosis dan HIV-AIDS menjadi ukuran kemampuan bersaing sebuah bangsa. Itu semua adalah pekerjaan rumah yang selama ini cenderung diabaikan.

Apa korelasi nilai tukar dengan daya saing global? Pelemahan rupiah akhir-akhir ini menunjukkan buruknya daya saing kita terhadap pihak lain. Itulah mengapa berbagai indikator neraca eksternal kita, mulai dari neraca perdagangan, transaksi berjalan, serta neraca finansial dan modal terus mengalami defisit yang cukup besar. Sudah sembilan triwulan transaksi berjalan kita mengalami defisit, dan pada triwulan III tahun 2013 angkanya masih besar, sekitar 8,4 miliar dollar AS atau setara dengan 3,8 persen PDB.

Tak ada upaya instan yang bisa dilakukan setelah instrumen kebijakan moneter-fiskal dikerahkan untuk menenangkan pasar. Hal paling penting yang harus segera dilakukan adalah menunjukkan komitmen memperbaiki berbagai masalah struktural tersebut. Jika tidak, posisi kita dalam rantai produksi global akan terus marjinal sehingga berbagai indikator neraca eksternal tak kunjung membaik. Perekonomian kita tak lebih sebagai pasar yang begitu potensial dan menggiurkan bagi siapa saja yang ingin mengeruk keuntungan hampir di semua sektor usaha.

Tak ada strategi industri yang dirancang untuk mengelola potensi pasar domestik, misalnya dengan membangun industri dasar yang memproduksi bahan baku dan bahan penolong di dalam negeri. Semuanya diserahkan kepada investor dan pelaku pasar yang hanya fokus pada beberapa sektor, terutama yang bersifat ekstraktif. Akibatnya, dinamika ekonomi kita begitu bergantung pada harga komoditas primer di pasar dunia. Sudah sejak triwulan IV-2012, sektor pertambangan tumbuh negatif akibat penurunan harga komoditas.

Meskipun nilai investasi asing langsung masih tinggi, keberadaannya menyedot kebutuhan impor sangat besar. Lebih dari 90 persen impor kita adalah bahan baku dan bahan penolong. Jika investasi naik, pasti impor melonjak, sehingga defisit membengkak. Itulah mengapa BI mematok pertumbuhan kredit 2014 sebesar 15-17 persen saja, supaya investasi menurun. Dilemanya, jika pertumbuhan kredit menurun, investasi terkoreksi sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan melambat. Itulah harga yang harus dibayar akibat kelemahan struktural ekonomi kita.

Harga itu harus dibayar terutama oleh penduduk yang sedang mencari pekerjaan serta yang masih berada dalam kemiskinan. Karena setiap koreksi pertumbuhan ekonomi pasti disertai dengan melemahnya kemampuan penyerapan tenaga kerja serta pengentasan rakyat miskin. Tak ada jalan lain, kecuali menyelesaikan masalah struktural, dan itu artinya harus melibatkan semua perangkat kementerian yang ada, bukan Kementerian Keuangan saja. Sayangnya, seperti kita ketahui bersama, tak banyak menteri yang masih bisa fokus pada pekerjaannya menjelang Pemilu 2014 ini.

Tidak hanya rupiah yang dipertaruhkan, tetapi juga nasib para pencari kerja dan penduduk miskin yang sebenarnya membutuhkan stabilitas nilai tukar supaya perekonomian bisa terus berekspansi. Di sisi lain, BI tak bisa terus-menerus memberi rapor bagus, dengan cara menaikkan BI Rate, terutama untuk menarik modal asing, kepada murid malas yang mengabaikan sekian banyak pekerjaan rumah. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar