Selasa, 17 Desember 2013

Bukan Tahun yang Mudah

Bukan Tahun yang Mudah
Dwi Indriastuti  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS,  17 Desember 2013

  

TAHUN 2014 tak mudah bagi perbankan. Banyak tantangan yang sudah tergambar sejak pertengahan dan akhir 2013, antara lain likuiditas yang ketat dan suku bunga yang tinggi. Ada pula dampak kondisi dalam ataupun luar negeri.

Kondisi luar yang sudah memberi dampak signifikan sejak akhir 2013 ialah rencana pengurangan stimulus moneter Bank Sentral AS atau The Fed. Pelonggaran likuiditas atau quantitative easing yang dilakukan The Fed sejak Juni 2009 membuat negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi cepat, emerging market, kebanjiran dana murah. Dana triliunan dollar AS ini masuk ke pasar keuangan.

Namun, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi negara maju, termasuk AS, stimulus moneter ini akan dikurangi. Investor asing yang selama ini ada di negara-negara emerging market memilih menunggu: pada saatnya akan berbalik menuju negara-negara maju.

Di dalam negeri, kenaikan harga BBM bersubsidi pada Juni 2013 memicu lonjakan inflasi. Akibat langkah yang sudah sangat terlambat itu, inflasi pada 2013 yang semula ditargetkan 3,5-5,5 persen meleset. Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada akhir 2013 bisa 8,5 persen. Soal internal lain adalah defisit transaksi berjalan yang sudah berlangsung sejak triwulan IV-2011. 
Penyebab utamanya jelas: defisit neraca perdagangan minyak, ditambah dengan defisit pendapatan dan jasa-jasa yang sudah kronis.

BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 7,5 persen: total 175 basis poin atau 1,75 persen dalam Juni-November 2013. Padahal, sepanjang 16 bulan sejak Februari 2012, BI Rate bertahan 5,75 persen. Berakhir sudah era suku bunga rendah. Terkait dengan kondisi eksternal, suku bunga 7,5 persen itu diharapkan bisa menarik dana asing untuk bertahan di Indonesia. Selama ini Indonesia cukup bergantung pada dana asing ini.

Dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), pada triwulan III-2013 transaksi modal dan finansial mencapai 4,891 miliar dollar AS. Salah satu unsurnya, investasi portofolio yang mencapai 1,884 miliar dollar AS. Selama ini transaksi modal dan finansial menjadi andalan menutup defisit transaksi berjalan.

Jika dihadapkan pada faktor internal, suku bunga tinggi diharapkan bisa menahan laju pertumbuhan ekonomi. Inflasi diperkirakan turun, impor berkurang, dan ini memperbaiki transaksi berjalan. Kredit perbankan sebagai sasaran antara juga diharapkan melambat dengan kenaikan suku bunga acuan ini. Selama ini masyarakat kerap menilai bank cepat sekali menaikkan suku bunga pinjaman saat suku bunga acuan naik. Namun, sebaliknya, bank akan bersikap santai menurunkan suku bunga pinjaman saat bunga acuan turun.

Berhitung terapkan suku bunga

Saat ini di tengah ketatnya likuiditas, yang diwarnai dengan ketimpangan likuiditas di bank skala besar dengan bank skala kecil atau menengah, bank akan berhitung menerapkan suku bunga. Untuk menarik dana pihak ketiga atau dana masyarakat, bank akan menawarkan suku bunga simpanan yang menarik.

Sejatinya ada ukuran suku bunga penjaminan dalam penerapan suku bunga simpanan. Salah satu syarat agar simpanan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah suku bunga tak melebihi suku bunga penjaminan. Yang terjadi saat ini, dan diperkirakan berlanjut hingga tahun depan, adalah ketatnya bank berebut dana. Dana itu tak hanya untuk keperluan saat ini, tetapi juga untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan seretnya likuiditas pada 2014.

Bukan rahasia lagi jika bank menawarkan suku bunga khusus yang lebih tinggi dari suku bunga penjaminan. Tentu bukan sembarang nasabah yang mendapat tawaran semacam ini. Yang disasar adalah nasabah dengan dana besar dan bersedia menempatkan dananya dalam jangka waktu tertentu di bank itu. Suku bunga simpanan itu berkorelasi dengan biaya dana atau biaya yang diperlukan bank untuk mendapatkan dana. Padahal, biaya dana merupakan unsur penentu besaran suku bunga pinjaman.

Jadi, dampaknya merambat: kenaikan suku bunga pinjaman. Namun, kenaikan suku bunga pinjaman ini tak selalu berbanding lurus dengan kenaikan suku bunga acuan. Ada bank yang dana murahnya berupa tabungan cukup banyak sehingga bisa menekan kenaikan suku bunga pinjamannya. Namun, ada bank yang sangat bergantung pada dana mahal berupa deposito sehingga mau tak mau suku bunga pinjaman melonjak cukup tinggi.

Masyarakat yang berhadapan dengan kenaikan suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman bisa memilih: mencari pinjaman atau malah menunda pinjaman dan menempatkan dananya pada simpanan di bank. Namun, masyarakat yang sudah telanjur memiliki pinjaman tak punya pilihan. Bank tetap harus memperhitungkan kondisi debitor agar pinjaman tak menjadi kredit macet. Kenaikan suku bunga pinjaman yang terlalu besar bisa meningkatkan potensi kredit bermasalah.

Data BI dalam kurun Juni-Oktober 2013, bank sudah menaikkan suku bunga pinjaman. Suku bunga kredit modal kerja yang rata-rata 11,41 persen pada Juni 2013 naik menjadi 11,93 persen pada Oktober 2013. Suku bunga kredit investasi yang rata-rata 11,14 persen pada Juni 2013 naik menjadi 11,65 persen pada Oktober 2013. Per Oktober 2013, kredit yang diberikan bank kepada pihak ketiga mencapai Rp 3.159 triliun. Dana pihak ketiga yang dihimpun Rp 3.520 triliun.

Hal lain yang harus diperhitungkan bank adalah kondisi perekonomian Indonesia dan dunia. Kondisi ini berimbas ke sejumlah sektor. Misalnya, permintaan komoditas dunia yang turun, yang kemudian berdampak pada turunnya harga. Padahal, komoditas pernah sangat menarik. Bukan hanya bagi pelaku pasar, melainkan juga bagi bank yang memberikan kredit investasi dan modal kerja di bidang ini.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2014 sebesar 3,5 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,8-6,2 persen. Kredit perbankan oleh BI diperkirakan tumbuh 15-17 persen pada tahun 2014. Dengan asumsi tersebut, bank bisa menghitung target pertumbuhan kreditnya.

Isu penting: suku bunga

Hal yang tak kalah penting: nilai tukar rupiah, yang akhir-akhir ini kian lemah. Banyak bank dengan yakin menyatakan eksposur terhadap dollar AS sangat terbatas sehingga pelemahan rupiah tak berdampak signifikan. Namun, bank tetap harus berhitung agar likuiditas valasnya terjaga. Dengan masih besarnya ketergantungan bank terhadap suku bunga, yang tecermin melalui besarnya pendapatan berbasis bunga, suku bunga akan jadi isu penting bagi bank pada 2014. Bank harus memperhitungkan kemungkinan turunnya pertumbuhan kredit.

Tanpa inovasi dan investasi dalam teknologi informasi, pertumbuhan laba bank akan anjlok cukup dalam. Sebaliknya, bank yang kreatif memberikan layanan bagi nasabah akan menangguk pendapatan berbasis biaya. Pendapatan berbasis biaya ini bisa menggantikan pendapatan berbasis bunga yang diperkirakan merosot tahun depan. Khusus untuk bank BUMN, situasi tahun 2014 diperkirakan cukup dilematis. Dengan pendapatan pajak yang tak kunjung memenuhi target, ditambah pendapatan sektor lain yang merosot, pendapatan dari sektor perbankan diharapkan menjadi tumpuan pendapatan negara. 

Alangkah berat jika di tengah kondisi likuiditas yang ketat dan pertumbuhan laba yang turun, bank BUMN tetap dituntut membagi dividen dalam persentase cukup besar. Padahal, bank BUMN tetap harus memiliki dana yang cukup untuk berkembang.

Tahun 2014 adalah tahun politik. Bagi bank inilah tahun strategis karena berhadapan dengan beratnya kondisi perekonomian, kemungkinan kenaikan suku bunga acuan, dan harus membiasakan diri berinteraksi dengan pengawas baru: Otoritas Jasa Keuangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar