Senin, 15 April 2013

Laut, Jalur Empuk Masuknya Narkoba


Laut, Jalur Empuk Masuknya Narkoba
Andi Baso Tancung  Pemerhati Masalah Narkoba di Makasar
KORAN SINDO, 15 April 2013

  
Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena luas wilayah lautnya yang besar, yaitu mencapai 5,8 juta km dari total luas wilayah Indonesia. Di samping itu, jumlah pulaunya mencapai 17.508 dan panjang garis pantai sekitar 81.000 km, membuat Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. 

Bahkan, Indonesia memiliki pulau-pulau kecil yang berada di posisi terdepan dengan jumlah 92 pulau dan 67 pulau di antaranya berbatasan langsung dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Australia, India, Timor Leste, Filipina, dan Papua Nugini. Karena itu, tidak salah jika pemerintah mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam yang ada, karena sebagai negara kepulauan berarti kekuatan ekonomi berada pada wilayah pesisir dan laut. 

Laut dan pulau ini wajib diperhatikan atau diberi perhatian khusus, sebab masa depan ekonomi maritim cukup menjanjikan bila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Wajar jika Indonesia yang dikenal dengan negara maritim ini memiliki potensi dalam berbagai hal dan banyak pihak merasa berkepentingan terutama bagi “tamu” tak diundang yang sering menyatroni sumber daya alam laut, seperti ikan. 

Meski ada penjagaan yang ketat, namun karena berbagai pendukung masih kurang, wajar saja jika pencuri ikan ini tetap ada. Keberadaan pulau-pulau terluar itu juga merupakan tempat persinggahan yang nyaman bagi kapal asing yang menyusup ke perairan Indonesia, sehingga laut sangat perlu ditingkatkan penjagaannya. 

Lantaran salah sedikit, mereka selalu mengincar berbagai keuntungan di dalamnya seakan tidak pernah berhenti melakukan berbagai hal, mulai dari pencurian ikan hingga melakukan berbagai transaksi penjualan di tengah laut. Bukan hanya itu, pulau dan laut juga berpotensi menjadi lahan subur transaksi barang haram seperti narkoba. Saat ini wajar jika jalur-jalur seperti bandara dan pelabuhan laut diperketat penjagaannya. 

Namun demikian, ketatnya penjagaan ini bagi pengedar atau bandar narkoba bukan suatu halangan. Mereka tetap memanfaatkan situasi atau kesempatan agar barangnya dapat tersalurkan kepada pemesan. Salah satu contoh adalah jalur laut yang dianggap aman dan berpotensi untuk memperlancar pasokan narkoba ke Indonesia. Para penjahat ini banyak akal sehingga transaksi narkoba bisa dilakukan di tengah laut seperti halnya dengan penjualan ikan yang dilakukan kapal asing. 

Peredaran narkoba saat ini semakin dipersempit ruang lingkupnya oleh petugas, namun mereka tidak pernah menyerah dan berbagai cara dilakukan. Bahkan, muncul kesan, semakin ketat penjagaan semakin banyak pula beredar narkoba di Indonesia, termasuk di Sulsel. Apalagi tak jarang oknum pejabat ikut terlibat di dalamnya. Akhirnya Sulsel menjadi daerah yang berpotensi menjadi lahan subur bagi bandar narkoba. 

Sebagai contoh, salah oknum polisi berpangkat AKP ditangkap di Sidrap karena diduga terlibat peredaran narkoba. Padahal, polisi sebagai pengayom masyarakat tidak seharusnya melakukan itu. Pengguna narkoba di Sulsel terbilang tinggi. Data terakhir sesuai hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, pengguna narkoba di daerah ini mencapai ratusan ribu jiwa. 

Berdasarkan angka tersebut pertumbuhan jumlah pengguna narkoba di Sulsel sangat signifikan. Pada 2008 misalnya, pengguna narkoba hanya 103.849. Artinya, dalam empat tahun terakhir terjadi lonjakan pengguna hingga 21.881 orang. Di mana pada 2008 sebanyak 103.849 menjadi 121.773. Lalu mencapai 125.730 pada 2011. Pada 2012 pengguna mencapai 131.200. 

Tidak salah jika Sulsel disebut sebagai surga atau tempat yang cukup aman dan nyaman bagi pengguna dan peredaran narkoba. Apabila permasalahan narkoba ini tidak ditangani secara serius, kerugian bukan hanya pada terancamnya generasi, melainkan juga kerugian ekonomi. Ditaksir di Indonesia pada 2013, kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sebesar Rp 57 triliun dengan jumlah penyalahgunaan sebanyak 3.826.974 orang. 

Sebanyak 136.671 orang penyalahgunaan ini berada di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian 2012, prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sulsel pada 2011 sebanyak 1,9 % atau setara dengan 115.056 orang. Total kerugian ekonomi yang ditimbulkan sebesar Rp 1.9 triliun. Adapun tersangka yang berhasil ditangkap dan diajukan ke proses peradilan oleh Polda Sulsel dan jajarannya pada 2011 sebanyak 926 orang. 

Jumlah pecandu dari Sulsel yang telah mengikuti program rehabilitasi sebanyak 117 orang. Dengan fakta jumlah pengguna dan kerugian yang terus meningkat, maka peredaran narkoba di daerah ini sudah masuk taraf sangat mengkhawatirkan, terutama bagi generasi muda. Tantangan menjadi semakin berat lantaran banyak orang yang tinggi kedudukannya, tapi terlibat menjadi bandar atau pengedar, dan berdiri di belakang mereka yang mengedarkan narkoba. 

Ini pula yang membuat petugas yang berpangkat rendah tidak mampu meringkus bandar besarnya. Meski diakui bahwa beberapa bandar besar sudah diamankan, tapi masih banyak yang berkeliaran. Untuk itu, pengawasan narkoba perlu ditingkatkan, terutama pintu masuk lewat jalur laut yang memang menjadi jalur aman bagi pengedar. Apalagi keberadaan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga sebagai pulaupulau kecil perbatasan menjadi celah masuknya narkoba ke Indonesia. 

Kita tahu Malaysia merupakan negara tetangga yang cukup besar andilnya dalam perdagangan narkoba di Tanah Air. Bahkan pulau yang tak berpenghuni juga perlu diwaspadai lantaran bisa saja kapal-kapal asing mengangkut narkoba mampir dulu di pulau tersebut sambil melihat situasi yang aman sebelum melanjutkan perjalanannya. 

Ini menuntut perhatian aparat untuk diperangi. Jangan sampai kita hanya terfokus pada pengedar yang ada di daratan, sementara di laut kita abaikan. Padahal laut ini jauh lebih besar dibanding peredaran melalui daratan. 

Kita semua berharap agar peredaran narkoba di Sulsel dapat diredam atau diminimalisasikan agar generasi muda tidak terjerumus dalam kenikmatan semu yang berdampak pada penderitaan sepanjang masa. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar