Senin, 15 April 2013

Biografi, Center & Institute


Biografi, Center & Institute
M Sobary  Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 15 April 2013

  
Tiap zaman memiliki ciri khusus dan logika sendiri. Zaman Orde Baru dulu hidup dipenuhi hegemoni negara terhadap masyarakat. 

Kaum muda bisa disebut salah satu contoh yang hidup dalam kungkungan penguasa. Jalan pikiran dan kesadaran kritis ditentukan. Kebebasan dibatasi. Corak ideologi yang harus dianut kaum muda disediakan. Dipilihkan atau dibuatkan. Banyak kaum muda yang mencoba bertahan pada pendirian dan sikap politiknya serta melawan hegemoni negara itu dengan segenap idealismenya, tapi pelan-pelan, satu per satu, mereka kemudian takluk. Idealisme mereka mati muda. 

Sikap militan yang memiliki ciri resistance terhadap hegemoni penguasa, untuk hidup secara otonom dan mandiri, tidak ada. Dalam iklim politik yang represif itu militansi tidak tumbuh dan tak akan pernah tumbuh, apalagi berkembang. Selebihnya, kaum muda yang enggan berpikir dan enggan mengembangkan ideologi alternatif, ibaratnya cukup asal pandai “menganga” lebar-lebar, siap menelan tanpa mengunyah apa yang dikatakan para penggede negara, yang hakikatnya membunuh kesadaran politik-ideologi kaum muda. Di zaman itu orang kaya baru bermunculan. 

Kemudian merajalela pula nama-nama yayasan. Sebagian untuk menunjukkan darma bakti kepada masyarakat sebagai bentuk kerja sosial yang tak mengharapkan imbalan apa pun. Sebagian lainnya tempat menggelapkan pajakpajak yang seharusnya mereka bayarkan. Kerja sosial dan darma baktinya kepada masyarakat secuil kecil. Penggelapan pajaknya, masya Allah, betapa besarnya. Tapi pada masa itu orang maklum. Penggelapan itu dimaklumi. L ama-lama diikuti dan diteladani. Hampir semua orang berduit dan menjabat atau mengelola dunia bisnis raksasa ikut main gelapgelapan itu. Maka, apa yang sebelumnya haram kini seolah halal belaka. 

Center dan Institute 

Zaman berubah. Goro-goro yang mengguncang dunia pada 1998 menandai perubahan itu. Bumi panas. Air laut panas dan berbisa. Hati manusia juga panas. Kles, konflik, kerusuhan, kekacauan, saling mengancam, saling melukai, saling membunuh terjadi di manamana. Sesudah goro-goro reda, orang, para tokoh, para pemimpin muncul satu per satu ke permukaan. Ada tokoh busuk dan politisi busuk. Ada tokoh bermasalah dan seharusnya sulit mendapatkan kembali trust di tengah publik sendiri, tapi mereka gigih untuk tampil kembali. 

Ada tokoh baik dengan latar belakang baik dan tidak memiliki watak serakah. Tidak ada tanda ambisius terhadap jabatan. Tidak ada tanda keserakahan terhadap kekayaan duniawi. Orang dengan segenap masalah dan kegelapan hidupnya, yang ingin tetap tampil di masyarakat, dan orang-orang baik semua seperti berebut untuk tampak lebih mentereng. Harus dicatat lebih dulu bahwa sebagian besar karena kelebihan duit—daripada duit karatan di brankas—, orang pun segera mendirikan center, center, center. 

Pendeknya center ini centeritu bermunculan. Juga institute, institute, institutetampak menjamur di masyarakat. Ketika pencalonan ini pencalonan itu pun muncul—dan orang berbicara mengenai perlunya tokoh penting—, maka para pemilik yayasan dan institute itu pelan-pelan terangsang untuk bangkit lagi di panggung politik sambil menoleh kiri-kanan dengan rasa malu-malu. Kemudian tampil betulan untuk memperpanjang masa jabatannya yang dulu hanya pendek. Atau memperpanjang masa kekuasaannya yang dulu sudah panjang agar menjadi lebih panjang lagi. 

Satu per satu mereka rontok. Satu per satu mereka berguguran. Rakyat seolah tak mengingatnya lagi. Bagi yang masih ingat, mereka menganggap para tokoh itu tak relevan lagi. Buat apa tokoh yang dulu mempersulit kehidupan rakyat, dipilih lagi? Buat apa orang yang sombong harus dijadikan pemimpin lagi? 

Kemudian Muncul Pula Biografi 

Fenomena lain yang menarik di masyarakat kita tampak mencolok di toko-toko buku. Di sana kita jumpai para tokoh— atau mereka yang merasa dirinya tokoh—memiliki biografi. Hampir semua biografi itu ditulis orang lain. Tentu saja atas pesanan yang bersangkutan. Barang apa yang bisa berjalan dengan dua kaki, di Jakarta ini, boleh dikata memiliki biografi. Ada dua pesan yang dipanggul biografi-biografi tersebut. 

Pertama, untuk mengingatkan publik bahwa dia sudah berbuat banyak bagi negeri kita. Bisa juga sekadar pamer dengan sikap naif bahwa apa yang dikerjakannya hampir tak relevan dengan jabatannya. Kedua, untuk “menjual” diri, menjadi “iklan”, agar namanya dikenang orang sebagai modal untuk pencalonan apa saja yang layak diikuti di masa depan. Center, institute, dan biografi itu boleh saja dibuat karena ini zaman kebebasan. 

Tidak ada orang yang melarang. Tidak ada yang bakal membredelnya. Tapi kita harus tahu, apakah center kita, institute kita, dan biografi kita itu menyumbangkan sesuatu yang penting dan memberi pencerahan bagi publik. Adakah kekuatan penting yang dipancarkan dari sana untuk mengajak orang banyak berpikir mendalam mengenai makna kebebasan? Tampakkah di dalam center, institute, dan biografi kita sesuatu yang patut dicatat sebagai tanda kematangan kita berpolitik dan berkebudayaan? 

Selebihnya, adakah suatu cultural legacy di dalam jejak-jejak kita, di center, di institute atau di biografi yang kelak kita tinggalkan dan akan menjadi milik publik? Kalau tidak, semua itu hanya cerminan ambisi kita untuk memuaskan diri kita sendiri. Itu semua, mungkin, hanya sampah-sampah kebudayaan yang tak cukup berharga dilirik. Center, institute, dan biografi kita hanya akan membuat orang kecewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar