Beberapa
hari ini Bloomberg memberitakan, sebuah operator MRT di Thailand berhasil
melakukan IPO terbesar di dunia, Rp 19 triliun. Padahal, perusahaan itu
baru berdiri pasca-krismon: 1999. Bandingkan dengan kereta api Indonesia
yang pembangunan relnya sudah ada sejak 1864. PT KAI sendiri sudah ada
sejak tahun kemerdekaan, dan tahun ini berusia 68 tahun.
Berita-berita mengenai kereta api selalu menarik perhatian,
meski kereta bukan lagi menjadi pilihan utama transportasi publik.
Tetapi, perhatikanlah, sebuah titik balik tengah terjadi. Kelak
masyarakat akan beralih dari mobil, bahkan pesawat terbang, ke kereta
api. Tetapi, ada syaratnya: hentikan kebisingan dan biarkan PT KAI
meremajakan diri.
Jakarta-Surabaya
Untuk bepergian ke Surabaya menggunakan kereta api Gaya
Baru Malam saja, saat ini masih membutuhkan 14 jam lebih. Bandingkan
dengan pesawat terbang yang paling lama 1 jam 15 menit. Tetapi, sebelum
beberapa jalur ganda dibangun, jarak tempuhnya lebih lama lagi: 17,5 jam!
Itu sebabnya, saat
low cost carrier merebak di Indonesia, penumpang
beralih ke pesawat terbang.
Demikian juga jalur Jakarta-Bandung, yang dulu terkenal
dengan kereta api Parahyangan (Sekarang Argo Parahyangan) ditempuh 2,5-3
jam. Saat jalan tol Jakarta-Cipularang-Bandung dibuka, masyarakat bisa
menempuh jarak dalam tempo dua jam dengan mobil. Tetapi itu dulu.
Sekarang jarak tempuhnya sudah "kembali normal", seperti jalan
biasa lewat puncak: 4 jam. Apalagi bila Jumat atau tanggal muda dan hari
hujan. Di dalam kota macet, menuju perbatasan macet, dan masuk Bandung
juga macet.
Kereta api yang "bebas hambatan" sebenarnya
bisa menjadi solusi. Wamen Perhubungan Bambang Susantono menyebutkan,
Indonesia akan punya kereta api cepat Jakarta-Surabaya yang bisa ditempuh
hanya dalam 3 jam. Kalau ini terjadi, saya tentu lebih senang naik kereta
api daripada pesawat. Bayangkan, dari kantor menuju Bandara Cengkareng
butuh sekitar 2 jam,
check in 1 jam sebelum keberangkatan, dan
pesawat sering terlambat
take-off sekitar 30
menit-1 jam. Total saya perlu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Surabaya
dengan biaya berkali-kali lipat tarif kereta api.
Saya jadi teringat perjalanan sahabat saya di Taiwan
yang setiap tiga hari sekali harus berobat ke sebuah rumah sakit. Dia
tinggal di Taipei dan rumah sakit terletak sekitar 800 km dari Taipei.
Persis seperti Jakarta-Surabaya. Dia bisa menempuh jarak itu hanya 1,5-2
jam. Keretanya nyaman, tak ada guncangan, aman, bersih, dan indah. Tak
ada pedagang asongan atau preman.
Lantas mengapa kereta api kita dibiarkan merana? Tentu
saja ada banyak masalah yang selama bertahun-tahun kita abaikan. Untuk
memiliki kereta api cepat Indonesia perlu mengubah cara pandangnya. Ya, kita
perlu investasi-investasi besar yang baru, persis saat Soeharto menanam
investasi-investasi besar di Sumatera. Kita tidak bisa hidup dalam
cara-cara lama dengan tarif supermurah yang tidak nyaman. Dengan kondisi
lama, Kemenhub mengumumkan ada 5.200 perlintasan kereta api, dengan 618
di antaranya perlintasan liar. Tetapi, survei PT KAI sendiri menemukan
ada lebih dari 10.000 perlintasan liar. Ini tentu sangat menghambat.
Sebagian besar lintasan liar itu bukan sekadar menjebol
pagar, melainkan sengaja diuruk sisi tengah relnya dengan tanah, pasir,
dan krikil. Tentu saja ada yang memungut uang sewanya. Akibatnya, gerakan
kereta menjadi lamban dan kereta harus membunyikan klakson. Karena jarak
dengan permukiman liar dan penduduk sangat rapat, suara klakson itu
dianggap mengganggu, sehingga disambut dengan batu oleh pemukim. Bukan
hal yang aneh kala kaca-kaca kereta api sering retak dan pecah. Harap
maklum, setiap hari PT KAI harus mengganti sekitar lima kaca yang
harganya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta. Semua sangat mengganggu
kecepatan kereta api dan kenyamanan penumpang.
Tampaknya kita memang masih jauh dari Thailand yang
lebih dulu membangun MRT. Bahkan, sangat jauh dengan kereta-kereta
supercepat. Kalau dulu Shinkansen saja sudah kita anggap tercepat dengan
440 km per jam, kini China Railway sudah mengantarkan penumpang dengan
kecepatan 480 km per jam. Kita masih bergerak seperdelapan dari batas
kecepatan maksimum yang sudah bisa dicapai kereta api tercepat. Artinya,
kalau masyarakatnya seperti ini, kita masih perlu 40 tahun dari sekarang
dan akan tertinggal terus.
Bukan
hanya itu. Sekarang gangguan juga datang dari sejumlah pengamat dan
orang-orang pandai yang mencari perhatian di media massa. Saat pelayanan
diperbaiki, otomatis habit harus diubah. Tetapi, ini tidak
mudah. Artinya, kalau menuntut perubahan, mbok ya kita juga berubah
beramai-ramai. Jangan cuma omong saja mau berubah. Mana ada sih perubahan tanpa ada yang mau
berkorban? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar