Selasa, 09 April 2013

Ekonomi Kereta Api


Ekonomi Kereta Api
Rhenald Kasali ;  Ketua Program MM UI
JAWA POS, 09 April 2013
  

Beberapa hari ini Bloomberg memberitakan, sebuah operator MRT di Thailand berhasil melakukan IPO terbesar di dunia, Rp 19 triliun. Padahal, perusahaan itu baru berdiri pasca-krismon: 1999. Bandingkan dengan kereta api Indonesia yang pembangunan relnya sudah ada sejak 1864. PT KAI sendiri sudah ada sejak tahun kemerdekaan, dan tahun ini berusia 68 tahun.

Berita-berita mengenai kereta api selalu menarik perhatian, meski kereta bukan lagi menjadi pilihan utama transportasi publik. Tetapi, perhatikanlah, sebuah titik balik tengah terjadi. Kelak masyarakat akan beralih dari mobil, bahkan pesawat terbang, ke kereta api. Tetapi, ada syaratnya: hentikan kebisingan dan biarkan PT KAI meremajakan diri.

Jakarta-Surabaya 

Untuk bepergian ke Surabaya menggunakan kereta api Gaya Baru Malam saja, saat ini masih membutuhkan 14 jam lebih. Bandingkan dengan pesawat terbang yang paling lama 1 jam 15 menit. Tetapi, sebelum beberapa jalur ganda dibangun, jarak tempuhnya lebih lama lagi: 17,5 jam! Itu sebabnya, saat low cost carrier merebak di Indonesia, penumpang beralih ke pesawat terbang.

Demikian juga jalur Jakarta-Bandung, yang dulu terkenal dengan kereta api Parahyangan (Sekarang Argo Parahyangan) ditempuh 2,5-3 jam. Saat jalan tol Jakarta-Cipularang-Bandung dibuka, masyarakat bisa menempuh jarak dalam tempo dua jam dengan mobil. Tetapi itu dulu. Sekarang jarak tempuhnya sudah "kembali normal", seperti jalan biasa lewat puncak: 4 jam. Apalagi bila Jumat atau tanggal muda dan hari hujan. Di dalam kota macet, menuju perbatasan macet, dan masuk Bandung juga macet.

Kereta api yang "bebas hambatan" sebenarnya bisa menjadi solusi. Wamen Perhubungan Bambang Susantono menyebutkan, Indonesia akan punya kereta api cepat Jakarta-Surabaya yang bisa ditempuh hanya dalam 3 jam. Kalau ini terjadi, saya tentu lebih senang naik kereta api daripada pesawat. Bayangkan, dari kantor menuju Bandara Cengkareng butuh sekitar 2 jam, check in 1 jam sebelum keberangkatan, dan pesawat sering terlambat take-off sekitar 30 menit-1 jam. Total saya perlu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Surabaya dengan biaya berkali-kali lipat tarif kereta api.

Saya jadi teringat perjalanan sahabat saya di Taiwan yang setiap tiga hari sekali harus berobat ke sebuah rumah sakit. Dia tinggal di Taipei dan rumah sakit terletak sekitar 800 km dari Taipei. Persis seperti Jakarta-Surabaya. Dia bisa menempuh jarak itu hanya 1,5-2 jam. Keretanya nyaman, tak ada guncangan, aman, bersih, dan indah. Tak ada pedagang asongan atau preman.

Lantas mengapa kereta api kita dibiarkan merana? Tentu saja ada banyak masalah yang selama bertahun-tahun kita abaikan. Untuk memiliki kereta api cepat Indonesia perlu mengubah cara pandangnya. Ya, kita perlu investasi-investasi besar yang baru, persis saat Soeharto menanam investasi-investasi besar di Sumatera. Kita tidak bisa hidup dalam cara-cara lama dengan tarif supermurah yang tidak nyaman. Dengan kondisi lama, Kemenhub mengumumkan ada 5.200 perlintasan kereta api, dengan 618 di antaranya perlintasan liar. Tetapi, survei PT KAI sendiri menemukan ada lebih dari 10.000 perlintasan liar. Ini tentu sangat menghambat.

Sebagian besar lintasan liar itu bukan sekadar menjebol pagar, melainkan sengaja diuruk sisi tengah relnya dengan tanah, pasir, dan krikil. Tentu saja ada yang memungut uang sewanya. Akibatnya, gerakan kereta menjadi lamban dan kereta harus membunyikan klakson. Karena jarak dengan permukiman liar dan penduduk sangat rapat, suara klakson itu dianggap mengganggu, sehingga disambut dengan batu oleh pemukim. Bukan hal yang aneh kala kaca-kaca kereta api sering retak dan pecah. Harap maklum, setiap hari PT KAI harus mengganti sekitar lima kaca yang harganya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta. Semua sangat mengganggu kecepatan kereta api dan kenyamanan penumpang.

Tampaknya kita memang masih jauh dari Thailand yang lebih dulu membangun MRT. Bahkan, sangat jauh dengan kereta-kereta supercepat. Kalau dulu Shinkansen saja sudah kita anggap tercepat dengan 440 km per jam, kini China Railway sudah mengantarkan penumpang dengan kecepatan 480 km per jam. Kita masih bergerak seperdelapan dari batas kecepatan maksimum yang sudah bisa dicapai kereta api tercepat. Artinya, kalau masyarakatnya seperti ini, kita masih perlu 40 tahun dari sekarang dan akan tertinggal terus.

Bukan hanya itu. Sekarang gangguan juga datang dari sejumlah pengamat dan orang-orang pandai yang mencari perhatian di media massa. Saat pelayanan diperbaiki, otomatis habit harus diubah. Tetapi, ini tidak mudah. Artinya, kalau menuntut perubahan, mbok ya kita juga berubah beramai-ramai. Jangan cuma omong saja mau berubah. Mana ada sih perubahan tanpa ada yang mau berkorban?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar