Kamis, 18 April 2013

Demokrasi Subsidi BBM


Demokrasi Subsidi BBM
Effnu Subiyanto   Pendiri Forkep, Mahasiswa Doktor Ilmu Ekonomi FEB Unair
SUARA KARYA, 17 April 2013


Perbincangan soal subsidi dan opsi kenaikan BBM kembali menghangat akhir-akhir ini menyusul tren harga minyak dunia yang terus meningkat. Memanasnya tensi politik regional di kawasan semenanjung Korea karena perseteruan Korut dan Korsel membuat harga minyak mentah kini pada kisaran 93,45 dolar AS per barel di pasar New York Mercantile dan naik rata-rata 0,2 persen per hari. Perang Korea belum pecah, namun bullwhip efeknya sudah membuat harga minyak mentah dunia menjadi liar.

Pemerintah kembali panik dan dejavu demokrasi BBM pun dilontarkan ke ranah publik. Konsideran pemerintah apakah memberikan subsidi ke sektor transportasi massal dengan menaikkan harga BBM, atau membiarkan kondisi tetap seperti sekarang. Jika mempertahankan status quo maka ongkosnya paling tidak adalah Rp 274,78 triliun pada tahun ini agar harga BBM tetap Rp 4.500 per liter padahal harga keekonomiannya sudah mencapai Rp 9.600 per liter.

Sebetulnya gonjang-ganjing rencana mengurangi subsidi dan pada akhirnya akan menaikkan harga eceran BBM adalah aplikasi dari teori telur dan ayam pemerintah. Siapa duluan sudah tidak dapat dibedakan, rakyat duluan yang berkorban atau pemerintah dulu. Namun, jika melihat gaya menjalankan pemerintahan yang penuh dengan keglamouran seperti mobil dinas mewah, mampu membeli pesawat terbang, gaji tinggi dan naik terus, fasilitas besar, jalan-jalan ke luar negeri maka terlihat betapa kontrasnya dengan kehidupan rakyat. Hak dan kewajiban antara rakyat dan pemerintah tidak dalam posisi berimbang.

Kewajiban pemerintah di sisi lain untuk mengurusi rakyatnya yang terbengkelai di semua sektor, baik sektor politik, sosial, ekonomi, hukum, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, maupun infrastruktur dan lain-lain. Masih nyaring sebagian rakyat berteriak karena haknya mendapatkan pelayanan publik sulit didapatkan. Jika pun bisa didapatkan dengan effort yang tidak biasa seperti memberikan kompensasi tertentu.

Dalam hal ini jika dari sisi pemerintah juga balik berteriak karena beralibi bahwa dana pelayanan publik itu tersedot untuk subsidi, maka fenomena inilah yang disebut dengan politik telur dan ayam. Pemerintah enggan bersakit-sakit dulu dan hendak mengalihkan beban itu ke rakyat, jadi rakyat yang 'dipaksa' atau dikorbankan agar leisure pemerintah selama ini tidak berkurang.

Dalam politik kuota BBM bersubsidi ini, satu sektor yang memiliki korelasi langsung dengan meningkatnya pemakaian BBM adalah buruknya kuantitas dan kualitas transportasi publik. Buruk infrastruktur jalan seperti rusak, berlubang dan juga panjang tidak memadai. Pembuatan jalan-jalan baru praktis berhenti karena persoalan pembebasan tanah yang belum ditemukan solusinya.

Janji pemerintah sejak tahun anggaran 2011 yang di atas awang-awang itu seperti membuat jalan kereta api baru sepanjang 150 km, rehabilitasi 116 bandara dan membuat 14 bandara baru, tidak satu pun berhasil diwujudkan sampai 2012 akan berakhir. Janji pembangunan jalan baru, penambahan panjang 4.005 km dan pembuatan jembatan baru panjang 7.682 meter juga nol besar.

Di lain pihak, pemakaian BBM tahun 2011 menjadi kian boros, pagu subsidi tembus secara nilai 102,8% disebabkan volumenya melonjak menjadi 41,69 juta kiloliter. Pada tahun 2012 kuota BBM sudah dinaikkan menjadi 44,04 juta kiloliter dari pagu BBM 40 juta kiloliter. Pada tahun ini kuota ditingkatkan kembali menjadi 46 juta kiloliter dan naga-naganya harus dihitung ulang. Statistik pengguna BBM itu ternyata dikonsumsi 55% oleh mobil pribadi, 40% dipakai motor, hanya 3% dari transportasi umum dan 4% digunakan bus-bus umum.

Pemerintah harus memahami mengapa mobil pribadi begitu banyak di jalanan sehingga membuat macet luar biasa dan menyedot BBM demikian banyak. Negara ini sebetulnya tidak memiliki populasi rakyat yang mayoritas kaya, mereka menggunakan mobil pribadi karena keterpaksaan. Tidak ada pilihan akibat transportasi umum tidak nyaman, tidak aman dengan seringnya kecelakaan lalu lintas malah di beberapa daerah sama sekali tidak ada, dan yang terakhir ironisnya juga mahal.

Tidak nyamannya transportasi publik itu akibat kemacetan tiada berujung sampai sekarang ini. Pada momentum long week-end, beberapa waktu lalu pun diwarnai dengan kemacetan luar biasa pada hampir seluruh ruas jalan di Indonesia. Jakarta macet parah, jalanan Bandung tidak bergerak, jalur Puncak praktis berhenti, arah menuju Malang Jawa Timur juga merambat panjang puluhan kilometer. Panas mesin mobil akhirnya merambat ke dalam kabin mobil, membuat penumpang gelisah, sopir ikut resah, hilang kesabaran dan akhirnya memicu kecelakaan.

Respon pemerintah atas kondisi sosial yang carut marut inilah yang amat ditunggu-tunggu rakyat, apakah konkrit yang dikerjakan pemerintah dalam bidang pembenahan transportasi publik ini. Para pejabat dan wakil rakyat sering berkunjung ke luar negeri, sama-sama menyaksikan bagaimana negara itu memiliki transportasi publik yang nyaman, aman dan murah. Negara lain bisa mengapa negara ini tidak bisa?

Politik ini mirip dengan pola telur dan ayam, solusinya pemerintah harus mampu membuktikan diri bahwa sudah ada pembenahan di sektor transportasi publik. Pangkas sebagian anggaran yang tidak perlu di kementerian dan lembaga, ini ditandai dengan dana idle karena tidak terserap. Langkah berikutnya kurangi leisure, perlu moratorium kenaikan gaji, berantas korupsi dan segera konkritkan sistem transportasi publik yang benar-benar proven nyaman di kota model yang dipilih.

Jika fasilitas transportasi publik ini sudah ada, silahkan naikkan setinggi-tingginya harga BBM. Itulah saat yang tepat membicarakan kembali harga BBM ketika rakyat sudah tidak membutuhkannya lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar