Senin, 05 Juni 2017

Saatnya Kita Pulang ke Pelukan Pancasila

Saatnya Kita Pulang ke Pelukan Pancasila
Fitraya Ramadhanny  ;   Redaktur Pelaksana detikTravel
                                                     DETIKNEWS, 02 Juni 2017



                                                           
"Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila" - Tulisan prasasti di Taman Renungan Bung Karno di Ende.

Pancasila adalah sebuah ideologi unik, yang mungkin cuma ada di Indonesia. Dia dipuji, dicerca, kehilangan makna dan kini dicari-cari kembali. Kita memperlakukannya seenak jidat. Padahal, mungkin ini adalah sintesa terbaik yang pernah ada.

Tidak pernah ada jawaban tunggal terhadap pertanyaan soal ideologi terbaik untuk sebuah bangsa. Ideologi politik berkembang mengikuti sejarah peradaban dari zaman Yunani, Islam, Renaissance, Perang Dingin sampai post modernisme.

Ia ditarik ke ujung kanan dan ke ujung kiri menjadi spektrum politik yang kita kenal sekarang dan macam-macam jadinya. Padahal, semua ideologi itu untuk menjawab beberapa pertanyaan sederhana saja: apa itu penegakan hukum, kebebasan, keadilan, kesejahteraan sosial, kepemilikan, perwakilan dan posisi Tuhan.

Ideologi dianggap benar ketika dia bisa menjawab kebutuhan pada zamannya. Zaman berubah, berubah pula pilihan ideologinya. Lalu, Pancasila ada di mana?

Pemuda Soekarno yang sedang diasingkan di Ende, NTT tahun 1933-1938, merenung dan melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Kenapa tidak menggabungkan semua ideologi dunia dan mengerucutkannya kepada 5 hal yang paling penting saja?

Ideologi oplosan? Tidak juga. Soekarno lebih tepatnya melakukan sintesa. Lompat ke tahun 1945, Soekarno dihadapkan dengan situasi deadlock dalam rapat BPUPKI di Gedung Volksraad alias Chuo Sangi In, Jalan Pejambon No 6, Jakarta Pusat. Gara-garanya adalah pembahasan dasar negara.

Giliran Soekarno yang angkat bicara. Tanpa naskah pidato, dia tumpahkan semua pemikirannya yang kemudian disebut Pancasila. Hadirin menerima dengan aklamasi. Kenapa? Karena semua merasakan betul kebenaran setiap kata yang keluar dari mulut Soekarno. Hari itu 1 Juni 1945 dan gedung itu sekarang disebut Gedung Pancasila di kompleks Kementerian Luar Negeri. Pancasila lalu diabadikan dalam paragraf terakhir Pembukaan UUD 1945.

Tujupuluh dua tahun kemudian, Pancasila seperti kehilangan makna. Ironis. Pemikir politik Argentina, Ernesto Laclau punya terminologi yang tepat untuk nasib Pancasila hari ini: Empty Signifier. Pancasila adalah penanda kosong. Dia pernah punya makna agung ketika negara ini didirikan, kemudian kita -sengaja atau tidak- melupakannya, atau mencoba memberi makna baru.

Kita iseng menjadikan Pancasila sebagai cap untuk menentukan siapa yang loyal kepada pemerintah berkuasa, dan anti Pancasila kepada para oposisi. Padahal Pancasila bukan alat hegemoni. Enak saja!

Kita juga iseng mempertentangkan Islam dengan Pancasila. Jangan coba-coba! Ulama-ulama seperti KH Agus Salim dan KH Wahid Hasyim ikut merajut Pancasila menjadi bahan baku konstitusi dan berbesar hati menyepakati Piagam Jakarta agar konstitusi ini bisa mengikat semua rakyat Indonesia.

Pernah menerima broadcast bahwa setiap sila dalam Pancasila ada ayat Al Quran-nya? Itu memang benar adanya. Pancasila mengambil semua nilai terbaik yang ada dari umat manusia, bukan terjebak dalam merek ideologi semata. Inilah universalisme manusia. Universalisme ini juga yang ditemukan dalam Islam, seperti dikupas tuntas oleh Muhammad Arkoun.

Kita juga iseng berselingkuh dengan ideologi-ideologi lain hanya karena menganggap Pancasila sudah usang. Padahal ideologi negara adalah soal kesepakatan, kawan!

Dalam perspektif Laclau, justru kita yang mengisi empty signifier ini dengan nilai-nilai yang jadi solusi hidup. Apa kita masih sepakat soal ketuhanan? Apa kita masih sepakat soal kemanusiaan? Apa kita masih sepakat dengan persatuan, musyrawarah dan keadilan sosial? Ini bukan memilih merek ideologi, bukan sekadar berani beda.

Segala akrobat politik dan ideologis faktanya cuma membuat kita pecah menjadi kotak-kotak dan sekat-sekat kecil hari ini. Semua sama-sama teriak bela Indonesia, namun yang kita bela sesungguhnya ego kita sendiri.

Mungkin kita semua perlu sama-sama traveling ke Ende di NTT. Kita tamasya ke Taman Renungan Bung Karno yang dipugar Wapres Boediono pada 2013. Di sana ada Patung Bung Karno yang duduk di ujung bangku beton panjang di bawah pohon sukun. Bangku beton panjang itu simbol ajakan untuk duduk bersama Soekarno.

Pandangan dia mengarah ke lautan. Ayo, lihat lagi Pancasila sejernih Soekarno melihat birunya laut di Pelabuhan Ende! Ayo, lihat lagi ke dalam hati kita! Pancasila itu simbol dari hati nurani kita sendiri. Dia adalah jawaban yang kita lupakan, padahal tinggal digali saja lagi. Pancasila adalah tangan yang terbuka lebar untuk memeluk semua pemikiran yang baik, tapi kita meninggalkan dia sendirian.

Kalau merasa bangsa ini tidak bergerak ke mana-mana, artinya tidak ada alasan untuk bilang Pancasila sudah kadaluwarsa. Cukup sudah bicara partai dan kelompok. Kapan mau bicara soal Indonesia? Kita berantem nggak jelas. Kapan mau sadar, apa yang kita ributkan hari ini, sudah tuntas dibahas 72 tahun lalu. Malu!