Sabtu, 03 Juni 2017

Pancasila Mengantar Indonesia Juara

Pancasila Mengantar Indonesia Juara
Ridwan Kamil  ;   Walikota Bandung
                                                     DETIKNEWS, 02 Juni 2017



                                                           
Indonesia lahir bukan dari keseragaman, tapi dari keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Karena kita beragam, maka opini pihak yang berbeda dengan kita harus kita tolerir dan akomodir. Pancasila menjadi sangat urgent dalam konteks menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus menjadi lem, perekat, bangsa Indonesia. Jadi kalau ada yang mau menggeser, mengecilkan atau menggantinya, itu titik awal kehancuran bangsa kita.

Dihapusnya program Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4) dan pelajaran PMP Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah membuat anak-anak kita kehilangan referensi kebangsaan. Akibatnya ideologi Pancasila tidak terlalu kokoh dalam bingkai mental anak-anak zaman sekarang.

Oleh karena itu, petisi saya kepada pemerintah pusat adalah hadirkan kembali pendidikan P4 dan PMP, apapun bentuknya. Membangun negeri ini bukan hanya urusan infrastruktur fisik, tapi juga urusan mental dan karakter anak bangsa.

Masuknya faham terorisme dan radikalisme ke Indonesia merupakan salah satu bukti generasi muda kita kehilangan referensi ideologi dan kebangsaan. Untuk menangkal faham terorisme, kita harus punya instrumen. Sebagai Walikota Bandung, saya menangkal faham itu dengan membuat instrumen. Contohnya saya membikin Rapor Warga, urgensinya untuk menyisir terorisme dan melawan apatisme warga.

Rapor Warga itu sederhana. Saya minta pengurus RT/RW memberi penilaian kepada warganya dalam aspek sosial. Misalnya, apakah si A rajin kerja bakti, suka bergaul atau tidak. Kalau tidak, ia patut diberi pengertian atau dicurigai. Karena belakangan ini, kita tahu, ada teroris yang menyusup, indekos, di rumah warga.

Namun ada sebagain warga yang menolak. Mereka bilang, "Ngapain warga dinilai, itu kan ruang pribadi. ''Itulah contoh tergerusnya nilai-nilai ke-Pancasila-an. Mereka lebih mengedepankan kepentingan individu, mengalahkan kepentingan dan cita-cita yang lebih besar.

Sejak pencanangan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni, di Bandung, tahun lalu saya menerjemahkan semangat Pancasila dalam pendidikan karakter, yakni Bandung Masagi.

Bandung Masagi terbagi empat, yakni bela negara, cinta agama, cinta budaya, dan jaga lingkungan. Bela negara kami maksudkan untuk menguatkan program-progam ke-Pancasila-an. Bandung Masagi diharapkan dapat menjadi jawaban atas kekosongan pendidikan ideologi.

Kita lihat hari ini, ada organisasi Islam yang hanya membela Islamnya saja. Tapi ada juga organisasi Islam yang membela Islam dan keindonesiaan. Kakek saya berdiri di situ, kiai sekaligus panglima perang. Sebagai kiai beliau membela keislamannya, sebagai Panglima Hisbullah, beliau membela keindonesiaan.

Dalam konteks ini, saya minta ke MUI kota Bandung menyuburkan semangat gotong royong, keindonesiaan. Dakwah dengan cara yang ramah. Kalau kita lihat sejarah, Sunan Kudus pernah mengeluarkan fatwa: masyarakat diimbau tidak memotong sapi pada Hari Raya Idul Adha. Untuk menghormati masyarakat Hindu, selama masih ada kambing atau domba potonglah kambing atau domba. Itu kan luar biasa, seorang pemimpin agama yang ber-tepa salira.

Bung Karno pernah berpesan agar rakyat Indonesia senantiasa bergotong royong demi memajukan bangsa. Nilai gotong royong terkandung dalam Pancasila. Konsep gotong royong maknanya bukan hanya kerja bakti, tapi ada unsur empati kemanusiaan, keadilan sosial, musyawarah, persatuan, kebersamaan, yang didasari oleh ketuhanan sebagai bangsa yang relijius.

Semangat gotong royong harus diterjemahkan dalam bentuk kegiatan. Saya bahagia menjadi Wali Kota Bandung, karena tingkat volunterism warganya paling tinggi di Indonesia. Contohnya, ketika peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun 2015. Waktu itu saya butuh 3000 orang relawan, yang mendaftar sebanyak 15.000 orang.

Lalu ada Gerakan Pungut Sampah, pada hari Senin Rabu dan Jumat. Ini gotong royong yang imbasnya Bandung mendapat penghargaan Adipura. Ada juga program Family for Family, keluarga mapan mengasuh keluarga tidak mampu. Zakat PNS dulu hanya terkumpul Rp 6 miliar setahun. Sekarang, dengan aplikasi "Ayo Bayar Zakat", naik menjadi Rp 30 miliar setahun. Perkembangan program Magrib Mengaji juga luar biasa. Awalnya program itu hanya diikuti 2.000 masjid, sekarang sudah 3.000 masjid. Bike to School marak, gara-gara si anak melihat walikotanya bersepeda.

Negeri ini bisa maju jika masalah di masyarakat diselesaikan oleh masyarakat sendiri. Itu baru civil society. Kepemimpinan yang baik adalah kepempinan dengan keteladanan. The best leadership is leadership by example. Saya nggak bisa jadi pemimpin yang tunjuk tangan, tetapi turun tangan, memberi contoh.

Saya optimistis, nilai gotong royong masih ada dalam kehidupan masyarakat kita. Di beberapa tempat, saat berbuka puasa di bulan Ramadan ini, mereka yang non muslim menyediakan takjil. Itu keindahan yang luar biasa. Di Bali, masjid-masjid hadir dengan baik. Saya punya desain masjid di Bali, izinnya juga cepat dan lancar.

Jadi, di tempat yang non muslimnya minoritas, ternyata nilai-nilai ke-Pancasila-an dipraktikkan dengan baik. Di Bandung pun saya perlakukan hal yang sama. Misalnya dalam perizinan rumah ibadah. Selama prosedurnya benar, tidak ada alasan untuk memperlambat keluarnya izin. Kalau ada protes, saya bentuk tim independen untuk mencari solusi bersama.

Untuk mempertahankan keutuhan bangsa dibutuhkan komitmen moril dan strategi yang luar biasa. Dulu, Bung Karno membangun fondasi Indonesia merdeka. Tugas kita hari ini adalah mengakselerasi, membuat Indonesia juara. Pada 2035, Indonesia diprediksi menduduki ranking tiga negara terhebat di dunia. Tapi harus memenuhi tiga syarat. Yakni, pertumbuhan ekonomi 5 persen terjaga, generasi mudanya kreatif, dan tidak ada krisis sosial politik dalam transisi of power.

Mari kita bersama mengakselerasi diri, berinovasi, dan bergotong royong untuk menghadiahi bangsa ini gelar bangsa juara. Selamat Hari Lahir Pancasila!