Jumat, 02 Juni 2017

Menjalani Ujian Kehidupan dengan Ketakwaan

Menjalani Ujian Kehidupan dengan Ketakwaan
Sam Edy Yuswanto  ;   Penulis Lepas di berbagai media massa; Ratusan tulisannya mulai cerpen, cerber, opini, dan resensi buku telah tersiar di sejumlah media massa seperti Koran Sindo, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Lampung, Radar Surabaya, dll
                                                      DETIKNEWS, 31 Mei 2017



                                                           
Pada hakikatnya, dunia menjadi tempat "ujian" bagi para penghuninya. Ya, setiap orang tentu akan dihadapkan dengan berbagai ujian kehidupan. Berbicara tentang ujian kehidupan, terkadang sebagian orang hanya memahaminya sebagai kesulitan atau cobaan hidup yang terasa berat untuk dijalani. Padahal, makna ujian sebenarnya tidaklah sesempit itu. Karena sering juga "ujian" yang diturunkan Tuhan kepada kita berwujud beragam kenikmatan atau kesenangan yang melenakan.

Lantas, bagaimana cara kita mengetahui bahwa beragam kenikmatan itu termasuk ujian Tuhan? Sebenarnya, cara untuk mengetahui apakah kenikmatan itu benar-benar berupa kenikmatan hakiki ataukah sebentuk ujian dari-Nya itu tidak terlalu sulit. Jika kenikmatan tersebut (misalnya berbentuk harta berlimpah) tidak kita manfaatkan dengan baik sesuai ketetapan-Nya (terlebih sampai membuat kita lalai beribadah kepada-Nya) maka kenikmatan semacam itu disebut sebagai ujian kehidupan yang berat dan harus kita waspadai.

Bila direnungi secara lebih mendalam, ujian kehidupan memang sebuah keniscayaan bagi setiap orang untuk menaikkan derajatnya agar menjadi insan yang lebih mulia di sisi-Nya, dengan catatan ia mampu melewati ujian tersebut dengan baik dan penuh kesabaran, tawakal, ikhlas, ridha terhadap apa pun ketetapan dari-Nya, dan selalu mengedepankan ketakwaan kepada Allah SWT.

Berbicara tentang ketakwaan, tentu setiap orang yang mengaku beragama Islam senantiasa mendambakan menjadi pribadi yang selalu bertakwa dari hari ke hari. Seseorang yang menjalani kehidupan tanpa adanya bekal ketakwaan di dalam jiwa, maka dapat dipastikan dia akan terjerumus ke dalam hal-hal yang melanggar perintah-Nya.

Sebenarnya, apa yang dinamakan dengan takwa, sehingga keberadaannya sangat menentukan kualitas kehidupan setiap orang? Jika kita merujuk pada catatan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dinamakan takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sementara itu, jika kita menilik catatan Wikipedia, definisi takwa (berdasarkan arti dalam bahasa Arab) adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dua Unsur Penting

Bila melihat dua definisi takwa yang nyaris tak ada perbedaan tersebut, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa takwa mengandung dua unsur penting yang saling keterkaitan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Satu sisi merupakan sebuah bentuk ketaatan atas setiap perintah Tuhan, sementara di satu sisi yang lain adalah sebuah upaya untuk menjauhi segala hal yang telah dilarang oleh-Nya.

Jika kita merunut pada keterangan dalam Al Quran, Surat Al-Baqarah ayat 3-4, orang yang bertakwa dapat diketahui ciri atau tandanya. Ciri ketakwaan yang pertama adalah beriman kepada Allah dan setiap hal yang gaib. Hal gaib di sini adalah setiap hal yang tidak kasat mata tapi nyata adanya dan hanya bisa diyakini oleh orang-orang yang beriman saja. Misalnya, percaya dan yakin dengan keberadaan para malaikat, surga dan neraka, dan lain sebagainya.

Ciri ketakwaan kedua adalah tidak pernah melalaikan salat lima waktu. Artinya, sesibuk apa pun dia, bahkan dalam kondisi apa pun (baik saat sedang sehat maupun sakit), dia tak pernah meninggalkan salat lima waktu. Ciri ketakwaan selanjutnya adalah mau menafkahkan sebagian rezeki (harta benda) yang dimilikinya di jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Misalnya, mengeluarkan harta untuk menunaikan zakat, membantu fakir miskin, membantu pembangunan masjid dan pondok pesantren, dan lain sebagainya.

Beriman kepada kitab-kitab Allah (Al Quran dan kitab-kitab yang turun sebelumnya) dan meyakini bahwa setelah kehidupan dunia akan ada kehidupan akhirat yang kekal merupakan dua ciri takwa berikutnya sebagaimana telah dijelaskan dalam Alquran.

Nah, setelah kita mengetahui ciri atau tanda ketakwaan, sekarang saatnya kita kembali merenungi; apakah selama ini kita sudah termasuk orang yang bertakwa kepada Allah SWT, atau masih dalam tahap menuju ketakwaan, atau bahkan sama sekali belum termasuk hamba yang bertakwa? Tentu, hanya diri kita masing-masing yang mampu untuk menjawabnya.

Harus kita akui, bahwa menjaga ketakwaan memang terkadang mudah diucapkan tapi dalam praktiknya kita terkadang merasakan kesulitan yang sangat. Hal ini dapat dibuktikan misalnya ketika kita sedang sibuk beraktivitas, secara sadar kita kerap lalai dengan panggilan salat lima waktu. Dengan alasan tak sempat, secara sadar sebagian orang lebih memenangkan urusan keduniawian daripada berhenti sebentar untuk mendirikan salat.

Dengan alasan terjebak macet atau takut telat tiba di tempat kerja, sebagian orang lebih mengorbankan dan menggadaikan waktu salatnya. Itulah kondisi diri sebagian dari kita, yang terkadang lebih merasa takut merugi di dunia daripada merugi kelak di akhirat. Padahal, harta dunia tak ada harganya sama sekali jika kita sampai meninggalkan kewajiban salat dan kewajiban-kewajiban lainnya yang merupakan tanda atau ciri ketakwaan.

Takwa Menurut Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib r.a. merupakan salah satu sahabat terdekat Rasulullah SAW, yang pernah membahas tentang definisi takwa secara komprehensif. Menurut beliau, ada empat kriteria seseorang disebut sebagai hamba yang bertakwa kepada-Nya. Pertama, orang disebut takwa jika dia merasa takut kepada Allah SWT.

Takut di sini tentu saja tidak sebatas takut lalu selesai. Sama sekali bukan seperti itu. Namun, takut yang dimaksud adalah takut sebenar-benarnya takut dengan cara selalu berupaya menaati setiap perintah Tuhan dan berusaha sekuat tenaga menjauhi segala apa yang telah dilarang oleh-Nya.

Kedua, setiap beramal (atau saat menjalankan berbagai aktivitas) selalu berlandaskan ajaran yang sudah ditetapkan dalam kitab suci Al Quran. Ketiga, memiliki sifat atau sikap qanaah (menerima) dengan ketetapan (rezeki) Allah yang sedikit.

Keempat, selalu siap sedia menghadapi datangnya hari akhir atau hari kiamat. Menghadapi hari akhir menyiratkan sebuah pemahaman bahwa dalam setiap situasi dan kondisi kita harus berjuang sekaligus berlomba-lomba dalam beramal kebajikan sebagai bekal kita dalam menghadapi kematian yang sewaktu-waktu datang menjemput.

Memang benar, bahwa rahmat atau kasih sayang Allah-lah yang kelak menjadi penentu; apakah kita termasuk orang-orang beruntung ataukah sebaliknya? Namun, kita juga harus memahami bahwa di sisi lain Allah juga telah menjanjikan bahwa barang siapa bertakwa kepada-Nya niscaya dia termasuk ke dalam orang-orang beruntung yang kelak menjadi penduduk surga keabadian-Nya.