Kamis, 01 Juni 2017

Demokrasi Bisa Jadi Janda Sekaligus Duda

Demokrasi Bisa Jadi Janda Sekaligus Duda
Dahlan Iskan  ;   Mantan CEO Jawa Pos
                                                        JAWA POS, 29 Mei 2017



                                                           
BANYAK pertanyaan yang diajukan ke saya. Khususnya dari golongan Tionghoa. Tetap amankah kami di Indonesia? Apakah benar Indonesia akan jadi Syria? Dan seterusnya.

Kalau kita ikuti media sosial, memang gawat. Seolah-olah. Serba-serem. Seolah-olah. Misalnya, sampai soal kuburan ayahanda Ahok di Belitung. Kuburan itu dirusak warga. Seolah-olah. Seperti pasti dan nyata. Disertai foto kaca pecah di bingkai foto ayah Ahok di batu nisannya. Lalu, saudara kandung Ahok digambarkan merasa terkucil. Pindah ke NTT. Yang mayoritas Kristen.

"Sudah Anda cek kebenarannya?" tanya saya. "Tolong jangan percaya dulu. Mungkin memang betul. Tapi mungkin saja tidak betul," jawab saya.

"Saya akan kirim wartawan ke kuburan tersebut segera. Sabar ya," pinta saya.

Golongan Tionghoa dan saya memang seperti sudah tidak berjarak. Apa saja biasa dicurhatkan kepada saya. Termasuk soal-soal yang sensitif seperti itu. Yang ngeri-ngeri. Kuburan orang tua termasuk bagian yang bisa membakar emosi.

Celoteh kebencian di media sosial (medsos) pun juga di-forward ke saya. Misalnya, soal kafir itu harus dibunuh. Soal meme gambar monyet. Dan banyak lagi.

Mereka tahu saya pribumi. Jawa. Islam. Dari pesantren. Bahkan pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin. Yang mengelola 120 madrasah. Yang pada tahun 1948 sangat menderita. Seluruh kiai pesantren kami dibunuh PKI. Korban PKI itu adalah pakde-pakde saya. Dimasukkan sumur. Hidup-hidup. Mereka juga tahu istri saya pribumi. Suku Banjar. Dari Kalimantan. Berjilbab.

Tapi, mereka juga tahu bahwa saya adalah ketua umum Barongsai Indonesia. Sudah aktif di barongsai sejak Orde Baru. Sejak barongsai masih dilarang. Saat itu saya juga belum tahu politik. Salah satu doa saya masih angudzubillahiminapolitikkotor.

Saya juga ikut di Yayasan Chengho. Istri saya anggota paduan suaranya. Saya sering tersenyum melihat istri manggung bersama para wanita Tionghoa. Kadang istri saya berbaju cheongsam. Menyanyikan lagu wo ai ni. Kadang yang Tionghoa berkerudung. Melantunkan salawat badar.

Diketahui juga bahwa saya sering ikut misa saat perayaan Natal. Ikut Imlek-nya Matakin. Ikut Waisak-nya Buddha. Buddha aliran apa saja. Termasuk ikut Buddha Tzu Chi.

Suatu saat saya diminta memberi sambutan atas nama umat Buddha. Di depan Presiden SBY. Yang belum jadi atasan saya. "Sampeyan ini memang Buddh-Is," celetuk menteri agama saat itu, Maftuh Basyuni. "Singkatan Buddha Islam," tambahnya, lantas tersenyum.

Merasa tidak ada jarak, curhat personal seperti berikut ini pun bisa terjadi. Yang awalnya membuat perasaan saya risi. Lalu saya sadari. Oh... iya. Agama kami tidak sama. Kultur kami berbeda. Ya sudah. Saya dengarkan saja. Dengan perasaan biasa. Inilah kisahnya:

"Untung lho Pak, ibu saya itu suka judi," katanya penuh semangat. Wajahnya penuh rasa bahagia. Aneh, pikir saya. Ibunya suka judi kok untung. Ibunya itu sudah tua. Sudah 76 tahun. Janda. Sendirian.

"Kenapa beruntung?" tanya saya.

"Saya tidak perlu menemani ibu terus. Saya bisa kerja. Tiap hari saya tinggal memberi uang sekian juta. Ibu saya bisa sibuk sehari penuh. Bersenang-senang. Berjudi dengan teman-teman seusianya," katanya. Dia gembira. Sudah merasa bisa berbakti kepada ibunya. Membahagiakannya.

Lain lagi dengan isi curhat di saat politik panas seperti belakangan ini. Semua berkaitan dengan politik. Termasuk kuburan tadi. Dan hubungan antar-ras. Mereka memang mengidolakan Ahok. Ada yang sampai nangis-nangis saat Ahok kalah. Hanya Ahok-lah orang hebat itu. Seolah-olah.

Saya juga suka Ahok. Mata Najwa pernah menggelari kami bertiga sebagai cowboy-nya Indonesia: Ahok, Bu Susi, dan saya.

Media sosial memang luar biasa membakar emosi. Sampai tidak lagi peduli mana info yang benar. Atau yang ngawur. Atau yang sengaja dingawur-ngawurkan. Mereka cenderung percaya begitu saja. Kebetulan lagi cocok dengan emosinya. Tidak perlu pikir panjang.

Dikira gampang untuk tiba-tiba menjadi Syria. Atau membunuh orang kafir. Ini sangat menakutkan. Mengerikan. Saya sangat memahami. Saya bisa merasakan ketakutan mereka itu. Apalagi memang benar-benar terjadi sampai ada iringan anak-anak yang nyanyiannya, "Bunuh, bunuh, bunuh si Ahok... Bunuh si Ahok sekarang juga" (lihat tulisan di JP edisi Minggu kemarin).

Padahal, menjadi Syria itu tidak gampang. Banyak sekali syaratnya. Dan untuk membunuh kafir, lebih banyak lagi rambunya. Syarat dan rambu itu sulit sekali dipenuhi di Indonesia. Tapi, medsos menggambarkannya berbeda. Seolah Indonesia akan jadi Syria besok pagi. Dan orang kafir dihabisi nanti malam.

Wartawan kami di Bangka Belitung bisa melihat kebalikannya. Kuburan itu baik-baik saja. Tidak ada gangguan sedikit pun. Sorenya saya suruh balik lagi ke kuburan itu. Lihat yang benar mengapa kaca itu retak.

Retakan itu ternyata sudah sangat lama. Menurut penjaga makam karena terik matahari. Kaca foto di makam lain juga ada yang seperti itu.

Adik Ahok sendiri, Basuri, akhirnya menjelaskan kepada wartawan kami. "Saya ini ke NTT urusan pekerjaan," katanya kemarin sore. "Dan berita kuburan itu hoax," tambahnya.

Pilkada Jakarta memang meninggalkan luka yang dalam. Yang minoritas merasa terluka. Tapi, yang mayoritas juga merasa terluka. Pemilu di AS juga meninggalkan luka yang dalam. Untuk kalangan minoritasnya.

Hanya, di AS, hukum bisa tegak. Minoritas bisa berlindung di balik hukum. Itulah yang masih sulit di Indonesia. Yang mayoritas pun tidak bisa mengandalkan hukum. Minoritas di AS masih lebih beruntung. Punya backing hukum yang kuat.

Di sini demokrasi masih pincang. Hukum belum bisa diandalkan. Dalam kepincangan seperti ini, alangkah indahnya yang mayoritas menjadi lebih pemaaf. Yang minoritas juga menjadi lebih mampu membaca situasi.

Kalah-menang sebenarnya biasa dalam demokrasi. Sepanjang hukum bisa tegak. Sayang, hukum masih jadi alat politik. Padahal, demokrasi tanpa tegaknya hukum ibarat suami istri tanpa rumah tangga bahagia.

Demokrasi bisa menjadi duda. Atau janda. Kalau penegakan hukum berselingkuh setiap harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar